Kampus Berkualitas Global tapi Berdampak Lokal

kumparan.com
15 jam lalu
Cover Berita

Coba bayangkan ketika seorang petani tua berjalan di depan gerbang suatu kampus besar dan megah, atau ketika seorang ibu penjual sayur menuntun sepeda dengan belasan kantung plastik penuh dagangan dan melihat mahasiswa berlalu-lalang, lalu ada satu pertanyaan esensial yang muncul: Sejauh mana kehadiran institusi pendidikan tinggi tersebut benar-benar menyentuh dan memberi kontribusi kepada kehidupan mereka dan keluarga?

Pertanyaan di atas bukanlah sekadar retorika, melainkan refleksi mendalam tentang hakikat dan tanggung jawab pendidikan tinggi di Indonesia yang masih terjebak dalam sindrom menara gading.

Pendidikan tinggi di Indonesia telah lama mengidap penyakit kronik yang diistilahkan sebagai Sindrom Menara Gading atau Ivory Tower Syndrome, yaitu sebuah kondisi di mana kampus berdiri kokoh dengan tembok-tembok akademis yang tinggi, namun terputus dari realitas sosial-ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Fenomena ini bukan hanya ironi, tetapi juga tragedi intelektual yang mengkhianati esensi pendidikan sebagai instrumen transformasi sosial.

Kampus-kampus terkemuka seringkali bangga dengan peringkat, baik nasional apalagi internasional, publikasi ilmiah, dan prestise akademik, namun buta terhadap kemiskinan yang mengepung dan mengelilingi mereka.

Paradoks ini semakin mengental ketika kita menyaksikan bagaimana kampus-kampus elit menjadi enklave eksklusif bagi kalangan menengah ke atas, sementara masyarakat lokal yang seharusnya menjadi beneficiary utama justru terpinggirkan.

Ironi dan Paradigma yang Terjebak

Petani di sekitar kampus yang memiliki Fakultas Pertanian terpaksa menjual tanah untuk biaya kuliah di kampus swasta yang kualitasnya tentu berbeda dengan kampus negeri, sementara kampus negeri bergengsi yang dibangun di atas tanah leluhur mereka yang dibeli pemerintah tercogok di depan mata mereka dan akan tetap menjadi mimpi yang tak terjangkau.

Ironi yang lebih pahit lagi adalah ketika riset-riset canggih tentang pertanian berkelanjutan dilakukan di laboratorium yang berjarak hanya beberapa kilometer dari sawah yang gagal panen karena kurangnya pengetahuan teknis.

Akar permasalahan ini terletak pada paradigma pendidikan tinggi yang masih terjebak dalam dikotomi palsu antara kualitas global dan berdampak lokal.

Sebagian besar kampus terkemuka di Indonesia mengira bahwa untuk mencapai standar internasional, mereka harus mengadopsi model kampus barat yang individualistik dan kompetitif, sambil mengabaikan konteks sosial-kultural Indonesia yang komunalistik.

Akibatnya, lahirlah institusi-institusi yang secara akademis mungkin unggul, namun secara sosial steril dan tidak bermakna bagi transformasi masyarakat.

Antitesis Kekeliruan Paradigma

Konsep Kampus Berkualitas Global tapi Berdampak Lokal hadir sebagai antitesis terhadap paradigma yang keliru ini. Konsep ini tidak menawarkan kompromi setengah hati, melainkan sintesis dialektis yang mengintegrasikan kepiawaian akademik dengan komitmen sosial.

Kampus berkualitas global dalam konteks ini bukan berarti mengejar peringkat dunia dengan mengorbankan relevansi lokal, melainkan mencapai standar internasional justru melalui kedalaman dan keaslian kontribusinya terhadap masyarakat lokal.

