10 Petuah Investasi ala Warren Buffett yang Masih Relevan hingga 2026

viva.co.id
10 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Akhir tahun 2025 silam, Warren Buffett resmi menyerahkan kepemimpinan Berkshire Hathaway kepada penerusnya. Selama 60 tahun memimpin, investor legendaris yang dijuluki Oracle of Omaha itu berhasil membawa kinerja perusahaan jauh melampaui pasar saham secara keseluruhan, sebuah pencapaian yang jarang tertandingi.

Berdasarkan catatan kinerja, nilai pasar per saham Berkshire Hathaway tumbuh rata-rata 19,9 persen per tahun, hampir dua kali lipat dari imbal hasil tahunan indeks S&P 500 yang berada di kisaran 10,4 persen. 

Baca Juga :
Ekspansi ke Sektor Tambang, Emiten Techno9 Indonesia Bakal Lakukan Rights Issue
Investasi Sektor ESDM 2025 Anjlok, Bahlil Dorong PLN Bangun Pembangkit Listrik Baru

Dalam jangka panjang, selisih ini menciptakan perbedaan luar biasa. Satu dolar AS yang ditanamkan ke Berkshire Hathaway berkembang menjadi lebih dari US$5,6 juta atau setara Rp93,5 miliar, sementara investasi serupa di S&P 500 hanya tumbuh menjadi sekitar US$40.000 atau setara Rp668 juta.

Meski telah pensiun, pandangan Buffett soal investasi tetap dianggap relevan menghadapi ketidakpastian pasar hingga 2026. Berikut sepuluh prinsip utama yang kerap ia sampaikan dan masih banyak dijadikan pegangan investor, sebagaimana dirangkum pada The Smart Investor, Sabtu, 10 Januari 2026.

Warren Buffett
Photo :
  • Forbes

1. Ketidakpastian Selalu Menyertai Masa Depan

Buffett berulang kali menegaskan bahwa ramalan politik dan ekonomi sering kali menjadi gangguan mahal bagi investor. Menurutnya, sejarah penuh dengan peristiwa besar yang tidak pernah diprediksi sebelumnya, mulai dari perang, krisis energi, hingga gejolak pasar keuangan. Karena itu, ia memilih mengabaikan prediksi makro dan fokus pada hal yang bisa dikendalikan.

2. Pasar Saham Sulit Diprediksi dalam Jangka Pendek

Dalam pandangannya, pergerakan pasar saham dalam hitungan bulan atau satu tahun ke depan hampir mustahil ditebak secara konsisten. Bahkan di tengah krisis keuangan global, Buffett mengakui bahwa ia tidak mengetahui arah pasar dalam jangka pendek. 

3. Fokus pada Perusahaan, Bukan Arah Ekonomi

Buffett dikenal jarang mengambil keputusan investasi berdasarkan kondisi makroekonomi. Ia menilai bahwa yang lebih penting adalah memahami potensi laba jangka panjang dan keunggulan kompetitif sebuah perusahaan, bukan mencoba menebak arah ekonomi global.

4. Saham Mewakili Kepemilikan Bisnis

Baginya, membeli saham sama artinya dengan membeli sebagian bisnis. Oleh karena itu, ia menilai saham seharusnya diperlakukan seperti kepemilikan usaha jangka panjang, bukan sekadar alat spekulasi jangka pendek yang dipengaruhi naik-turun harga harian. 

Baca Juga :
Gantikan Warren Buffett, Gaji Bos Baru Berkshire Hathaway Tembus Rp418 Miliar
Ini Biang Kerok “Gaji Numpang Lewat” di 2025
Mengenal Gregory Abel, Sosok Penerus Warren Buffett di Berkshire Hathaway

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
LAPSUS! Kepala Daerah-DPRD Diperpanjang? Ini Peluang Paling Mungkin!
• 14 jam laluharianfajar
thumb
Usai Indonesia Jadi Presiden Dewan HAM PBB, Dema UIN Alauddin Minta Seluruh Aktivis yang Dikriminalisasi Dibebaskan
• 16 jam lalufajar.co.id
thumb
Foto: Supeltas Siaga Jaga Arus Lalu lintas di Simpang Jalan Sawangan
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Ini Tren Pemesanan hingga Perjalanan Wisatawan Indonesia Sepanjang 2025
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Warga Aceh Dapat Huntara, Wamendagri Minta Pemda Tak Lepas Tangan
• 18 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.