Produksi Batu Bara Dipangkas, APBI Waspadai Dampak ke Logistik dan Tenaga Kerja

katadata.co.id
16 jam lalu
Cover Berita

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memangkas jumlah produksi batu bara tahun ini menjadi sekitar 600 juta ton. Hal ini dilakukan melalui revisi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perusahaan batu bara.

Direktur Eksekutif Asosiasi Penambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani mengatakan hingga saat ini asosiasi belum bisa memastikan dampak secara kuantitatif terkait pemangkasan produksi. Namun, pemangkasan produksi ini akan membuat pasar batu bara bereaksi dan menyiapkan langkah alternatif.

“Dalam jangka pendek, penyesuaian suplai akan memengaruhi harga, tetapi dalam jangka menengah hingga panjang, keseimbangan akan terbentuk kembali melalui respons pasar,” kata Gita kepada Katadata.co.id, Jumat (9/1).

Jika pemangkasan dilakukan dalam skala cukup besar, dampak jangka panjangnya tidak hanya dirasakan di sisi produksi, tetapi juga pada rantai pendukung industri. Pemangkasan ini juga berpotensi menurunkan utilisasi alat berat, termasuk tekanan pada aktivitas logistik dan transportasi. “Pada akhirnya berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.

Gita mengatakan asosiasi tetap mendukung kontrol produksi batu bara nasional. Mereka berharap mekanisme kontrol ini akan semakin efektif dan efisien.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengatakan pemangkasan produksi batu bara bertujuan untuk menjaga harga komoditas ini bagus. Indonesia pada 2025 telah memproduksi 790 juta ton batu bara dengan komposisi 65% untuk ekspor dan 32% dialokasikan kebutuhan domestik. 

Jumlah batu bara yang diperdagangkan di seluruh dunia berjumlah 1,3 miliar ton. Dari jumlah tersebut Indonesia menyuplai 43% atau 514 juta ton. Hal ini berakibat pada ketidakseimbangan permintaan dan penawaran sehingga harga batu bara turun. 

“Produksi kami turunkan agar harga bagus dan tambang bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya. Mengelola sumber daya alam tidak harus semuanya habis saat ini,” kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (8/1).

Tren harga batu bara

Tren harga batu bara acuan (HBA) Indonesia sepanjang 2025 tergolong fluktuatif, namun cenderung menurun. Gita mengatakan kondisi serupa juga kemungkinan akan terjadi pada 2026. 

“Kami rasa harga batu bara tidak akan bergerak jauh karena belum terlihat adanya faktor pendorong pergerakan batu bara secara signifikan,” kata Gita pada pertengahan Desember 2025.

Selain tidak ada faktor pendorong, pergerakan harga batu bara yang stagnan juga disebabkan oleh faktor tantangan industri batu bara yang semakin bertambah. “Seperti rencana perubahan devisa hasil ekspor (DHE), adanya rencana bea keluar batu bara,” ujarnya. 

Senada dengan Gita, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan Bisman Bakhtiar juga mengatakan  pergerakan harga batu bara akan stagnan tahun depan.

“Bisa bertahan saja sudah cukup bagus. Kecuali ada konflik atau situasi global yang memanas bisa jadi sentimen naiknya permintaan dan harga,” ujar Bisman kepada Katadata.co.id.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KPK OTT Pegawai Kantor Pajak di Jakarta Utara, 8 Orang Diamankan
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Alfi Kusuma, Peraih Emas di SEA Games Dihadiahi Naik Pangkat Jadi Letnan Satu
• 1 jam laluokezone.com
thumb
Pakar Hukum Nilai Pelaporan Pandji ke Polda Metro Jaya Lebay
• 9 jam laluidntimes.com
thumb
Pramono Turun Tangan, Pasar Jaya Diminta Bereskan Sampah Mengunung di Pasar Induk Kramat Jati
• 22 jam laludisway.id
thumb
Update Informasi Cuaca Jakarta Hari ini Sabtu, 10 Januari 2026: Hujan atau Cerah?
• 9 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.