Bayangkan sebuah kampus yang penelitian unggulannya lahir dari pergumulan nyata dengan persoalan masyarakat sekitar. Ketika Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian tidak hanya mengajarkan teori-teori canggih tentang teknologi tepat guna, tetapi juga membangun laboratorium komunitas di desa-desa sekitar kampus, di mana mahasiswa dan dosen bekerja bersama petani untuk mengembangkan inovasi pertanian yang benar-benar dibutuhkan. Ketika Fakultas Ekonomi tidak hanya mengkaji teori-teori pembangunan ekonomi, tetapi juga mendampingi UMKM lokal untuk mengimplementasikan strategi bisnis yang berkelanjutan.

Model seperti ini bukanlah utopia, melainkan kenyataan yang dapat dipraktikkan. Pengalaman penulis sebagai dosen tamu di Jomo Kenyatta University of Agriculture and Technology (JKUAT) di Juja, Kenya, memberikan wawasan berharga tentang bagaimana sebuah kampus dapat mempertahankan standar akademik internasional sambil tetap berakar kuat pada komunitas lokalnya. JKUAT telah membuktikan bahwa komitmen terhadap masyarakat lokal justru memperkuat reputasi nasional dan internasional mereka.

Penulis melihat begitu banyak peneliti luar negeri yang bekerjasama dengan peneliti lokal untuk mengeksplorasi kekayaan keragaman hayati alam mereka. Program beasiswa khusus untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu di sekitar kampus tidak hanya membuka akses pendidikan, tetapi juga menghasilkan lulusan-lulusan yang memiliki pemahaman mendalam tentang realitas sosial dan komitmen untuk kembali mengabdi pada komunitasnya.

Saya merasa sangat terkesan bagaimana JKUAT mengintegrasikan riset pertanian dengan kebutuhan nyata petani lokal. Mahasiswa-mahasiswa tidak hanya belajar teori di ruang kuliah, tetapi juga bekerja langsung dengan perkebunan besar yang banyak dijumpai di sana, dan juga petani-petani kecil di sekitar kampus untuk mengembangkan teknologi pertanian yang applicable dan affordable.

Hasilnya adalah inovasi-inovasi yang tidak hanya sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar, tetapi juga benar-benar meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani dan masyarakat lokal.

Revolusi Mental, Akses dan Kurikulum

Implementasi konsep ini memerlukan revolusi mental yang mendasar dalam cara kampus memandang dirinya. Kampus harus berani keluar dari zona nyaman akademis dan memposisikan diri sebagai agen perubahan sosial. Hal ini dimulai dengan mengubah sistem penerimaan mahasiswa yang selama ini bias terhadap kalangan urban dan mampu secara ekonomi.

Sistem kuota yang memberikan kesempatan khusus bagi lulusan SMA di sekitar kampus bukan bentuk diskriminasi positif yang menurunkan kualitas, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan sumber daya manusia yang memahami dan peduli terhadap persoalan lokal.

Namun, akses saja tidak cukup. Kurikulum pendidikan tinggi juga harus direformasi untuk mengintegrasikan pembelajaran berbasis komunitas. Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga di sawah, di pasar tradisional, di pemukiman kumuh, dan di berbagai ruang kehidupan masyarakat. Metode pembelajaran seperti ini tidak hanya memberikan pengalaman praktis, tetapi juga menumbuhkan empati dan kesadaran sosial yang akan membentuk karakter lulusan.

Tantangan terbesar dalam implementasi konsep ini adalah perubahan mindset dari para stakeholder kampus itu sendiri. Dosen-dosen yang terbiasa dengan riset akademis murni mungkin akan merasa canggung untuk terlibat dalam riset-riset terapan yang langsung menyentuh persoalan masyarakat.

Mahasiswa yang terbiasa dengan pembelajaran teoretis mungkin akan merasa tidak nyaman ketika harus berinteraksi langsung dengan masyarakat. Birokrasi kampus yang terbiasa dengan sistem administrasi yang kaku mungkin akan kesulitan untuk mengakomodasi fleksibilitas yang dibutuhkan dalam program-program berbasis komunitas.

