Saat Manusia dan ”Matul” Hidup Bersama di Muria

kompas.id
18 jam lalu
Cover Berita

Hampir setiap hari sebelum matahari terbit, Sukaryo rutin naik ke lereng Gunung Muria merawat kebun kopi dan tanaman parijoto. Belakangan ini, dia dan warga setempat kerap bertemu macan tutul jawa atau Panthera pardus melas di Muria. Mereka hidup berdampingan di alam yang terjaga.

”Setengah tahun lalu, jam lima pagi saya ke hutan ketemu macan tutul. Saya mundur ke belakang, terus saya teriak. Setelah saya teriak, dia pergi naik ke atas. Macan tutul kalau enggak diganggu, ya, enggak apa-apa. Saya sering ketemu,” ujar Sukaryo (74), warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Kompas mendaki Lereng Muria bersama anggota Penggiat Konservasi (Peka) Muria, Selasa (16/12/2025). Meskipun kami tidak berjumpa satwa dilindungi tersebut, jejak kaki macan tutul juga bisa dijumpai di jalan pendakian yang becek tersiram hujan.

Saat ini, Lereng Muria menjadi rumah bagi 14 individu macan tutul jawa. Seiring pesatnya laju degradasi lahan dan perambahan hutan, keberlanjutan habitat macan tutul semakin terancam. Habitat yang tak lagi ideal juga memaksa macan tutul semakin sering masuk ke perkampungan memangsa ternak warga, mulai dari ayam hingga kambing.

Baca JugaElang di Langit Muria, Macan Tutul di Batas Hutan

Konflik antara warga dan macan tutul sering kali tak terhindarkan di 10 desa di Lereng Muria. Warga Dusun Pondokan, Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Syaiful Amri (33), mengungkapkan, jumlah ayam yang dimangsa oleh matul, sapaan akrab warga untuk macan tutul, tak lagi terhitung. Apalagi, warga cenderung memelihara ayam tanpa kandang di pekarangan rumah.

Macan tutul juga mengincar ternak yang berada di kandang, seperti kambing. Dalam dua tahun terakhir, frekuensi kehadiran macan tutul di permukiman warga terus meningkat.

”Kalau telanjur diserang, ya, kita ikhlaskan. Soalnya, kalau rumah di pegunungan udah seringlah dari saya kecil, tapi yang dua tahun ini sering banget-lah. Udah belasan kambing yang diserang matul. Kalau dulu paling satu (ekor), dua (ekor),” tambah Syaiful.

Untuk menghindari konflik antara warga dan macan tutul, Djarum Foundation turut terlibat dalam inovasi penguatan kandang di tiga desa. Di Dusun Pondokan, misalnya, penguatan kandang dilakukan di lima rumah warga serta kandang komunal kambing milik 25 warga. Sejak setahun terakhir, kandang warga diberi tambahan pengaman pagar kayu agar kepala ternak yang menjulur ke luar kandang ketika makan tak bisa dijangkau oleh macan tutul.

”Di kandang yang belum ada penguatan, kemarin sekitar bulan Oktober, sudah sekitar tiga atau empat kambing yang lepas kepalanya diserang matul. Hanya kepala yang lepas karena badan tak bisa ditarik dari kandang,” ujar Syaiful, sambil menunjukkan video kambing korban serangan macan tutul.

Meskipun efektif menangkal serangan macan tutul, belum semua warga bisa mengadopsi inovasi penguatan kandang karena terkendala biaya. Untuk kandang sepanjang 5 meter, penguatan kandang ini membutuhkan biaya sekitar Rp 2 juta.

Agar tak diserang macan tutul, warga lantas berinisiatif membuat instalasi lampu yang terang benderang di sekitaran kandang. Mayoritas warga memelihara kambing jenis jawa randu yang bernilai jual Rp 3 juta per ekor.

Warga juga mengamati perilaku macan tutul yang telah berubah menjadi hewan nocturnal yang akan mulai turun ke kampung sekitar pukul 22.00 atau 03.00 dini hari. Biasanya, macan tutul hanya menyambangi perkampungan pada bulan-bulan tertentu, terutama dari Februari hingga April untuk mencari mangsa.

Perambahan hutan

Sejak dulu, warga di Lereng Gunung Muria, yang berlokasi di tiga kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Kudus, Pati, dan Jepara, telah akrab macan tutul. Macan tutul juga dipercaya sebagai hewan sakral sahabat Sunan Muria. Pintu kayu makam Sunan Muria pun masih menampilkan jejak ukiran macan menjaga Gunung Muria. Hingga kini, warga akrab menyapa macan di Gunung Muria dengan sapaan kiai.

Tiap kali ada ternak yang diserang macan tutul, warga melapor kepada anggota Peka Muria, yang getol melakukan kegiatan konservasi di Lereng Muria. Peka Muria lahir sejak 2023 dan mayoritas anggotanya sebelumnya bergabung dengan komunitas Perkumpulan Masyarakat Pelindung hutan (PMPH) Muria.

