JAKARTA, KOMPAS.TV - Fenomena atmosfer berupa daerah tekanan rendah dan sirkulasi siklonik yang mengepung wilayah Indonesia memicu potensi cuaca ekstrem pada hari ini, Sabtu (10/1/2026).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat di sejumlah provinsi, khususnya di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara, untuk meningkatkan kesiapsiagaan.
Pemicu utama peningkatan curah hujan ini adalah adanya daerah tekanan rendah yang masih bertahan di perairan timur Australia.
Fenomena ini tidak hanya membentuk daerah pertemuan angin (konvergensi), tetapi juga menginduksi peningkatan kecepatan angin atau low level jet yang memanjang dari Maluku bagian tenggara hingga ke arah Australia.
Secara bersamaan, sirkulasi siklonik juga terdeteksi terbentuk di perairan barat Brunei Darussalam. Kondisi ini mengakibatkan terbentuknya daerah konvergensi dan pertemuan massa udara (konfluensi) di sebagian wilayah Kalimantan.
Baca Juga: BMKG: 94 Persen Wilayah Indonesia Masuk Kondisi Iklim Normal di 2026, Waspadai Suhu Lebih Hangat
Prakirawan BMKG, Maharani Intan, menjelaskan bahwa interaksi berbagai fenomena atmosfer tersebut berdampak langsung pada pertumbuhan awan hujan yang intensif.
"Kombinasi dinamika atmosfer tersebut menyebabkan potensi cuaca cukup signifikan di beberapa wilayah Indonesia," ujar Intan dalam siaran pers BMKG, Jumat (9/1).
Wilayah Berstatus Waspada
Berdasarkan analisis data tersebut, BMKG memetakan wilayah-wilayah yang berpotensi diguyur hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat. Fokus kewaspadaan tertuju pada enam wilayah utama.
Penulis : Danang Suryo Editor : Gading-Persada
Sumber : bmkg.go.id
- BMKG
- cuaca ekstrem
- hujan lebat
- sirkulasi siklonik
- prakiraan cuaca 10 Januari 2026
- info cuaca




