Kenapa Iran Tiba-tiba Memanggil Trump? Ini yang Sebenarnya Terjadi

erabaru.net
16 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Gelombang protes anti-pemerintah di Iran terus meningkat dan kini memasuki fase paling menentukan sejak pecah beberapa pekan terakhir. Hingga awal Januari 2026, organisasi perlawanan dilaporkan telah menguasai tiga kota, sementara aksi demonstrasi telah berubah menjadi gerakan nasional yang menjalar ke seluruh negeri.

Pada saat yang sama, fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya muncul di ibu kota Teheran. Sejumlah warga Iran secara terbuka menyampaikan seruan langsung kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan teriakan “tolong selamatkan kami” yang terekam dalam berbagai video di media sosial. Bahkan, di beberapa sudut kota, muncul papan nama jalan tidak resmi bertuliskan “Trump Street”, mencerminkan eskalasi keputusasaan publik terhadap situasi domestik.

Korban Jiwa dan Penangkapan Terus Bertambah

Menurut laporan Associated Press, rangkaian aksi protes yang meluas ini diperkirakan telah menewaskan sedikitnya 36 orang, sementara lebih dari 2.200 orang ditangkap oleh aparat keamanan. Selain itu, sedikitnya dua pejabat tinggi keamanan Iran dilaporkan turut tewas dalam kekacauan yang terjadi.

Saat ini, protes telah menyebar ke seluruh 31 provinsi Iran, mencakup 111 kota dan wilayah, menandai transformasi dari aksi sporadis menjadi perlawanan nasional berskala penuh. Seiring memburuknya situasi keamanan, sejumlah negara — termasuk Australia, Tiongkok, dan Rusia — telah mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warganya yang berada di Iran.

Aktivitas Militer Meningkat, Garda Revolusi Dikerahkan

Seorang pengguna platform X melaporkan bahwa Angkatan Udara Garda Revolusi Islam Iran kini aktif beroperasi di wilayah barat negara itu. Sejumlah helikopter dan jet tempur terpantau terbang rendah, sementara sistem pertahanan udara lokal diduga telah berada dalam kondisi siaga penuh.

Di kota Kord, Iran utara, kemarahan massa memuncak ketika patung mendiang komandan Garda Revolusi, Qassem Soleimani, diruntuhkan lalu dibakar oleh demonstran — sebuah simbol penolakan terbuka terhadap rezim.

Sementara itu, pemandangan mencengangkan terjadi di Abdanan, Iran barat. Ribuan warga turun ke jalan, namun aparat kepolisian setempat tidak melakukan penindakan. Sebaliknya, sejumlah polisi terlihat berdiri di atap kantor mereka sambil bertepuk tangan mendukung demonstran, menandai indikasi pembelotan aparat di lapangan.

Bentrokan Terbuka dan Seruan Bantuan ke AS

Video terbaru yang beredar memperlihatkan militer Iran dikerahkan secara darurat, menggunakan meriam air bertekanan tinggi untuk membubarkan massa. Pada saat yang sama, sebagian warga dilaporkan merebut senjata dari tangan tentara. Laporan lain menyebutkan bahwa kelompok pemuda bersenjata asal Suriah telah memasuki wilayah Iran, meski informasi ini masih sulit diverifikasi secara independen.

Dalam sejumlah rekaman video, warga Iran berbicara langsung ke kamera dan menyerukan: “Presiden Trump, tolong selamatkan kami seperti Anda menyelamatkan Venezuela. Kami sedang dibantai. Mohon kirim pasukan untuk mengakhiri mimpi buruk ini.”

Para analis menilai, perubahan sikap demonstran Iran yang kini secara terbuka meminta bantuan Trump sangat dipengaruhi oleh perkembangan di Venezuela. Pada 3 Januari 2026, pasukan khusus Amerika Serikat dilaporkan berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Kejadian tersebut memicu keyakinan di kalangan demonstran Iran bahwa tekanan ekstrem dan tindakan nyata dari Washington dapat memutus sumber pendanaan represi rezim Teheran.