Menurut Ketua Peka Muria Teguh Budi Wiyono, macan tutul tak pernah menyerang warga karena tergolong tipe hewan pemalu. Namun, dalam sebulan ini, macan tutul menyerang 12 kambing di tiga desa berdekatan. Makin tingginya frekuensi macan tutul turun ke perkampungan tak lepas dari masih maraknya perambahan hutan maupun alih fungsi lahan di Lereng Muria. Saat ini, luasan lahan hutan lindung di Muria hanya tersisa 2.000 hektar dari sebelumnya 11.000 hektar.

Baca JugaMenghadang Kepunahan Macan Tutul Jawa

Perambahan hutan di Muria marak terjadi pada peralihan antara era Orde Baru menuju era Reformasi sekitar tahun 1999. Alih fungsi lahan menjadi perkebunan kopi juga terus terjadi. Untuk memagari laju perambahan hutan, Teguh, misalnya, secara mandiri membeli lahan kopi di batas hutan sejak 2022. Sementara pembina Yayasan Peka Muria, Triyanto juga memagari batas hutan dengan membeli areal pertanaman parijoto, yang merupakan tanaman obat khas Muria.

Areal kopi di Muria sejatinya memiliki sejarah panjang. Sebagian tanaman yang masih tegak berdiri ditanam sejak era penjajahan Belanda. Anggota Peka Muria, Ridwan (35), juga memilih jadi petani kopi sejak dua tahun terakhir. Ia membeli lahan kopi produktif di tepi hutan lindung sekaligus sebagai pagar agar perambahan hutan tak meluas. Dari 500 tegakan pohon kopi, ia bisa memanen 2-3 ton kopi dengan harga Rp 60.000-Rp 70.000 per kilogram setiap musim panen.

”Semua yang ada di Muria tidak boleh hilang. Jadi, ada macan tutulnya, ada elang jawanya sebagai predator puncaknya, ada habitat binatang mangsanya juga harus dilestarikan. Makanya, kami berinisiatif supaya rumahnya, hutannya dilestarikan, nanti baru binatangnya ibaratnya, kerasanlah di situ,” tambah Teguh.

Teguh menuturkan, masyarakat berupaya memperbaiki ekosistem Muria dengan menanami hutan sambil ikut memantau kelestarian macan tutul. ”Kami juga menangani konfliknya. Setiap ada macan tutul turun ke bawah, ke kampung, makan ternak, kami tangani juga, supaya apa? Masyarakat bersama-sama kami ikut melestarikan macan tutul,” ujarnya.

Dari awalnya menghijaukan secara swadaya, Peka Muria mereboisasi kawasan Muria didampingi Djarum Foundation. Bantuan bibit, seperti pohon ficus dan bambu, yang sangat efektif memulihkan kembali mata air. Untuk penghijauan di luar kawasan hutan dilakukan dengan penananam tanaman buah yang bernilai ekonomis.

Pada 2016, macan tutul muria pertama kali terekam kamera jebak yang sengaja dipasang para pegiat konservasi di Muria. ”Perasaan kami waktu itu memang sungguh luar biasa. Setelah kami pasang perangkap kamera dan bisa membuktikan macan tutul nyata. Cuma bagaimana apakah ini masih bisa lestari?” kata Teguh.

Djarum Foundation terlibat dalam konservasi macan tutul di Muria sejak 2017. Dengan pendanaan dari Djarum Foundation pula, Peka Muria selanjutnya bekerja sama dengan Yayasan Sintas Indonesia memantau keberadaan macan tutul di Muria dengan pemasangan 80 kamera trap di 40 titik. Hasil pemantauan mendeteksi 14 individu macan tutul di Muria, yang terdiri dari 9 jantan dan 5 betina.

Satwa prioritas

Macan tutul jawa merupakan salah satu satwa langka prioritas nasional dan dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta terdaftar sebagai satwa terancam (endangered) dalam daftar merah satwa terancam IUCN dan Apendiks I CITES yang dilarang untuk diperdagangkan secara internasional.

”Estimasi populasinya sekitar 322 individu. Melestarikan satwa besar, seperti macan tutul, butuh sumber daya yang luar biasa besar, baik pendanaan, manusia, dan teknis. Sumber daya itu yang kita coba bangun, supaya ke depannya Jawa ini, tidak lagi menjadi pulau yang dilupakan kalangan pemerhati dan praktisi konservasi,” kata Direktur Sintas Indonesia Hariyo T Wibisono

Setelah pemantauan jumlah dan pergerakan macan tutul di Muria rampung dilakukan, Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation Jemmy Chayadi menjelaskan, Djarum Foundation ingin membangun semacam pusat riset macan tutul di Jawa Tengah. Kehadiran riset center ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan sekaligus menjadi bagian dari solusi bagi penyelamatan macan tutul ketika potensi konflik dengan masyarakat muncul.

