EtIndonesia. Iran pada Kamis malam, 8 Januari 2026, memasuki fase yang oleh banyak pengamat internasional disebut sebagai “malam penentuan”—sebuah momen krusial yang dinilai berpotensi menentukan nasib rezim Republik Islam Iran untuk pertama kalinya sejak Revolusi 1979.
Sedikitnya 340.000 akun analis, jurnalis independen, dan influencer geopolitik di berbagai platform global secara serempak memantau perkembangan situasi Iran sepanjang malam tersebut. Salah satu analis ternama, Neuberger, menyatakan bahwa “malam ini adalah malam terpenting bagi Iran sejak 1979”—sebuah pernyataan yang mencerminkan betapa gentingnya kondisi yang sedang berlangsung.
Menurut para pengamat, malam ini akan menentukan apakah pemberontakan rakyat dapat dipadamkan, atau justru mampu melangkah lebih jauh menuju kemenangan strategis atas rezim Ayatollah Ali Khamenei.
Namun hingga larut malam, hasilnya tetap tak terlihat. Seluruh negeri berada dalam kondisi bungkam total.
Negara Dibungkam: Internet Nol Total, Iran Berubah Menjadi “Penjara Raksasa”
Sejak malam 8 Januari, Iran dilaporkan memutus total jaringan komunikasi nasional. Telepon seluler tidak berfungsi, sinyal operator hilang, dan akses internet internasional nol total. Warga tidak dapat saling berkomunikasi, sementara dunia luar kehilangan akses untuk memverifikasi situasi di lapangan secara independen.
Di tengah pemadaman informasi tersebut, beredar laporan bahwa pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) telah melepaskan tembakan ke arah massa di sejumlah titik. Dengan komunikasi yang sepenuhnya terputus, Iran seolah berubah menjadi penjara tertutup bagi lebih dari 90 juta penduduknya.
Para analis menilai, pemutusan total komunikasi ini menandakan ketakutan akut rezim, karena untuk pertama kalinya pusat perlawanan tidak lagi berada di wilayah pinggiran, melainkan menekan langsung ke jantung kekuasaan negara.
Teheran Menjadi Garis Depan, Isfahan Terbakar
Ibu kota Teheran kini berubah menjadi garis depan utama. Gelombang massa turun ke jalan dalam skala besar, memicu bentrokan intens dengan aparat keamanan.
Sementara itu, eskalasi paling simbolik terjadi di Isfahan. Gedung penyiaran radio dan televisi pemerintah di kota tersebut dilaporkan dibakar massa. Sejumlah warga setempat mengatakan kepada BBC bahwa pusat Kota Isfahan telah dikuasai secara de facto oleh demonstran.
Isfahan bukan kota biasa. Kota ini merupakan ibu kota sejarah Iran, pusat kebudayaan Persia, serta sentra industri penerbangan dan militer. Kehilangannya memiliki dampak simbolik dan strategis yang sangat besar bagi rezim.
Pada saat yang sama, urat nadi ekonomi Iran, yakni Pelabuhan Bandar Abbas di Teluk Persia, juga dilaporkan jatuh ke tangan massa.
Dalam satu malam, tiga pilar utama rezim Khamenei— pusat politik (Teheran), jantung budaya dan militer (Isfahan), serta arteri ekonomi (Bandar Abbas)— serentak memasuki kondisi krisis serius.
Isu Kurdistan dan Dugaan Campur Tangan Asing
Situasi kian memburuk ketika seruan kemerdekaan Kurdi semakin menguat. Kelompok-kelompok politik menyerukan mogok nasional, sementara sejumlah pemimpin Kurdi di pengasingan secara terbuka meminta dukungan Amerika Serikat dan Israel untuk memperjuangkan kemerdekaan sekitar 14 juta rakyat Kurdi.
Di balik layar, muncul dugaan bahwa kekuatan eksternal mulai mengambil peran aktif. Neuberger mengklaim bahwa unit intelijen Israel, Mossad, telah menyusup ke jalanan Iran.
