EtIndonesia. Di sebuah negara Barat, hiduplah seorang manajer yang menanamkan seluruh tabungan yang dia kumpulkan selama bertahun-tahun ke dalam sebuah usaha manufaktur kecil. Namun, akibat pecahnya perang dunia, dia tidak lagi bisa mendapatkan bahan baku yang dibutuhkan pabriknya. Tak ada pilihan lain, dia terpaksa menyatakan bangkrut.
Kehilangan harta dan runtuhnya pabrik membuatnya sangat terpukul. Dia merasa dirinya telah menyeret keluarganya ke dalam kehancuran. Didorong oleh rasa bersalah dan putus asa, dia meninggalkan istri dan anak-anaknya, lalu menjalani hidup sebagai seorang gelandangan.
Kenangan masa lalu terus berputar di benaknya. Dia tak mampu melupakan apa yang telah hilang, terus terjebak dalam masa lalu, dan sama sekali tidak mau memikirkan hari esok. Kesedihannya kian dalam, hingga pada suatu titik dia bahkan berniat melompat ke danau untuk mengakhiri hidupnya.
Suatu hari, secara kebetulan, dia melihat sebuah buku berjudul Kepercayaan Diri. Buku itu membahas bagaimana membangun kembali keyakinan diri, bagaimana bangkit setelah kehidupan dan pekerjaan runtuh, serta bagaimana menata ulang hidup setelah kegagalan. Setelah membacanya, hatinya dipenuhi kembali oleh keberanian dan harapan. Dia pun memutuskan untuk menemui penulis buku tersebut dan meminta bantuannya agar bisa bangkit kembali.
Dia mencari ke sana kemari, hingga akhirnya berhasil menemukan penulis itu.
Setelah menceritakan seluruh kisah hidupnya, sang penulis berkata: “Aku mendengarkan ceritamu dengan penuh perhatian dan aku sungguh berharap bisa membantumu. Namun sejujurnya, aku sama sekali tidak punya kemampuan untuk menolongmu.”
Wajah pria itu seketika pucat.
Dia terdiam beberapa menit, lalu menundukkan kepala dan bergumam pelan: “Kalau begitu, tamatlah sudah.”
Beberapa detik kemudian, sang penulis melanjutkan: “Walaupun aku tidak bisa membantumu, aku bisa memperkenalkanmu kepada seseorang. Orang ini mampu menolongmu bangkit kembali.”
Mendengar itu, sang gelandangan langsung melompat berdiri, menggenggam tangan penulis dengan penuh harap: “Demi Tuhan, tolong antarkan aku menemui orang itu.”
Penulis itu lalu membawanya ke sebuah kamar tidur di bagian dalam rumah. Di sana, dia mengajaknya berdiri di depan sebuah cermin besar.
Sambil menunjuk ke arah cermin, penulis itu berkata: “Orang yang kumaksud adalah dia. Di dunia ini, hanya dengan bantuan orang ini kamu bisa bangkit kembali. Tapi kamu harus duduk dengan tenang, menatapnya baik-baik, dan mengenalnya secara mendalam. Jika tidak, lebih baik kamu melompat ke Danau Michigan saja. Karena sebelum kamu benar-benar mengenal orang ini, bagi dirimu sendiri maupun bagi dunia, kamu hanyalah orang yang tidak memiliki nilai apa pun.”
Pria itu melangkah mendekati cermin, menyentuh wajahnya yang penuh janggut, dan menatap sosok di cermin dari ujung kepala hingga ujung kaki selama beberapa menit. Lalu dia mundur beberapa langkah, menundukkan kepala, dan mulai menangis terisak-isak.
Tak lama kemudian, dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada sang penulis.
Beberapa hari berselang, penulis itu melihat pria tersebut kembali di jalanan. Dia hampir tak mengenalinya. Langkahnya kini mantap dan ringan, kepalanya tegak, pakaiannya rapi dan bersih. Dia tampak seperti orang yang sukses dan penuh percaya diri.
Dengan heran, penulis itu menyapanya.
Mantan gelandangan itu dengan penuh semangat berkata: “Hari ketika saya meninggalkan kantor Anda, saya masih seorang gelandangan. Tapi di depan cermin itu, saya menemukan kembali kepercayaan diri saya. Sekarang, saya telah mendapatkan pekerjaan dengan gaji tahunan 3.000 dolar. Atasan saya bahkan telah memberi uang muka untuk membantu keluarga saya. Saya sudah kembali berada di jalur kesuksesan.”
Dia berhenti sejenak, lalu berkata sambil tersenyum, “Suatu hari nanti, saya akan kembali menemui Anda. Saya akan membawa sebuah cek yang sudah saya tandatangani, dengan nama penerima Anda dan jumlahnya masih kosong—silakan Anda isi sendiri. Karena Andalah yang membuat saya mengenal diri saya. Untung Anda menyuruh saya berdiri di depan cermin besar itu dan menunjukkan siapa diri saya yang sebenarnya.”
Renungan / Hikmah Cerita
Di dunia ini, hanya diri kitalah yang benar-benar mampu menolong diri kita sendiri untuk bangkit kembali. Dan hanya diri kita pula yang bisa menyadari nilai sejati yang kita miliki.
Dengan kepercayaan diri, kita dapat mengenal diri sendiri secara utuh, mampu menghadapi berbagai ujian, rintangan, dan kegagalan, serta berani melangkah untuk meraih kemenangan pada akhirnya.(jhn/yn)




