Reaksi China Setelah Amerika Rebut Startup Bernilai Rp 33 Triliun

cnbcindonesia.com
14 jam lalu
Cover Berita
Foto: Bendera Amerikas Serikat (AS) dan China. (REUTERS/Florence Lo/Illustration/File)

Jakarta, CNBC Indonesia - China akan menyelidiki akuisisi senilai lebih dari US$2 miliar (sekitar Rp33 triliun) yang dilakukan raksasa teknologi Amerika Serikat (AS), Meta, terhadap startup kecerdasan buatan (AI) dari China, Manus. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai apakah akuisisi tersebut mematuhi undang-undang pengendalian ekspor dan regulasi terkait investasi luar negeri.

Meta membeli Manus yang berbasis di Singapura bulan lalu, sebagai bagian dari strategi mengintegrasikan otomatisasi canggih ke produk konsumen dan bisnisnya. Transaksi ini, menurut sumber Wall Street Journal, menutup kesepakatan dengan nilai lebih dari US$2 miliar.


Kementerian Perdagangan China menyatakan akan melakukan penilaian dan penyelidikan terkait kepatuhan akuisisi ini terhadap undang-undang dan peraturan mengenai pengendalian ekspor, impor dan ekspor teknologi, serta investasi luar negeri.

"Pemerintah China secara konsisten mendukung perusahaan dalam menjalankan operasi transnasional yang saling menguntungkan dan kerja sama teknologi internasional sesuai hukum dan peraturan," kata juru bicara Kementerian Perdagangan, He Yadong, dikutip dari CNBC Internasional, Jumat (9/1/2026).

Pilihan Redaksi
  • Ramai-ramai Negara Blokir Aplikasi China, Ternyata Ini Alasannya
  • Perusahaan Pencipta Konten Porno Milik Elon Musk Dapat Duit Rp 335 T
  • Labubu Bisa Kalah, Boneka Gemas Ini Bergerak Saat Nemplok di Tas

Manus, yang awalnya merupakan produk startup China Butterfly Effect (Monica.Im), kini beroperasi dari Singapura. Startup ini dikenal sebagai DeepSeek berikutnya karena mampu menyediakan agen AI untuk riset pasar, coding, dan analisis data. Manus juga telah mencatat pendapatan berulang tahunan (ARR) lebih dari US$100 juta, hanya delapan bulan setelah peluncuran produk pertamanya.

Pengamat menilai penyelidikan China menunjukkan bahwa negara ini menilai agen AI canggih dan teknologi terkait sebagai aset strategis.

"Hasil yang paling mungkin adalah proses persetujuan yang lebih panjang dan kemungkinan kondisi penggunaan teknologi Manus yang dikembangkan di China, bukan pemblokiran total. Namun, ancaman tindakan lebih ketat memberi Beijing kekuatan negosiasi dalam akuisisi besar yang dipimpin AS ini," tambahnya." ujar Nick Patience, AI Lead The Futurum Group.

Akuisisi Manus dilakukan saat Meta menghabiskan miliaran dolar untuk mengembangkan kemampuan AI, menghadapi kemajuan dari pesaing seperti OpenAI dan Google.

Pada Juni, Meta menginvestasikan US$14,3 miliar untuk mengambil 49% saham startup AI, Scale AI, yang membawa pendiri sekaligus CEO Alexandr Wang ke tim kepemimpinan perusahaan. Meta juga mengumumkan akuisisi startup AI wearable, Limitless, pada Desember.

CEO Meta, Mark Zuckerberg, disebut menurunkan prioritas unit Fundamental Artificial Intelligence Research (FAIR) perusahaan, demi tim GenAI yang lebih fokus pada produk, untuk mempercepat kemajuan Meta dalam AI dan meningkatkan keluarga model AI Llama.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Urun Rembuk Industri Atasi Masalah Pengembangan Teknologi AI

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Stok Beras 3,35 Juta Ton, Aman hingga Lebaran
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harga Tiket Piala Asia Futsal 2026 di Indonesia Telah Dirilis
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
KPK Tetapkan Yaqut Cholil Jadi Tersangka Korupsi Haji!
• 22 jam laludisway.id
thumb
Pandji Pragiwaksono Dilaporkan, Polisi Langsung Analisis Barang Bukti
• 23 jam laluokezone.com
thumb
Korut Nyatakan Kesetiaan Abadi ke Rusia, Kim Jong Un Sebut Aliansi Korut–Rusia Bersifat Permanen
• 2 jam lalueranasional.com
Berhasil disimpan.