Mengintip Prospek Sektor Batu Bara di 2026, Masih Menarik?

idxchannel.com
18 jam lalu
Cover Berita

Prospek batu bara termal dunia masih akan menghadapi tekanan pada 2026 seiring melimpahnya pasokan global dan perlambatan permintaan.

Mengintip Prospek Sektor Batu Bara di 2026, Masih Menarik? (Foto: Freepik)

IDXChannel - Prospek batu bara termal dunia masih akan menghadapi tekanan pada 2026 seiring melimpahnya pasokan global dan perlambatan permintaan.

JPMorgan memproyeksikan harga acuan batu bara Newcastle akan bergerak di kisaran USD100 per ton, dengan kecenderungan melemah. “Kami masih bersikap waspada terhadap prospek batu bara termal,” kata analis JPMorgan, dalam risetnya pada 2 Desember 2025.

Baca Juga:
IATA dan Anak Usaha UNTR Gali Perdana Tambang Batu Bara di Musi Banyuasin

Tim komoditas global JPMorgan mencatat pasar LNG dunia tengah memasuki fase ekspansi pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada periode 2025-2035.

Pasokan baru, terutama dari Amerika Serikat (AS) dan Qatar, dijadwalkan mulai masuk pasar pada 2026, sehingga menekan permintaan terhadap gas dan batu bara.

Baca Juga:
Ini Pemilik Trimata Coal Perkasa, Perusahaan Tambang Batu Bara yang Mau Diakuisisi MEJA

Di sisi lain, pertumbuhan permintaan LNG di pasar-pasar utama seperti China, Korea Selatan, Jepang, dan Eropa dinilai melambat.

Peningkatan bauran energi terbarukan dan nuklir membuat ketergantungan terhadap gas dan batu bara terus berkurang.

Baca Juga:
Harga Batu Bara Global Anjlok, ESDM Pangkas RKAB 2026 Jadi Sekitar 600 Juta Ton

Dalam kondisi tersebut, JPMorgan menilai efisiensi biaya internal akan menjadi kunci bagi perusahaan tambang batu bara Indonesia pada 2026 untuk menjaga profitabilitas unit. Tekanan biaya diperkirakan meningkat seiring melemahnya harga jual.

Risiko lain yang disoroti adalah wacana pengenaan pengutan ekspor batu bara. JPMorgan menilai kebijakan ini berpotensi menekan laba secara signifikan dan mengurangi daya saing batu bara Indonesia di pasar seaborne global.

Secara global, JPMorgan memperkirakan pasar batu bara termal seaborne berada dalam kondisi surplus pada 2026, terutama akibat penurunan permintaan impor dari China. Penguatan harga yang sempat terjadi pada kuartal IV-2025 dinilai hanya bersifat sementara karena faktor musiman musim dingin.

Meski berhati-hati terhadap batu bara termal, JPMorgan justru lebih konstruktif terhadap batu bara kokas (coking coal). Prospek ini ditopang oleh pertumbuhan produksi baja di India, yang diperkirakan meningkat sekitar 10 persen secara tahunan pada 2027.

Ruang substitusi ke batu bara PCI dinilai semakin terbatas, sehingga membuka peluang kenaikan permintaan batu bara kokas.

Untuk katalis positif sektor, JPMorgan menyoroti tiga faktor utama. Pertama, potensi penurunan produksi batu bara domestik China dalam program anti-involution yang bisa mendorong impor dari Indonesia.

Kedua, pelemahan rupiah di tengah penguatan dolar AS yang menguntungkan emiten berpendapatan dolar AS. Ketiga, premi risiko geopolitik yang berpotensi menopang harga komoditas.

Sementara, risikonya meliputi penurunan impor China yang lebih dalam dari perkiraan, pelemahan lanjutan produksi baja global yang menekan permintaan batu bara metalurgi, serta pengetatan kebijakan ESG yang membatasi minat investor terhadap saham batu bara.

Dari sisi rekomendasi saham, JPMorgan memberikan neutral (N) untuk PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan underweight (UW) untuk PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Program buyback saham ITMG senilai Rp2 triliun atau sekitar 10 persen dari kapitalisasi pasar dinilai mampu menahan tekanan harga saham, meski potensi kenaikan terbatas seiring penurunan profitabilitas unit ke bawah USD15 per ton EBITDA.

Pada tingkat profitabilitas saat ini, JPMorgan mencatat imbal hasil dividen emiten batu bara Indonesia hanya sekitar 6-7 persen, yang dinilai kurang menarik.

Rekomendasi UW juga dipertahankan untuk PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) seiring pergeseran perusahaan ke siklus belanja modal (capex) agresif, sementara bisnis batu bara sebagai sumber kas utama justru melemah.

Sementara itu, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menjadi satu-satunya saham dengan rekomendasi overweight (OW). JPMorgan menilai eksposur ADMR terhadap batu bara kokas dan aluminium memberikan prospek lebih baik.

Menurut JPMorgan, operator smelter aluminium yang tidak terintegrasi secara vertikal diperkirakan diuntungkan oleh tambahan pasokan alumina dari Indonesia pada 2026, yang berpotensi menurunkan biaya produksi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kim Jong-Un Diyakini Ogah Diculik Trump Seperti Maduro, Nuklir Jadi Senjata untuk Jamin Keselamatan
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
BNPB Sebut Kondisi Alam Ekstrem Jadi Tantangan Utama Pascabencana
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
Alonso Kecam Keras Simeone 
• 4 jam lalurealita.co
thumb
Jadwal Persita vs Borneo FC dan PSM vs Bali United, Hari Ini Tayang Jam Berapa dan di Stasiun TV Mana?
• 14 jam lalumedcom.id
thumb
Libas Tim Sekota Madrid Tantang Barcelona di Final, Valverde Cetak Gol Spektakuler
• 18 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.