Jakarta, VIVA – Tiongkok melaporkan inflasi nasional meningkat untuk bulan Desember 2025. Kenaikan ini merupakan level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir akiabt meningkatnya belanja masyarakat jelang libur Tahun Baru serta tekanan deflasi di tingkat produsen masih bertahan yang mencerminkan lesunya daya beli domestik.
Data Biro Statistik Nasional Tiongkok (National Bureau of Statistics/NBS) mengumumkan inflasi melonjak 0,8 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini juga sesuai dengan perkiraan para ekonom seklaigus level tertinggi sejak Februari 2023,
Secara bulanan (month to month), Inflasi naik tipis 0,2 persen atau lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 0,1 persen. Sepanjang tahun 2025, inflasi Tiongkok terpantau stagnan dan gagal mencapai target nasional di kisaran 2 persen.
Source : vstory
Kondisi ini mengindikasikan berbagai stimulus yang telah digelontorkan Beijing, seperti program tukar tambah barang konsumsi, belum mampu mendorong daya beli masyarakat secara signifikan.
Dikutip dari CNBC Internasional pada Jumat, 9 Januari 2026, pendorong utama lonjakan inflasi dan kenaikan harga sayuran segar sebesar 18,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tajam ini dipicu gangguan pasokan akibat musim dingin yang ekstrem. sedangkan, harga daging babi turun drastis 14,6 persen secara tahunan.
Inflasi inti, yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi yang volatil, tercatat meningkat 1,2 persen yoy pada Desember 2025. Angka ini tidak berubah dibandingkan bulan sebelumnya dan menunjukkan tekanan harga inti masih relatif terbatas.
Kepala Ahli Statistik NBS, Dong Lijuan, menyoroti lonjakan tajam harga emas perhiasan sebesar 68,5 persen dipicu tingginya permintaan global terhadap logam mulia di tengah kekhawatiran resesi dan ketidakpastian pasar. Menurutnya, kenaikan signifikan ini turut berkontribusi terhadap tingginya inflasi nasional
Di sisi lain, tekanan deflasi di tingkat produsen masih berlanjut. Indeks harga produsen (producer price index/PPI) turun 1,9 persen yoy pada Desember 2025, sedikit lebih baik dari perkiraan penurunan 2 persen.
Penurunan ini menandai berlanjutnya tren deflasi produsen selama lebih dari tiga tahun, meski lajunya melambat dari kontraksi 2,2 persen pada November. Pelemahan tersebut sebagian tertahan oleh kenaikan harga material logam non-ferrous.