Diperlukan Transformasi Kepemimpinan

Oleh karena itu, transformasi ini memerlukan kepemimpinan yang visioner dan berani mengambil risiko. Rektor dan para dekan harus menjadi champions yang tidak hanya berbicara tentang tanggung jawab sosial kampus, tetapi juga menciptakan kebijakan dan insentif yang mendorong seluruh sivitas akademika untuk terlibat aktif dalam program-program pengembangan masyarakat. Sistem evaluasi kinerja dosen, misalnya, harus memasukkan kontribusi terhadap masyarakat sebagai salah satu indikator utama, bukan hanya publikasi ilmiah di jurnal internasional.

Kemitraan dengan berbagai pihak juga menjadi kunci keberhasilan. Pemerintah daerah harus dilibatkan sebagai mitra strategis yang tidak hanya menyediakan dukungan kebijakan, tetapi juga mengintegrasikan program-program kampus ke dalam rencana pembangunan daerah.

Dunia industri perlu diajak untuk melihat kampus bukan hanya sebagai penyedia tenaga kerja, tetapi sebagai mitra dalam pengembangan inovasi dan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat sipil dan organisasi-organisasi lokal harus ditempatkan sebagai mitra setara yang memiliki pengetahuan dan wisdom yang tak ternilai.

Ukuran keberhasilan kampus dengan konsep ini tidak lagi hanya dilihat dari peringkat internasional atau jumlah publikasi, tetapi dari seberapa nyata kontribusinya terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar. Ketika angka kemiskinan di sekitar kampus turun, ketika UMKM lokal berkembang dengan bantuan teknologi dan manajemen dari kampus, ketika anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapat akses pendidikan tinggi berkualitas, ketika inovasi-inovasi yang dihasilkan kampus benar-benar applicable dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Sesungguhnya itulah indikator sejati kualitas sebuah kampus.

Mengembalikan Esensi Kampus ke Misi Utamanya

Konsep Kampus Berkualitas Global tapi Berdampak Lokal pada akhirnya adalah tentang mengembalikan pendidikan tinggi pada misi fundamentalnya: mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukan hanya mencerdaskan segelintir elite yang sudah mapan secara finansial, tetapi mencerdaskan seluruh lapisan masyarakat melalui berbagai bentuk kontribusi yang kreatif dan inovatif. Kampus yang berhasil menjalankan konsep ini akan menjadi kebanggaan bukan hanya karena prestise akademisnya, tetapi karena jejak transformasi sosial yang ditinggalkannya.

Perubahan ini memang tidak mudah dan tidak akan terjadi dalam semalam. Namun, jika kita percaya bahwa pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi pada kemajuan masyarakat, maka tidak ada pilihan lain selain memulai transformasi ini sekarang juga. Karena pada akhirnya, kampus yang truly great bukan yang berdiri megah namun mengisolasi diri dan sekaligus terisolasi oleh masyarakat sekitarnya, melainkan yang berakar kuat di tanah tempat ia berdiri dan berbuah manis untuk seluruh komunitas di sekitarnya.

(Tulisan ini adalah hasil pemikiran Penulis dan tidak terafiliasi dengan institusi tempat Penulis bekerja)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kejagung Wanti-wanti Transaksi Perkara Usai KUHP-KUHAP Baru Berlaku: Laporkan!
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
BNPB Sebut Drainase di Sejumlah Titik di Aceh Tamiang Masih Tersumbat Lumpur
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
2.749 Personel Gabungan Disiagakan Amankan Laga Persib vs Persija
• 21 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Peran Penting Anak Muda Membangun Rasa Kemanusiaan Hingga Mitigasi Bencana
• 16 jam laludisway.id
thumb
3 Drakor Adaptasi Webtoon Terbaru Tayang Januari 2026, Wajib Nonton!
• 21 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.