Merebaknya kasus superflu yang berasal dari virus Influenza A (H2N3) subclade K tengah menjadi perhatian publik. Hingga saat ini, tercatat 62 kasus superflu di Indonesia yang tersebar di delapan provinsi. Jumlah tertinggi berada di Jawa Timur, dengan 23 pasien terkonfirmasi positif.
Menanggapi kondisi tersebut, dr. Windhu Purnomo Dosen Luar Biasa (LB) sekaligus ahli Public Health Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), menjelaskan bahwa secara klinis gejala superflu mirip dengan flu biasa.
“Secara umum gejalanya sama dengan flu biasa yaitu demam, batuk, dan pilek. Secara kasat mata sulit membedakan dengan flu biasa, namun apabila terdapat sesak nafas dan gejala sakit yang tidak kunjung sembuh maka perlu untuk diperiksakan lebih lanjut ke fasilitas kesehatan terdekat,” ungkapnya dalam keterangan yang diterima suarasurabaya.net, Jumat (9/1/2026).
Menurut dr. Windhu, untuk memastikan seseorang terinfeksi superflu, diperlukan pemeriksaan lanjutan di laboratorium. Yakni, melalui Whole Genome Sequencing (WGS) guna mendeteksi DNA virus H2N3 pada manusia.
Selain memiliki kemiripan gejala dengan flu biasa, superflu juga diketahui memiliki tingkat penularan yang lebih cepat. Meski demikian, Windhu menegaskan bahwa superflu bukan penyakit yang tergolong berbahaya.
“Meski demikian superflu termasuk jenis penyakit yang tidak begitu berbahaya. Bisa dilihat dari angka hospitalisasi dan fatalitas yang rendah. Dengan demikian, apabila imun tubuh kuat maka penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya. Namun penting untuk tidak memandang remeh penyakit superflu ini,” ungkapnya.
Pencegahan dengan PHBS Jadi Kunci
Dalam upaya pencegahan, dr. Windhu menekankan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Pasalnya, virus superflu menyebar melalui droplet, sehingga kebersihan diri menjadi faktor utama dalam memutus rantai penularan.
Cuci tangan secara rutin, memakai masker, olahraga teratur, serta istirahat yang cukup menjadi langkah sederhana namun efektif untuk mencegah infeksi.
“Gunakan masker dan tutupi hidung dan mulut saat batuk atau bersin. Droplet ini dapat menjadi media penularan superflu. Selain itu masyarakat perlu kritis dalam memilah informasi terkait superflu. Cari sumber informasi yang kredibel, jangan sampai menyebarkan hoax terkait superflu sehingga menimbulkan mispersepsi di masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Windhu menekankan pentingnya pemantauan rutin (surveilans) dalam mengendalikan penyebaran superflu. Pemerintah, menurutnya, perlu mendata masyarakat dengan gejala Influenza Like Illness (ILI) untuk selanjutnya dilakukan pengujian WGS.
“Masyarakat tidak perlu panik dengan penyakit ini, jaga kesehatan dan terus terapkan PHBS. Dalam menangani kasus ini, pemerintah harus memberikan informasi yang tepat dan data yang real. Jangan meremehkan bahayanya, namun jangan pula memberikan rasa takut di masyarakat,” ujarnya. (bil)