Baca JugaMemuliakan Alam dan Budaya Lereng Muria

Tahun ini, Djarum akan fokus mempersiapkan masyarakat melestarikan macan tutul di Muria. ”Nanti kalau misalnya masyarakatnya sudah siap, Research Center ini bisa dipakai juga untuk bisa memberikan informasi kepada masyarakat yang datang, mahasiswa, atau mungkin misalnya dari gunung lain, mau belajar,” tambahnya.

Untuk program penghijauan, Djarum Foundation sudah memulai sejak tahun 1979 dari Kota Kudus. Setelah Kota Kudus menjadi lebih hijau, Djarum Foundation lalu mulai mengembangkan program penghijauan ke wilayah sekitar Kudus dengan penanaman di Lereng Gunung Muria sejak 2017, penghijauan di Perbukitan Pati Ayam, hingga merestorasi mangrove di pesisir Jawa Tengah dan menanam pohon trembesi di sepanjang jalur tol Jawa.

Di Muria, Djarum bekerja sama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara melakukan asesmen secara integratif dari segi sosial, kebutuhan ekologis, air, biodiversity, dan keanekaragaman hayati. ”Di sanalah akhirnya mulai pasang kamera trap. Ternyata dalam proses pembelajaran kami tahu, macan tutul jawa itu adalah apex predator terakhir di Jawa yang sudah hampir punah,” kata Jemmy.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Kawasan hutan dan perkebunan kopi yang menaungi lereng Gunung Muria di Kecamatan Colo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Selasa (16/12/2025). Pada beberapa waktu ini Djarum Bakti Lingkungan beserta sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan komunitas warga salah satunya Pegiat Konservasi Muria (Pekamuria) melakukan aktivitas perlindungan satwa endemik macan tutul (Panthera pardus melas) dan elang jawa (”Nisaetus bartelsi”). Kegiatan konservasi yang dilakukan tersebut untuk memastikan keberadaan macan tutul dan elang jawa dapat terlindungi di habitatnya di hutan lereng Gunung Muria.
Baca JugaElang di Langit Muria, Macan Tutul di Batas Hutan

Ditemui di Bogor, Jawa Barat, Jumat (12/12/2025), Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem Kementerian Kehutanan Nunu Anugrah menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya memperkuat penilaian Daftar Merah Nasional untuk meningkatkan efektivitas konservasi. Dalam RPJMN 5 tahun ke depan, pemerintah menargetkan peningkatan indeks daftar merah dari 0,75 pada 2024 menjadi 0,76 pada 2029.

”Sehingga harapannya upaya konservasi akan lebih efektif, investasi dan program termasuk kegiatannya cukup sistematis, multistakeholdalers sehingga status keterancaman spesies itu dapat menurun,” kata Nunu.

Dalam lima tahun ke depan, pemerintah bertekad mengawal sedikitnya 4.806 spesies yang diharapkan bisa menurun status keterancamannya, termasuk macan tutul jawa. ”Kita cukup optimistis ada banyak spesies yang usaha konservasinya sudah dilakukan cukup lama dan sangat baik sehingga itu bisa kita turunkan statusnya. Paling tidak semangatnya adalah upaya konservasi spesies dilakukan dengan cukup intens, didukung oleh semua stakeholders sehingga ke depan konsentrasi publik terhadap dukungan konservasi spesies juga akan terus meningkat,” tambahnya.

Pelestarian hewan terancam punah seperti macan tutul diharapkan juga terintegrasi dengan satwa lain semisal elang jawa yang berada di satu lanskap yang sama seperti di Muria. ”Saya kira itu bisa kita padukan dan kerja konservasinya bisa diintegrasikan. Untuk dua spesies ini sedang dilakukan upaya konservasi dengan kapasitas nasional. Pendanaannya, kemudian metodologi juga dilakukan dengan ide-ide dan gagasan-gagasan yang cukup kreatif dari anak bangsa,” ujarnya.

Untuk memperkuat perlindungan habitat satwa terancam punah, seperti macan tutul di Muria, Kementerian Kehutanan juga sedang mengkaji usulan tujuh kawasan konservasi baru di Pulau Jawa, termasuk Taman Hutan Raya (Tahura) Muria. ”Kita ingin melindungi sisa-sisa hutan yang ada di Pulau Jawa karena 60 persen penduduk Indonesia ada di Pulau Jawa sehingga meningkatkan perlindungan terhadap hutan-hutan tropis atau primer tersisa di Pulau Jawa ini menjadi sangat penting, ini menjadi prioritas kami,” tambah Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pengusaha Sawit Protes, Purbaya Tetap Berlakukan Aturan DHE untuk Tutup Kebocoran Devisa
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
Hasil Liga Inggris: Ditahan Liverpool, Arsenal Berjarak 6 Poin dari City & Villa
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Dul Jaelani rilis single, angkat kisah asmara yang jujur dan emosional
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Kemensos Bakal Salurkan Uang Lauk Pauk Rp 450.000 Per Bulan untuk Korban Bencana Sumatera
• 6 jam lalukompas.com
thumb
Pelindo Pastikan Operasional Pelabuhan Priok Normal Meski Ada Penumpukan Truk
• 1 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.