Iran Putus Total Internet Global, Pemberontakan Massal Meletus di Seluruh Negeri

erabaru.net
17 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Iran memasuki salah satu hari paling genting dalam sejarah modernnya. Pada Rabu, 8 Januari 2026, Pemerintah Iran secara resmi memutus total koneksi internet global, sebuah langkah ekstrem yang bahkan membuat situs-situs resmi pemerintah sendiri tidak dapat diakses.

Pemutusan ini terjadi di tengah gelombang pemberontakan rakyat berskala nasional, yang dilaporkan melibatkan jutaan warga di berbagai kota besar. Situasi keamanan memburuk dengan cepat, memicu kekhawatiran akan runtuhnya kendali rezim.

Starlink Aktif di Langit Iran, Komunikasi Rakyat Tetap Terjaga

Di saat pemerintah berupaya mengisolasi negara dari dunia luar, Elon Musk justru mengambil langkah berlawanan. Jaringan satelit Starlink dilaporkan telah aktif di atas wilayah udara Iran, memungkinkan sebagian rakyat tetap terhubung ke internet global.

Sehari sebelumnya, 7 Januari 2026, Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran yang berada di pengasingan, menyatakan bahwa hubungannya dengan rakyat Iran tidak akan pernah terputus, karena komunikasi masih dapat dilakukan melalui ratusan ribu perangkat Starlink yang beroperasi di dalam negeri.

Sumber internal menyebutkan bahwa akses Starlink sebenarnya telah dibuka secara diam-diam dan gratis sejak beberapa hari sebelumnya, namun baru sekarang terungkap. Inisiatif tersebut disebut berasal dari pengusaha Israel, Dubi Francis, yang kemudian diajukan kepada tim Elon Musk. Musk sendiri dikabarkan berkomitmen menjaga kestabilan jaringan agar tidak dapat diblokir oleh rezim Iran.

Ancaman Terbuka Pemerintah: “Tidak Akan Ada Pengampunan”

Masih pada 8 Januari, Menteri Kehakiman Iran mengeluarkan peringatan keras dan terbuka kepada publik. Dia menegaskan bahwa situasi kali ini tidak dapat disamakan dengan kerusuhan tahun 1998 atau 2009, serta menyebut bahwa “niat musuh sudah sangat jelas” dan tidak akan ada pengampunan.

Pernyataan tersebut ditafsirkan luas sebagai ancaman kematian terselubung. Bersamaan dengan itu, kepolisian Iran mulai mengirimkan pesan intimidasi langsung kepada warga, mengancam tuntutan pidana terhadap siapa pun yang ikut berdemonstrasi atau menyampaikan pandangan yang berseberangan dengan pemerintah. Seluruh aktivitas berkumpul di ruang publik diperintahkan untuk dihentikan.

Protes Memasuki Hari ke-12, Teheran dan Mashhad Membara

Aksi protes nasional kini memasuki hari ke-12 dan telah mencapai titik paling eksplosif. Laporan dari dalam negeri menyebutkan:

Teheran, dengan populasi lebih dari 9 juta jiwa, menjadi pusat perhatian dunia pada malam hari. Kota ini dipenuhi demonstran dalam jumlah masif, sementara Mashhad—sekitar 600 mil dari ibu kota—juga mengalami ledakan protes besar.

Mashhad memiliki arti strategis karena merupakan kampung halaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, sekaligus basis politik tradisionalnya. Di dua kota ini, pemberontakan dilaporkan berlangsung dalam skala jutaan orang.

Rekaman video yang beredar menunjukkan pembakaran gedung-gedung simbol kekuasaan rezim. Media Iran juga mengonfirmasi bahwa Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) telah dikerahkan secara penuh ke kota-kota besar. Jika sebelumnya hanya milisi Basij yang diturunkan, kali ini rezim jelas berada dalam mode bertahan hidup.

