Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) kembali menuai sorotan setelah menyatakan bahwa kekuasaannya sebagai kepala negara tidak dibatasi oleh hukum internasional, melainkan hanya oleh moralitas pribadinya sendiri.
Pernyataan kontroversial itu disampaikan Trump dalam wawancara terbaru dengan The New York Times, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik terkait Venezuela, Greenland, hingga hubungan AS dengan Rusia dan China.
“Saya tidak membutuhkan hukum internasional. Satu-satunya hal yang bisa menghentikan saya adalah moralitas saya sendiri, pikiran saya sendiri,” ujar Trump seperti dilansir The Guardian, Jumat (9/1/2026).
Meski demikian, Trump mengklaim tidak berniat menyakiti siapa pun. “Saya tidak ingin menyakiti orang,” katanya.
Namun saat ditanya apakah pemerintahannya perlu mematuhi hukum internasional, Trump menjawab, “Saya patuh, tapi itu tergantung definisi hukum internasional yang mana.”
Ambisi Kuasai Greenland
Dalam wawancara tersebut, Trump juga menyinggung ketertarikan AS untuk menguasai Greenland. Ia menekankan bahwa kepemilikan wilayah memiliki nilai strategis dan psikologis yang tidak bisa digantikan oleh perjanjian atau traktat semata.
“Kepemilikan itu sangat penting. Karena secara psikologis itu dibutuhkan untuk kesuksesan. Kepemilikan memberi hal-hal yang tidak bisa didapat hanya dengan menyewa atau menandatangani dokumen,” ucapnya.
Pernyataan ini muncul di tengah laporan bahwa pemerintah AS tengah mengkaji berbagai opsi untuk mengambil alih Greenland, wilayah otonom milik Denmark yang kaya sumber daya dan strategis secara militer.
Pada kesempatan itu, Trump juga menepis anggapan bahwa langkah AS menggulingkan Nicolás Maduro Presiden Venezuela bisa menjadi preseden bagi China untuk merebut Taiwan, atau Rusia menguasai Ukraina.
Ia kembali mengulang klaim kontroversial bahwa Maduro telah mengirim anggota geng kriminal ke Amerika Serikat.
“Ini adalah ancaman nyata. Kejahatan dan narkoba tidak mengalir ke China, tidak mengalir ke Rusia seperti yang terjadi pada kami,” ujar Trump.
Terkait Taiwan, Trump mengaku yakin bahwa Xi Jinping Presiden China tidak akan mengambil langkah militer selama dirinya masih menjabat.
“Itu tergantung dia, tapi saya sudah menyampaikan bahwa saya akan sangat tidak senang jika itu terjadi. Saya tidak pikir dia akan melakukannya saat saya menjadi presiden.”
Trump juga tampak santai menanggapi perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara AS dan Rusia yang akan berakhir bulan depan.
Menurutnya, jika perjanjian tersebut kadaluwarsa, maka dia mengklaim bisa membuat yang lebih baik. Ia bahkan menyebut bahwa China seharusnya dilibatkan dalam perjanjian senjata global di masa depan.
“Anda mungkin ingin melibatkan beberapa pemain lain juga,” ujarnya. (bil/ipg)




