Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini kembali mengalami pelemahan. Pasalnya, dolar AS pada saat yang sama berhasil mengalami penguatan.
Mengutip data Bloomberg, Jumat, 9 Januari 2026, rupiah berada di level Rp16.832 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 34 poin atau setara 0,20 persen dari Rp16.798 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.796 per USD. Rupiah terpantau melemah dibandingkan perdagangan kemarin sebesar Rp16.780 per USD.
Baca Juga :
Dolar AS Menguat Tipis
(Ilustrasi. MI/Susanto)
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Menurutnya, pergerakan rupiah masih dibayangi berbagai sentimen global, terutama terkait kebijakan moneter Amerika Serikat.
Gubernur The Fed Stephen Miran menyatakan bahwa aktivitas bisnis di Amerika Serikat masih solid, namun tetap membutuhkan suku bunga yang lebih rendah. Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan pandangan Presiden The Fed Richmond Thomas Barkin, yang menilai suku bunga acuan saat ini berada di level netral, tidak mendorong maupun menghambat pertumbuhan ekonomi.
Ketidakpastian sikap bank sentral AS tersebut membuat pasar memperkirakan adanya dua kali pemangkasan suku bunga The Fed sepanjang 2026.Selain itu, pelaku pasar juga menanti rilis data penggajian non-pertanian (non-farm payrolls) AS periode Desember, yang akan dirilis pada Jumat waktu setempat, sebagai petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.
Faktor geopolitik turut memberikan tekanan terhadap pasar uang. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela menjadi perhatian utama investor global. Ketegangan geopolitik ini memicu peningkatan volatilitas di pasar keuangan dan turut memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Dari dalam negeri, pasar mencermati proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026. IMF, Bank Dunia, dan Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran lima persen.
Namun, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dapat mencapai enam persen, didukung oleh konsumsi domestik dan stabilitas sektor keuangan.


