jpnn.com, JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan penularan virus super flu sangat cepat, dan perlu diwaspadai.
Namun demikian Budi meminta masyarakat tak perlu panik terhadap influenza A subtipe H3N2, yang kerap disebut sebagai super flu ini.
BACA JUGA: Waspada! Penularan Virus Super Flu Sangat Cepat Â
"Buat pesan saya ke masyarakat, nomor satu, semua harus hati-hati dan sadar ada ini, tapi enggak usah panik," ujar Budi dikutip Jumat (9/1).
Budi menjelaskan di Indonesia jumlah kasus yang teridentifikasi terjangkit virus super flu masih terbatas.
BACA JUGA: 5 Orang di Sumsel Terjangkit Super Flu
“Dan enggak parah sih, artinya bisa dengan pengobatan biasa," kata Budi.
Budi menegaskab, super flu berbeda dengan COVID-19 yang penularannya cepat dan mematikan. Sebab, super flu ini sama seperti flu pada umumnya.
“Karena ini sama seperti flu biasa, bukan seperti Covid yang dulu-dulu varian delta mematikan,” sambungnya.
Namun, Budi tetap mengingatkan masyarakat untuk menerapkan langkah pencegahan sederhana.
“Walaupun ternyata di lingkungan banyak yang batuk-batuk, untuk precaution memakai masker dan lanjut cuci tangan sama seperti (saat) Covid-19,” jelasnya.
Karena itu Budi mengimbau kepada masyarakat untuk menerapkan hidup sehat. Sebab, jika imunitas bagus maka bisa menekan risiko penularan super flu.
"Kalau sistem imunitas bagus, makannya cukup, tidurnya cukup, olahraganya cukup, Insyaallah kalau ada virus masuk, dan virusnya lemah seperti yang super flu ini, bisa sembuh,” katanya.
Influenza A subtipe H3N2, yang kerap disebut sebagai super flu telah terdeteksi masuk ke Indonesia sejak 25 Desember 2025.
Bahkan di Sulawesi Selatan, Yogyakarta dan Jawa Barat, dan Jawa Timur sudah melaporkan adanya kasus penularan dari virus super flu ini.
Virus H3N2 super flu ini berbahaya bagi balita, lansia, penderita penyakit kronis, komorbidtas.
Kemudian penyakit jantung bawaan pada anak, kardiovaskular pada dewasa, penderita kanker, dan pasien dengan obat yang menekan imunitas.
Penderita super flu akan mengalami, batuk, sakit tenggorokan, hidung berair atau tersumbat, demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, sakit kepala dan kelelahan.(mcr10/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul


