Tabrakan di Bulan Lebih dari Sekadar Fenomena Langit

mediaindonesia.com
19 jam lalu
Cover Berita

Kilatan cahaya singkat yang muncul di sisi gelap Bulan pada Desember 2025 bukan hanya peristiwa astronomi biasa. Bagi komunitas ilmiah, momen tersebut menjadi pengingat bahwa Bulan dan ruang angkasa merupakan lingkungan yang aktif, dinamis, sekaligus menyimpan risiko nyata bagi aktivitas manusia.

Kilatan itu terjadi saat sebuah objek kecil dari luar angkasa menghantam permukaan Bulan secara langsung. Meski ukurannya diperkirakan hanya beberapa sentimeter, objek tersebut melaju dengan kecepatan sekitar 35 kilometer per detik. Tabrakan berkecepatan tinggi inilah yang memicu ledakan panas dan cahaya yang cukup terang untuk terekam teleskop.

Peristiwa langka ini teramati secara langsung oleh para astronom di Armagh Observatory and Planetarium, Irlandia. Biasanya, tabrakan di Bulan baru diketahui setelah rekaman dianalisis ulang beberapa jam kemudian. Pengamatan real-time ini memberikan nilai ilmiah yang jauh lebih besar.

Bulan Tanpa Perisai Alami

Tidak seperti Bumi yang dilindungi atmosfer tebal, Bulan nyaris tak memiliki pelindung alami. Akibatnya, batuan kecil dari luar angkasa yang mendekat tidak akan terbakar lebih dulu, melainkan langsung menghantam permukaan.

Para peneliti menduga objek yang memicu kilatan tersebut merupakan bagian dari hujan meteor Geminid. Jika di Bumi Geminid tampil sebagai bintang jatuh yang indah, di Bulan fenomena yang sama berubah menjadi tumbukan fisik yang keras.

Kondisi inilah yang menjadikan Bulan sebagai laboratorium alami untuk mempelajari seberapa sering mikrometeoroid menghantam permukaan dan seberapa besar bahayanya bagi lingkungan antariksa.

Data Penting bagi Keselamatan Astronaut

Informasi mengenai frekuensi dan karakteristik tabrakan memiliki arti krusial, terutama bagi misi eksplorasi manusia. Program NASA melalui proyek Artemis menargetkan kembalinya manusia ke Bulan sekaligus pembangunan pangkalan jangka panjang.

Data dari tumbukan semacam ini digunakan untuk merancang dinding habitat yang lebih kuat, lapisan pelindung tambahan, hingga pakaian antariksa yang mampu menahan hantaman partikel kecil berkecepatan tinggi. Tanpa perlindungan memadai, mikrometeoroid berukuran milimeter saja berpotensi merusak peralatan vital atau membahayakan nyawa astronot.

Dengan demikian, setiap kilatan cahaya di permukaan Bulan bukan sekadar tontonan, melainkan sumber data keselamatan yang sangat berharga.

Bulan sebagai Arsip Tabrakan Kosmik

Permukaan Bulan sendiri merupakan catatan panjang sejarah tabrakan kosmik. Dari terbentuknya Mare Imbrium akibat hantaman asteroid raksasa miliaran tahun silam, hingga tabrakan buatan seperti misi LCROSS (2009) dan Lunar Prospector (1999), Bulan terus menyimpan jejak interaksi benda langit.

Bahkan, teori pembentukan Bulan menyebutkan bahwa satelit alami ini lahir dari tabrakan dahsyat antara Bumi purba dan objek seukuran Mars bernama Theia sekitar 4,5 miliar tahun lalu.

Keberhasilan merekam tabrakan secara langsung menandakan kemajuan signifikan teknologi pemantauan antariksa. Dari setiap kilatan singkat tersebut, para ilmuwan semakin memahami bahwa eksplorasi luar angkasa bukan hanya tentang penemuan dan petualangan, tetapi juga tentang mengelola risiko di lingkungan yang keras dan tak kenal ampun. (E-3)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Rumah Tangga Syahrini dan Reino Jauh dari Gosip Negatif, Tips Pernikahan Awet
• 15 jam lalugenpi.co
thumb
Sejarah Hari Ini, 10 Januari Jalan Menuju Orde Baru dan Lahirnya Tritura
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Ruas jalan Blangkejeren-Kutacane ditargetkan rampung dalam dua hari
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
6 Mitos Pacaran yang Viral di Media Sosial, Jangan Mudah Percaya
• 9 jam laluinsertlive.com
thumb
Harga Emas Antam Kembali Naik, Capai Rp2,602 Juta per Gram Hari Ini
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.