Bisnis.com, JAKARTA — Fenomena sinkhole atau amblasnya tanah kembali menjadi perhatian publik setelah lubang besar muncul secara tiba-tiba di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat.
Sinkhole yang terbentuk pada 4 Januari 2026 itu memiliki diameter sekitar 20 meter dan kedalaman kurang lebih 15 meter, di lahan pertanian milik warga seperti yang dilaporkan Bisnis.com.
Apa sebenarnya sinkhole dan bagaimana fenomena ini bisa terjadi?Dilansir United States Geological Survey (USGS), Sabtu (10/1/2026), sinkhole adalah cekungan atau lubang di permukaan tanah yang tidak memiliki saluran air alami ke luar. Artinya, air hujan yang masuk ke area tersebut akan langsung meresap ke bawah tanah.
Sinkhole umumnya terjadi di wilayah yang disebut ahli geologi sebagai karst terrain, yakni daerah dengan batuan bawah tanah yang mudah larut oleh air tanah. Jenis batuan ini antara lain batu gamping (limestone), gipsum, dan garam. Proses pelarutan ini dapat membentuk rongga atau gua di bawah permukaan tanah.
Selama rongga tersebut masih mampu menopang tanah di atasnya, permukaan tanah tampak normal. Namun ketika rongga membesar dan tidak lagi kuat menahan beban, tanah bisa ambles secara tiba-tiba.
Bagaimana Sinkhole Terbentuk?
Air hujan yang bercampur karbon dioksida membentuk asam karbonat. Air yang bersifat asam ini meresap ke dalam tanah dan perlahan melarutkan batuan tertentu. Proses ini bisa berlangsung sangat lama, bahkan ratusan hingga ribuan tahun, tanpa tanda-tanda di permukaan.
Sinkhole dapat terbentuk secara:
• Perlahan, ketika tanah di atas rongga turun sedikit demi sedikit (cover-subsidence sinkhole), atau
• Tiba-tiba, ketika lapisan atas runtuh ke rongga di bawahnya (cover-collapse sinkhole).
Selain faktor alam, aktivitas manusia juga dapat mempercepat terbentuknya sinkhole. Kebocoran pipa air, pengambilan air tanah berlebihan, aktivitas pertambangan, hingga pembangunan berat dapat memicu runtuhan tanah.
Tidak Selalu Karena Batu Gamping
Dalam kasus di Sumatera Barat, Badan Geologi ESDM menyebutkan bahwa sinkhole yang terjadi bukan akibat runtuhan batu gamping. Berdasarkan kajian tim, amblesan dipicu oleh proses erosi bawah permukaan, yakni pengikisan tanah oleh aliran air di dalam tanah yang berlangsung secara perlahan hingga akhirnya permukaan tidak lagi mampu menopang beban di atasnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sinkhole tidak selalu identik dengan kawasan karst, dan bisa terjadi di wilayah dengan struktur tanah tertentu serta sistem aliran air bawah tanah yang aktif.
National Geographic mencatat bahwa sinkhole ekstrem yang menelan bangunan atau kendaraan sebenarnya relatif jarang. Sebagian besar sinkhole berukuran kecil dan lebih sering menimbulkan kerusakan material dibandingkan korban jiwa.
Namun, dampak ekonominya tidak kecil. Di Amerika Serikat, USGS memperkirakan kerugian akibat sinkhole mencapai sekitar US$300 juta atau sekitar Rp5,06 triliun per tahun, terutama untuk kerusakan jalan, bangunan, dan infrastruktur.
Sinkhole sulit diprediksi karena prosesnya berlangsung di bawah tanah. Menurut otoritas geologi, survei geofisika dan pengeboran uji menjadi cara paling akurat untuk mendeteksi rongga bawah tanah, meski biayanya tidak murah. Tanda awal seperti retakan tanah atau penurunan permukaan sering kali baru terlihat saat kerusakan sudah terjadi.
Fenomena sinkhole di Sumatera Barat menjadi pengingat pentingnya pemantauan kondisi geologi, khususnya di wilayah dengan sistem air bawah tanah aktif. Meski tidak selalu menimbulkan bencana besar, sinkhole tetap berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan menimbulkan kerugian ekonomi jika tidak diantisipasi sejak dini. (Angela Keraf)