Penutupan Penerbangan dan Rentetan Tembakan

Situasi keamanan semakin memburuk setelah penerbangan keluar-masuk sejumlah kota besar mendadak dihentikan. Laporan menyebutkan bahwa seluruh penerbangan menuju Iran dialihkan atau kembali ke bandara asal, termasuk dua penerbangan dari Turki yang seharusnya mendarat di Shiraz.

Di wilayah Teheran, rentetan tembakan senjata api terdengar jelas, memicu spekulasi bahwa rezim tengah bersiap melakukan operasi pembersihan besar-besaran. Langkah ini dinilai sangat berisiko karena dapat memicu reaksi militer dari Amerika Serikat dan Israel.

Peringatan Keras Amerika Serikat

Pada 8 Januari 2026, Presiden AS, Donald Trump kembali menyampaikan peringatan terbuka kepada Teheran. Dia menegaskan bahwa jika rezim Iran menindas para demonstran, Amerika Serikat akan melancarkan serangan yang sangat keras dan membuat Iran membayar harga mahal.

Wakil Presiden AS, JD Vance turut menegaskan bahwa rezim Iran kini menghadapi krisis serius, dan langkah paling bijak adalah membuka perundingan nyata dengan Washington. Dia menyatakan bahwa AS berdiri bersama siapa pun yang memperjuangkan hak-haknya, termasuk rakyat Iran.

Di hari yang sama, Reza Pahlavi kembali menyerukan aksi turun ke jalan secara bersatu, seraya memperingatkan rezim dan IRGC bahwa dunia internasional dan Presiden AS sedang mengawasi, dan penindasan akan berujung pada hukuman berat.

Spekulasi Pelarian Khamenei dan Pembelotan Internal

Sejumlah akun di platform X menyebut—meski belum terkonfirmasi—bahwa Ali Khamenei telah diamankan ke Rusia dan saat ini tidak berada di Iran. Informasi ini belum dapat diverifikasi dan bisa merupakan bagian dari perang informasi atau pengelabuan menjelang tindakan represif.

Namun, satu hal dipastikan: pembelotan internal memang terjadi. Beberapa tokoh dari kubu reformis Presiden Iran dilaporkan mulai menarik dukungan, sementara puluhan pejabat tinggi mengajukan visa ke negara-negara Eropa, termasuk Prancis dan Jerman, untuk menyelamatkan diri dan keluarga mereka.

Amerika Siaga Militer, Israel Disebut Beroperasi di Iran

Di tengah eskalasi, dilaporkan bahwa pasukan elite Delta Force AS—yang sebelumnya terlibat dalam operasi penangkapan Nicolás Maduro—telah dikerahkan ulang ke Timur Tengah.

Pesawat angkut strategis dan helikopter militer AS dilaporkan bergerak ke arah timur. Sementara itu, seorang menteri Israel secara terbuka menyatakan bahwa personel Israel saat ini berada di dalam wilayah Iran, pernyataan yang langsung memicu perhatian dan kekhawatiran global.

Kesimpulan:

Dengan internet terputus, jutaan warga turun ke jalan, aparat militer dikerahkan penuh, serta Amerika Serikat dan Israel dalam posisi siaga, Iran kini berada di ambang titik balik sejarah. Perkembangan dalam beberapa hari ke depan akan sangat menentukan arah masa depan negara tersebut—apakah menuju perubahan politik besar, atau memasuki fase konflik yang jauh lebih luas.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
30 Perusahaan Properti Terbesar di Indonesia, Berikut Rincian Market Capnya!
• 7 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Komdigi Putus Sementara Akses Grok AI di X, Ini Alasannya
• 16 jam laluidntimes.com
thumb
BRI Super League: Jelang Tandang ke Markas Arema FC, Ribuan Suporter Suntik Spirit Pemain Persik
• 20 jam lalubola.com
thumb
Wisata Oasis Sukabumi: Menikmati Suasana Amsterdam Tanpa ke Eropa
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mendagri Minta Tambah BKO 5.000 Personel TNI-Polri untuk Bersihkan Lumpur Pascabencana Sumatera
• 14 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.