Menurut klaim tersebut—yang masih menunggu verifikasi independen—agen Mossad tidak hanya melacak lokasi persembunyian Khamenei, tetapi juga mendistribusikan perangkat Starlink kepada para demonstran.
Dia juga menyebut adanya terowongan bawah tanah di sejumlah masjid yang digunakan Garda Revolusi untuk menyimpan logistik, senjata, makanan, dan air. Koordinat lokasi tersebut diklaim telah dibagikan kepada massa.
Jika informasi ini terbukti benar, maka Iran sedang menghadapi serangan presisi dari luar yang bersifat “bedah pisau”, langsung menusuk struktur inti rezim.
Tiga Sinyal Global Muncul Secara Bersamaan
Bersamaan dengan eskalasi di dalam negeri Iran, tiga sinyal global muncul hampir serempak:
1. Rusia Evakuasi Staf dari Israel
Setelah menarik diri dari Iran, Rusia dilaporkan kembali mengevakuasi stafnya dari Israel.
Akun Daily Iran News menyebutkan bahwa dalam 24 jam, Rusia telah tiga kali mengirim pesawat untuk mengevakuasi staf Kedutaan Besar Rusia di Israel beserta keluarga mereka.
2. Israel Bersiap Membangun Tembok
Kementerian Pertahanan Israel mengumumkan peledakan ladang ranjau lama di Lembah Yordan sebagai persiapan pembangunan tembok perbatasan dengan Yordania. Langkah ini ditafsirkan sebagai antisipasi perang regional, guna mencegah Iran membuka front belakang terhadap Israel.
3. Trump Memperjelas Garis Merah
Pada 8 Januari, Presiden AS, Donald Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat akan melakukan pembalasan sangat berat jika rezim Iran menembaki rakyatnya.
Sehari kemudian, 9 Januari, laman resmi berbahasa Persia Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa rezim Iran telah menerima peringatan yang jelas dan serius.
Para analis menilai ini sebagai eskalasi dari kecaman moral menuju sinyal kebijakan nyata.
Elite Iran Bersiap Hadapi Skenario Terburuk
Di tengah krisis, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi dilaporkan tiba di Beirut, Lebanon, bersama istri dan anak-anaknya.
Media Lebanon menilai kehadiran keluarga tersebut menunjukkan bahwa kunjungan ini bukan sekadar diplomatik, melainkan indikasi bahwa elite rezim sedang menyiapkan jalur pengamanan pribadi.
Menuju Skenario Perubahan Rezim Global?
Pakar strategi Taiwan Lin Ting-hui menyebut bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menghabiskan empat hari bersama Trump di resor Mar-a-Lago selama libur Tahun Baru.
Menurut Lin, pertemuan selama itu hampir mustahil tidak membahas pengakhiran rezim Khamenei. Dia menambahkan bahwa hampir 50% impor minyak Tiongkok melewati Teluk Persia. Jika Iran berubah menjadi rezim pro-AS, jalur energi vital Beijing dapat ditekan secara langsung.
Dalam konteks ini, Lin menilai bahwa Vladimir Putin pada akhirnya bisa memilih mengorbankan Xi Jinping demi kepentingan strategis Rusia.
Starlink dan Ketakutan Beijing
Kekhawatiran Tiongkok terhadap Starlink bukan isapan jempol. Media internal Tiongkok mengakui bahwa mengganggu jaringan Starlink secara total membutuhkan sistem gangguan berskala sangat besar, yang secara tidak langsung menegaskan bahwa komunikasi satelit adalah titik vital konflik masa depan, termasuk di kawasan Taiwan.
Jika Iran benar-benar mengalami perubahan rezim, pertanyaan besar pun muncul di panggung global: apakah Beijing akan menjadi target berikutnya, atau justru memilih konfrontasi terbuka?
Peristiwa malam 8 Januari 2026 kini dipandang bukan sekadar krisis domestik Iran, melainkan awal dari potensi pergeseran geopolitik besar di Timur Tengah—dan mungkin dunia.



