Defisit APBN Hampir 3 Persen, BKPM Pastikan Tak Kurangi Minat Investasi Asing

idxchannel.com
15 jam lalu
Cover Berita

Kementerian Investasi dan Hilirisasi atau BKPM memastikan defisit APBN hampir 3 persen tak memengaruhi minat investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia.

Defisit APBN Hampir 3 Persen, BKPM Pastikan Tak Kurangi Minat Investasi Asing. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Kementerian Investasi dan Hilirisasi atau Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memastikan defisit APBN per Desember 2025 sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) tidak memengaruhi minat investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia.

Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal BKPM, Nurul Ichwan, menyampaikan investor pada dasarnya tidak terlalu mencemaskan isu defisit fiskal, karena keputusan investasi lebih banyak ditentukan oleh potensi pasar dan efisiensi bisnis di dalam negeri.

Baca Juga:
Usai Kampung Haji, Danantara Bakal Jajaki Peluang Investasi di WEF Davos 2026

Menurutnya, saat mempertimbangkan investasi di Indonesia, pelaku usaha global lebih fokus pada kekuatan permintaan domestik, daya beli masyarakat, serta peluang ekspor yang dapat diciptakan dari basis produksi di Tanah Air.

Selain itu, kedekatan Indonesia dengan sumber bahan baku dan pasar regional menjadi faktor penting yang meningkatkan daya saing biaya.

Baca Juga:
BKPM Optimistis Target Investasi Rp2.100 Bisa Tercapai Lewat Kehadiran Danantara di WEF

"Efisiensi yang bisa dimunculkan oleh Indonesia karena kedekatan dengan pasar, bahan baku, serta keunggulan regulasi yang ada justru menjadi nilai positif bagi investor," ujarnya saat ditemui di Wisma Danantara, Jumat (9/1/2026).

Ia menjelaskan, isu apakah produk hasil investasi akan diserap melalui proyek pemerintah atau belanja negara bukanlah faktor utama dalam perhitungan investor. Pemerintah hanyalah salah satu alternatif pasar, bukan satu-satunya penopang keberlanjutan usaha.

Baca Juga:
Indonesia Raih Komitmen Investasi Rp450 Triliun di World Expo 2025 Osaka

"Tidak selalu negara yang harus menyerap produk-produk mereka. Investor melihat market secara lebih luas, baik domestik maupun ekspor," katanya.

Dengan pendekatan tersebut, Nurul Ichwan menilai komitmen pemerintah menjaga disiplin fiskal melalui defisit APBN maksimal 3 persen justru memperkuat kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi makro Indonesia. Stabilitas fiskal dinilai penting untuk menjaga iklim investasi yang kondusif dalam jangka panjang.

Pemerintah menargetkan peningkatan realisasi investasi melalui percepatan hilirisasi, penguatan kawasan industri, serta penyederhanaan perizinan berusaha. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mendorong arus investasi baru meskipun ruang fiskal tetap dijaga ketat.

(Febrina Ratna Iskana)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Natal di Beijing, Dubes Djauhari ajak WNI kenalkan Indonesia di China
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Telkomsel Kembangkan Inovasi 5G dan AI untuk Perkuat Ekonomi Digital Indonesia
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sempat Tembus 9.002, IHSG Sepekan Melesat 2,16 Persen & Kapitalisasi Rp 16.301 T
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
KOREA 360 Gandeng Minho Shinee & HIGHLIGHT untuk Gelar Jumpa Penggemar Bulan Ini
• 20 jam lalucumicumi.com
thumb
BNPB Sebut Kondisi Alam Ekstrem Jadi Tantangan Utama Pascabencana
• 15 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.