Pemimpin Iran Sebut Demo Besar-besaran Sebagai Sabotase dan Didukung Pihak Asing

katadata.co.id
20 jam lalu
Cover Berita

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei menyampaikan peringatan tegas bahwa pemerintahannya tidak akan mundur dalam menghadapi meningkatnya keresahan sosial dan seruan publik. Ia menuduh aksi ini sebagai sabotase yang didukung pihak asing, dalam hal ini Amerika Serikat (AS).

Dalam pidatonya pada Jumat (9/1), ia menyebut para demonstran sebagai 'perusak' dan 'penyabotase'. Ia menggambarkan demonstrasi besar-besaran sebagai sabotase yang diilhami oleh pihak asing.

"Para demonstran merusak jalanan mereka sendiri untuk menyenangkan presiden negara lain," kata dia, yang merujuk pada Presiden AS Donald Trump berdasarkan laporan sejumlah media asing, dikutip dari Deutsche Welle, Sabtu (10/1).

Dalam pernyataan yang tampaknya merujuk pada perang singkat antara Iran dan Israel yang didukung AS pada Juni, Khamenei mengatakan bahwa tangan Trump 'berlumuran darah lebih dari seribu warga Iran'.

Khamenei mengatakan presiden AS yang 'arogan' itu akan menghadapi nasib serupa dengan Shah Iran, yang digulingkan dalam revolusi 1979 yang mendirikan rezim ulama.

"Semalam di Teheran, sekelompok perusak datang dan menghancurkan suatu bangunan milik mereka untuk menyenangkan presiden AS," kata Khamenei kepada para pendukung, sementara laki-laki dan perempuan di antara hadirin meneriakkan 'Matilah Amerika'.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyampaikan, Pemerintah Iran menuduh Israel dan Amerika Serikat berada di balik meningkatnya protes anti-pemerintah yang menyebar di seluruh negeri.

"Amerika dan Israel, secara langsung ikut campur dalam protes dan berusaha mengubah protes damai menjadi protes yang memecah belah dan penuh kekerasan," kata dia saat berbicara dalam kunjungannya ke Lebanon.

Araghchi juga menepis kemungkinan aksi militer dalam waktu dekat oleh AS atau Israel.

"Kami yakin kemungkinan hal ini terjadi sangat kecil, karena upaya mereka sebelumnya benar-benar gagal," katanya.

Israel, dengan dukungan AS, melancarkan perang singkat melawan Iran musim panas lalu yang menurut pejabat Amerika dan Israel bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan nuklir Iran.

Sementara itu, Trump sebelumnya memperingatkan para pemimpin Iran bahwa akan ada 'konsekuensi berat', jika mereka menindak gerakan protes di negara dengan julukan Persia ini.

"Sebaiknya kalian jangan mulai menembak (demonstran), karena kami juga akan mulai menembak," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Jumat (9/1) waktu setempat, dikutip dari Reuters pada Sabtu (10/1).

Kelompok-kelompok hak asasi manusia menuduh bahwa pasukan keamanan Iran telah membunuh dan melukai sejumlah demonstran.

Meski begitu, para pengamat menilai Trump masih menunggu untuk melihat bagaimana krisis di Iran berkembang, sebelum mendukung seorang pemimpin oposisi. Penilaian ini merujuk pada pernyataan Trump bahwa saat ini ia tidak berniat untuk bertemu dengan Reza Pahlavi, putra mahkota yang diasingkan dan putra mendiang Shah Iran.

“Saya pikir kita harus membiarkan semua orang keluar dan melihat siapa yang akan muncul,” kata Trump kepada pembawa acara radio konservatif Hugh Hewitt pada Kamis (8/1). “Saya tidak yakin apakah itu hal yang tepat untuk dilakukan.”

Reza Pahlavi, yang tinggal di dekat Washington, telah menyerukan demonstrasi massal berkelanjutan melalui media sosial. Dalam unggahan pada Jumat (9/1), ia meminta Trump untuk lebih terlibat dalam krisis ini dengan 'perhatian, dukungan, dan tindakan'.

