Kawasan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan, kembali mencekam setelah tawuran antar warga pecah pada Jumat pekan lalu. Menanggapi aksi kekerasan yang terus berulang ini, muncul usulan dari DPRD DKI Jakarta untuk mencabut bantuan sosial (bansos) bagi keluarga yang anggotanya terlibat tawuran.
Peristiwa yang terjadi di Jalan Manggarai Barat tersebut merupakan aksi tawuran kedua yang pecah di awal 2026. Bentrokan ini melibatkan dua kelompok warga yang saling serang menggunakan senjata tajam, batu, petasan, hingga bom molotov.
Aksi saling serang dengan petasan menyebabkan akses jalan di kedua jalur tertutup total, sehingga arus lalu lintas terhenti. Berdasarkan keterangan warga di lokasi, aksi tawuran tersebut diduga dipicu oleh masalah sepele, yakni saling ejek antar kelompok.
Meski dilaporkan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa kali ini, warga sekitar mengaku sangat resah. "Sana nyerang aja, padahal waktu itu sudah didatangi gubernur, diajak selawat, tapi tetap saja kejadian gitu lagi," ujar salah seorang warga, Sofyan.
Sekretaris Komisi E DPRD DKI Jakarta, Justin Adrian Untayana, mengusulkan langkah tegas kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai efek jera. Ia meminta agar bansos bagi keluarga pelaku tawuran dicabut.
Justin menilai, keterlibatan anak atau anggota keluarga dalam aksi tawuran menunjukkan minimnya perhatian dan pembinaan dari pihak keluarga. Menurutnya, sanksi administratif berupa penghentian bantuan sosial diharapkan dapat mendorong orang tua untuk lebih ketat mengawasi anak-anak mereka.
Baca juga: Pembangunan JPO Sarinah Dikritik, Pramono : Pelican Crossing Masih Ada
Gubernur Jakarta, Pramono Anung, turut memberikan respons terkait situasi di Manggarai yang kembali memanas akibat tawuran. Pramono menyatakan bahwa pihaknya tengah mendalami penyebab tawuran yang kerap berulang di lokasi yang sama. Ia menduga adanya pihak tertentu yang sengaja memprovokasi masyarakat.
Terkait usulan pencabutan bansos, Pramono mengaku belum mempertimbangkan langkah tersebut sebagai solusi utama.
"Saya belum memikirkan itu (pencabutan bansos). Yang paling utama sebenarnya energinya itu harus tersalurkan secara benar. Maka, ruang untuk yang melakukan tawuran, energinya disalurkan untuk bekerja atau kegiatan positif," tegas Pramono Anung.
Permasalahan tawuran di Jakarta, khususnya di Manggarai, dinilai berakar dari energi berlebih di kalangan pemuda yang tidak tersalurkan dengan baik. Ketiadaan wadah atau kegiatan terstruktur disinyalir menjadi penyebab utama mengapa energi tersebut justru dilampiaskan melalui perilaku negatif yang membahayakan keselamatan publik.




