FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dian Sandi Utama, kembali bicara mengenai materi stand up comedy Pandji Pragiwaksono yang belakangan menuai pro dan kontra.
Dian secara terbuka menyinggung adanya kelompok tertentu yang, menurutnya, selalu memberi dukungan penuh kepada siapa pun yang menyerang pemerintah, khususnya Presiden ke-7, Jokowi dan anaknya, Gibran Rakabuming Raka.
Dikatakan Dian, dukungan tersebut tidak semata soal kritik, melainkan lebih pada pelampiasan emosi politik dari kelompok yang merasa kehilangan figur pemimpin.
“Jangankan video yang tayang di Netflix. Video anak-anak geng motor asal berani serang pemerintah, hina-hina Pak Jokowi dan keluarga juga pasti mereka akan dukung habis!” ujar Dian kepada fajar.co.id, Jumat (9/1/2026).
Ia kembali menegaskan, setiap serangan terhadap pemerintah, terutama yang menyasar Jokowi dan keluarganya, hampir selalu mendapat sambutan meriah dari kelompok tersebut.
“Siapapun serang Pemerintah dan hina-hina Pak Jokowi dan keluarga mereka pasti dukung dan ramaikan,” lanjutnya.
Dian menyebut kelompok itu sebagai pihak yang kehilangan arah kepemimpinan, sehingga membutuhkan ruang untuk menyalurkan emosi dan kekecewaan.
“Mereka ini kelompok yang kehilangan pemimpin, mereka butuh saluran emosi,” ucapnya.
Ia juga mengatakan bahwa kelompok tersebut jumlahnya tidak besar, namun kerap menimbulkan kegaduhan di ruang publik. “Kelompok ini sedikit tapi ribut dan tidak takut dosa,” sindir Dian.
Saat disinggung soal isu pengerahan buzzer pendukung Jokowi dan Gibran untuk mengimbangi narasi tersebut, Dian justru menekankan bahwa tidak perlu ada reaksi berlebihan, termasuk terhadap materi komedi yang disampaikan Pandji.
“Komika kenapa harus dibantah, biarin aja orang lagi nyari duit,” tandasnya.
Sebelumnya, Pandji menegaskan, Mens Rea tidak dibuat untuk menyerang kelompok atau pihak tertentu.
Dikatakan Pandji, banyak orang keliru memahami arah materi yang ia bawakan di atas panggung.
“Orang berpikir Mens Rea itu dibikin untuk nyenggol ini, nyenggol itu,” ujar Pandji dikutip pada Selasa (6/1/2026).
Namun, ia menekankan bahwa sasaran utama dalam spesial show tersebut justru adalah masyarakat luas. “Yang disenggol oleh Mens Rea, rakyat Indonesia,” tegasnya.
Pandji menjelaskan, sejak awal hingga akhir pertunjukan, materi stand up yang ia bawakan bertujuan untuk mengajak penonton lebih sadar akan peran mereka dalam sistem demokrasi.
“Dari awal sampai akhir, materi stand up dalam Mens Rea itu untuk bikin semua orang yang tahu dia adalah bagian dari negara demokrasi untuk lebih baik menjadi bagian dari demokrasi,” katanya.
Ia juga menyinggung soal kondisi politik nasional yang kerap dipersoalkan publik.
Kata Pandji, situasi politik tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada elite atau lembaga negara semata. “Gua ngerasa kondisi politik kita itu sebenarnya tanggung jawab kita juga,” ucapnya.
Pandji menekankan, masyarakat sering kali gemar menyalahkan DPR dan pemerintah tanpa bercermin pada realitas bahwa wakil rakyat merupakan cerminan dari masyarakat itu sendiri.
“Cuma kita sering banget, ih salah ini, salah ini, DPR kacau. Lah DPR kan rata-rata rakyat,” Pandji menuturkan. “Ia melanjutkan, Kan perwakilan rakyat, rata-rata rakyat kayak gitu ya lu dapet orang kayak gitu,” tambahnya.
Karena itu, Pandji mengajak masyarakat untuk mulai berbenah jika menginginkan perubahan dalam dunia politik.
“Kalau nggak pengen dapat orang kayak gitu, yah benahi diri kita. Gue jamin sejamin-jaminnya,” timpalnya.
Terkait Mens Rea, Pandji mengklaim pertunjukan tersebut dirancang agar bisa dinikmati oleh semua kalangan, baik yang paham politik maupun yang awam.
“Orang nggak ngerti politik, masuk Mens Rea, keluar ngerti. Gue jamin. Belum tentu suka, tapi ngerti,” terang dia. (Muhsin/fajar)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5442589/original/065108700_1765545595-20251212BL_Timnas_Indonesia_U-22_Vs_Myanmar_SEA_Games_2025-46.jpg)