"Anda (Trump) telah membuktikan dan saya tahu Anda adalah seorang pria yang cinta damai dan seorang yang menepati janji. Mohon bersiaplah untuk turun tangan membantu rakyat Iran," katanya.

Puluhan Orang Dilaporkan Meninggal Dunia dalam Demonstrasi di Iran

Aksi protes besar-besaran kembali meletus di kota-kota utama Iran, termasuk ibu kota, Teheran, dan kota terpadat kedua, Mashhad. Video yang tersebar luas di media sosial menunjukkan kerumunan orang berkumpul di area pusat kota.

Warga di distrik Sadatabad, Teheran, memukul-mukul panci dan meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah termasuk 'matilah Khamenei'. Sementara itu, mobil-mobil membunyikan klakson sebagai bentuk dukungan.

Rekaman lainnya tidak dapat diverifikasi secara independen dan skala protes awalnya tidak jelas.

Pusat Hak Asasi Manusia di Iran yang berbasis di New York mengatakan bahwa mereka menerima laporan saksi mata yang dapat dipercaya, bahwa rumah sakit di Teheran, Mashhad, dan Karaj kewalahan menangani demonstran yang terluka.

Sebuah video aktivis menunjukkan adegan kacau di distrik Saadat Abad, Teheran, dengan kobaran api. Masjid dibakar dan para pengunjuk rasa meneriakkan atilah diktator'.

Para mahasiswa melaporkan adanya pengamanan ketat. Buletin mahasiswa Amirkabir mengatakan bahwa pasukan khusus bersenjata senapan Kalashnikov ditempatkan setiap 10 meter di sepanjang jalan utama.

Wali Kota Teheran Alireza Zakani mengatakan kerusuhan pada Kamis (8/1) malam menyebabkan lebih dari 50 bank dan beberapa gedung pemerintah dibakar. "Lebih dari 30 masjid terbakar," katanya dalam video yang disebarkan oleh kantor berita Mehr yang berafiliasi dengan pemerintah.

Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS mengatakan setidaknya 62 orang tewas akibat protes anti-pemerintah yang berlanjut hingga hari ke-13.   

HRANA mengatakan 14 personel keamanan dan 48 demonstran telah meninggal dunia sejak dimulainya protes pada 28 Desember.

HRANA juga mengatakan 2.300 orang telah ditahan di Iran seiring pemerintah menindak demonstrasi.

Sementara itu, LSM lain bernama Iran Human Rights (IHRNGO) mengatakan bahwa 51 demonstran tewas sejauh ini, termasuk sembilan anak-anak. IHRNGO mengatakan para demonstran tewas tidak hanya di Teheran tetapi juga di kota-kota Mashad, Karaj, dan Hamedan.  

IHRNGO mengatakan ratusan orang lainnya telah terluka sejak demonstrasi dimulai. 

"Pemadaman internet nasional mengingatkan kita pada penindakan berdarah terhadap protes November 2019 ketika beberapa ratus demonstran tewas," kata Direktur IHRNGO Mahmood Amiry-Moghaddam.

"Selama 13 hari terakhir, tingkat penggunaan kekerasan oleh pemerintah terhadap para demonstran semakin meningkat, dan risiko peningkatan kekerasan serta pembunuhan massal terhadap para demonstran setelah pemadaman internet sangat serius," ia menambahkan.

Amiry-Moghaddam menyerukan kepada komunitas internasional untuk menyampaikan kepada pemerintah Iran bahwa 'dunia tidak akan menoleransi pembunuhan para demonstran'.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ganjar Tegaskan PDI-P Konsisten Dukung Pilkada Langsung
• 13 jam lalukompas.id
thumb
Ikan Ini Dicap Terbaik Bagi Kesehatan, Berlimpah di RI-Cek Manfaatnya
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Abu Janda Sindir MUI: Ini 2026, Bukan Jaman Jahiliyah
• 21 jam lalufajar.co.id
thumb
Megawati: Undang-undang Beri Karpet Merah Deforestasi
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Harga Minyak Mentah WTI Melejit 2,35 Persen, Investor Cemas Iran Bergejolak
• 21 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.