Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan kinerja kinclong industri pengelolaan investasi pada 2025. Adapun, dana kelolaan atau asset under management (AUM) reksa dana melonjak hingga 35,94% pada 2025.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menjelaskan AUM di industri pengelolaan investasi secara keseluruhan mencapai Rp1.033,81 triliun per Desember 2025. Nilainya menanjak 23,46% secara tahunan (Year on Year/YoY).
Kemudian, AUM reksa dana tumbuh dengan signifikan 35,94% YoY pada 2025 menjadi Rp658,69 triliun. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana juga tumbuh 35,26% YoY menjadi Rp675,32 riliun.
“Tren positif kinerja NAB tersebut didukung oleh net subscription investor reksa dana yang kuat, yaitu mencapai Rp23,91 triliun MtM [secara bulanan/Month to Month] dan Rp138,69 triliun YoY,” kata Inarno dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK pada Jumat (9/1/2026).
Jika ditilik berdasarkan jenisnya, reksa dana jenis pendapatan tetap serta pasar uang berkinerja sangat menonjol. NAB reksa dana pendapatan tetap tumbuh menjadi Rp244,44 triliun dari Rp146,43 triliun, sedangkan pasar uang tumbuh menjadi Rp144,83 triliun dari Rp90,5 triliun pada 2024.
Sementara, reksa dana saham dan campuran cenderung stagnan dengan masing-masing di posisi Rp76,62 triliun dan Rp29,55 triliun.
Presiden Direktur PT Eastspring Invetsments Indonesia Sulystari menilai reksa dana tetap memiliki sejumlah keunggulan yang menarik bagi investor ke depannya.
"Setidaknya ada tiga keunggulan utama. Pertama, reksa dana menawarkan diversifikasi di berbagai instrumen sehingga bisa menurunkan risiko konsentrasi dan memitigasi potensi volatilitas apabila terjadi koreksi setelah reli," ujarnya kepada Bisnis pada beberapa waktu lalu.
Kedua, menurutnya portofolio dikelola oleh manajer investasi profesional yang dapat secara disiplin melakukan rebalancing dan realisasi keuntungan sehingga risiko portofolio tetap dalam batas yang sehat.
Ketiga, reksa dana menghadirkan fleksibilitas dalam memanfaatkan momentum pasar, terutama dengan produk reksa dana campuran yang memungkinkan pergeseran alokasi dinamis antara obligasi, saham dan pasar uang untuk mengoptimalkan kinerja dengan pengendalian risiko yang terukur.
Sulystari menilai prospek reksa dana pada tahun ini tetap menjanjikan, terutama jika mengingat ekspektasi perbaikan kondisi ekonomi yang didorong oleh peningkatan sinkronisasi kebijakan antara pemerintah dan bank sentral.
"Namun, dinamika pasar keuangan yang terus berkembang perlu diwaspadai. Sejumlah faktor eksternal dan internal berpotensi mempengaruhi pergerakan pasar, mulai dari kemungkinan eskalasi geopolitik yang dapat meningkatkan volatilitas global, arah kebijakan suku bunga The Fed yang masih menjadi penentu utama sentimen risiko, hingga efektivitas implementasi kebijakan domestik dalam menjaga momentum pemulihan," pungkasnya.