Represi Meningkat, Khamenei Perintahkan Tindakan Keras

Di sisi lain, tindakan represif pemerintah Iran semakin brutal. Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan telah mengeluarkan perintah langsung kepada aparat keamanan untuk menindak keras massa.

Unit bersenjata dikerahkan ke kawasan permukiman utama Teheran. Rekaman menunjukkan penggunaan gas air mata di sekitar Rumah Sakit Sina serta pusat-pusat perbelanjaan, memicu kecaman luas karena membahayakan warga sipil.

Tiga Kota Jatuh, Posisi Strategis Direbut

Pada 7 Januari 2026, para demonstran dilaporkan berhasil menguasai Kota Kord, menjadikannya kota ketiga yang jatuh ke tangan kelompok perlawanan. Kota dengan populasi lebih dari 1,5 juta jiwa ini merupakan kota satelit terbesar Teheran serta simpul industri dan transportasi vital yang menghubungkan ibu kota dengan pesisir Laut Kaspia.

Sehari sebelumnya, pada 6 Januari 2026, organisasi protes Iran mengumumkan telah mengendalikan Abdanan dan Malekshahi. Dengan demikian, kini tiga kota resmi berada di bawah kendali kelompok perlawanan.

Para pengamat menilai perkembangan ini sebagai bukti bahwa gerakan anti-pemerintah Iran terorganisasi dengan baik, memiliki strategi jelas, dan memperoleh dukungan luas dari masyarakat. Kota demi kota mulai kehilangan kendali pemerintah pusat.

Bentrokan Sengit dan Seruan Mogok Nasional

Di kawasan Grand Bazaar Teheran, bentrokan berlangsung paling sengit. Aparat keamanan menembakkan gas air mata, sementara demonstran membalas dengan batu dan bom molotov. Video memperlihatkan seluruh kawasan pertokoan sempat dikuasai massa.

Di kota suci Mashhad, demonstran berhasil memukul mundur pasukan keamanan dan merebut sebagian perlengkapan mereka. Sejumlah kelompok perlawanan juga secara terbuka menyerukan mogok nasional.

Situasi serupa terjadi di Shiraz, kota bersejarah Iran, di mana demonstran memblokade jalan-jalan utama dan terlibat baku tembak dengan militer serta polisi. Jumlah massa sangat besar, semangat perlawanan tinggi, dan sebagian demonstran dilaporkan memiliki persenjataan sederhana. Mayoritas warga setempat disebut berpihak pada gerakan perlawanan.

Mahasiswi Gilan: “Ini Pertempuran Terakhir”

Di Rumah Sakit Sina, pasukan khusus Garda Revolusi dilaporkan mengepung sejumlah demonstran dan warga sipil. 

Sementara itu, di asrama mahasiswi Universitas Gilan, para mahasiswi secara serempak meneriakkan:“Ini adalah pertempuran terakhir. Pahlavi pasti akan kembali. Kebebasan! Kebebasan! Kebebasan!”

Fase Penentuan

Para analis sepakat bahwa beberapa hari ke depan akan menjadi fase paling krusial. Mobilisasi nasional masih terus berlangsung, dan arah perkembangan selanjutnya akan menentukan apakah gerakan perlawanan Iran mampu mencapai terobosan besar atau justru menghadapi represi yang lebih keras dari rezim.

Situasi di Iran kini menjadi sorotan dunia, dengan dampak geopolitik yang berpotensi meluas jauh melampaui kawasan Timur Tengah.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bintang Berharga Rp2,9 Triliun Diincar Chelsea jika Cole Palmer Dibajak Manchester City
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Prabowo Mengaku Kerap Ingin Disuap, Mengapa Pelakunya Tidak Ditangkap?
• 18 jam lalukompas.id
thumb
DPRD DKI Wanti-wanti Macet dan Genangan Saat Pembongkaran Tiang Monorel
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Baby Lobster di Bandara Soetta
• 8 jam lalueranasional.com
thumb
Pemerintah Berupaya Pulangkan 3 WNI yang Terjebak di Yaman
• 19 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.