Surabaya (beritajatim.com) – Pasar modal Indonesia resmi mengakhiri tahun 2025 dengan catatan sejarah yang fenomenal. Di tengah bayang-bayang perlambatan ekonomi global dan kinerja Tiongkok yang masih lesu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berhasil mencatatkan fenomena Santa Claus Rally yang solid, sekaligus mengukuhkan dominasi investor ritel domestik.
Berdasarkan Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 24 Desember 2025, stabilitas sektor jasa keuangan nasional dinilai tetap kokoh. IHSG menutup tahun di level 8.646,94, melonjak 22,13% secara tahunan (yoy).
Sepanjang 2025, IHSG tidak hanya sekadar tumbuh, tetapi berpesta. Indeks kebanggaan Indonesia ini membukukan rekor All-Time High (ATH) sebanyak 24 kali, dengan puncak tertinggi di level 8.710,70 pada awal Desember.
Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, menyoroti bahwa capaian ini didorong oleh sentimen positif ekonomi nasional yang sinkron dengan kinerja solid PDB Amerika Serikat. “Kapitalisasi pasar kita pun menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah, yakni Rp16.005 triliun,” ungkapnya.
Anatomi pasar saham Indonesia di tahun 2025 menunjukkan perubahan struktural yang signifikan. Jika tahun 2024 transaksi didominasi institusi, tahun 2025 menjadi panggung bagi investor ritel domestik.
Data OJK mencatat proporsi transaksi ritel melompat dari 38% menjadi 50%. Dampaknya terasa pada likuiditas pasar; Rerata Nilai Transaksi Harian (RNTH) bulanan pada Desember 2025 menyentuh rekor ATH sebesar Rp27,19 triliun. Hal ini menandakan pasar saham kita kini jauh lebih likuid dan “bertenaga” berkat partisipasi masyarakat lokal.
Meskipun secara akumulasi tahunan investor asing mencatatkan net sell Rp17,34 triliun, tren pada kuartal IV-2025 justru berbalik positif (rebound). Pada Desember saja, asing membukukan net buy sebesar Rp12,24 triliun, menunjukkan kembalinya kepercayaan global terhadap stabilitas makro Indonesia.
Setali tiga uang, pasar obligasi juga bersinar. Indeks komposit ICBI terapresiasi 12,27% (yoy). Penurunan yield SBN sebesar 80,91 bps sepanjang tahun menjadi bukti kuat bahwa instrumen surat utang negara masih menjadi pilihan aman (safe haven) bagi investor, termasuk non-residen yang mencatatkan inflow Rp6,49 triliun di pengujung tahun.
Wajah cerah pasar modal juga tercermin dari pertumbuhan jumlah investor yang naik drastis menjadi 20,36 juta orang (tumbuh 36,95% yoy). Pertumbuhan ini berkorelasi langsung dengan dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) yang menembus angka psikologis Rp1.033,81 triliun.
Sektor Reksa Dana mencatatkan pertumbuhan Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang fantastis sebesar 35,26% yoy, ditopang oleh aliran dana masuk (net subscription) investor yang sangat kuat mencapai Rp138,69 triliun sepanjang tahun.
Meski menutup 2025 dengan gemilang, OJK memberikan catatan waspada untuk tahun 2026. Lembaga multilateral memprediksi pertumbuhan ekonomi global akan melandai di bawah rata-rata pra-pandemi akibat meningkatnya risiko fiskal di negara-negara utama.
Namun, dengan realisasi penghimpunan dana korporasi yang melampaui target (mencapai Rp274,80 triliun) serta antrean (pipeline) penawaran umum yang masih panjang, pasar modal Indonesia memiliki fondasi yang cukup kuat untuk menghadapi turbulensi ekonomi global di masa depan.[rea]




