Bisnis.com, JAKARTA — Inflasi China menguat dan mencatatkan laju tercepat dalam hampir tiga tahun terakhir. Namun, tekanan deflasi struktural masih membayangi perekonomian Negeri Panda.
Berdasarkan Biro Statistik Nasional (NBS) yang dirilis pada Jumat (9/1/2026), indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) China mencatat kenaikan tertinggi sejak Februari 2023 yakni tumbuh 0,8% secara tahunan, sejalan dengan perkiraan pasar.
Sementara itu, secara tahunan penuh, inflasi China tercatat 0%, level terendah sejak 2009.
Inflasi inti China, yang tidak memasukkan komponen volatil seperti pangan dan energi, tumbuh 1,2% untuk bulan ketiga berturut-turut. Di sisi lain, harga produsen atau producer price index (PPI) turun 1,9% secara tahunan, sedikit lebih baik dari perkiraan.
Di sisi lain, penurunan tersebut menandai kontraksi PPI selama 39 bulan berturut-turut, meski menjadi yang terkecil dalam lebih dari setahun.
Sebagai perekonomian terbesar kedua di dunia, China masih kesulitan keluar dari tekanan deflasi sejak pandemi berakhir. Pelemahan sektor properti dan lemahnya konsumsi domestik, ditambah kelebihan produksi di sejumlah industri, memicu kelebihan pasokan barang dan memaksa perusahaan memangkas harga demi bertahan.
Baca Juga
- Tekanan Trump, Venezuela Alihkan Ekspor US$2 Miliar Minyak dari China ke AS!
- China Batasi Ekspor ke Jepang, Sektor Otomotif & Teknologi Kena Dampak
Analis NBS Dong Lijuan mengakui bahwa kenaikan CPI pada bulan lalu terutama dipicu oleh lonjakan harga pangan. Harga pangan naik 1,1% secara tahunan—yang tercepat sejak Oktober 2024—dengan kenaikan harga sayuran melesat lebih dari 18%.
Namun, Dong menambahkan bahwa faktor lain juga turut berperan.
“Permintaan konsumsi rumah tangga meningkat seiring mendekatnya libur Tahun Baru, sementara kebijakan untuk memperluas permintaan domestik dan mendorong konsumsi terus menunjukkan dampak,” ujar Dong dalam pernyataan yang dilansir dari Bloomberg.
Meski inflasi konsumen telah bangkit dari zona negatif pada awal 2025, realisasinya tetap jauh di bawah target resmi pemerintah yang berada di kisaran 2%.
Deflator produk domestik bruto (PDB) China diperkirakan akan kembali mencatat penurunan untuk tahun ketiga berturut-turut hingga akhir 2025, menjadi periode kontraksi terpanjang sejak China beralih menuju ekonomi berbasis pasar pada akhir 1970-an. Sejumlah bank global, termasuk Morgan Stanley, menilai indikator harga terluas tersebut baru berpotensi kembali positif pada 2027.
Dalam Konferensi Kerja Ekonomi Pusat Partai Komunis China pada Desember 2025 lalu, para pejabat tinggi berjanji melanjutkan kampanye yang disebut sebagai “anti-involution”, yakni upaya meredam perang harga yang telah menggerus margin keuntungan berbagai industri, mulai dari kendaraan listrik hingga layanan pesan-antar makanan.
Namun, langkah-langkah yang ditempuh sejauh ini dinilai belum efektif di banyak sektor. Produsen otomotif global dan jaringan dealer di China masih melanjutkan pemangkasan harga agresif serta pemberian insentif pembelian pada awal 2026.
Terbatasnya kemajuan tersebut antara lain disebabkan kekhawatiran pemerintah terhadap risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Upaya pengurangan kapasitas di sektor baja juga berjalan lebih lambat dari perkiraan, menurut Goldman Sachs Group Inc., sehingga pabrik-pabrik baja China diperkirakan masih akan menghadapi tekanan margin dalam periode yang berkepanjangan.





