Bisnis.com, MEDAN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang mengaku telah meminta kepada pemerintah pusat untuk mendukung program mitigasi bencana banjir, salah satunya lewat proyek pengerukan sungai.
Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi mengatakan wilayahnya menjadi langganan banjir karena sungai-sungai mengalami pendangkalan atau tersedimentasi. Hal ini yang menyebabkan sungai cepat meluap saat intensitas hujan meningkat.
"Kami memang cukup sulit untuk memitigasi masalah banjir ini. Saya sudah minta ke pemerintah pusat proyek pengerukan Sungai Tamiang karena bencana ini akibat luapan sungai yang sedimennya memang cukup tebal," ucap Armia Pahmi di Tamiang, Jumat (9/1/2026).
Dikatakan Armia, pemerintah merespons positif permintaan untuk memitigasi bencana banjir di Aceh Tamiang.
Pada Februari mendatang proyek pengerukan sedimentasi di Sungai Tamiang yang merupakan sungai terbesar di wilayah ini dijadwalkan akan mulai dilakukan.
"Pertengahan Februari nanti sungai itu akan dikeruk dari muara sampai hulu. Harapannya upaya itu bisa mengurangi banjir di Tamiang," ujar Armia.
Baca Juga
- Jalan Tol Sigli-Banda Aceh Seksi I Dibuka Gratis hingga 22 Januari 2026
- Bencana Banjir dan Longsor Aceh, Pendataan Rumah Rusak Dibuka hingga 15 Januari 2026
- KKP Catat Ada 30.000 Hektare Tambak Budidaya Terdampak Banjir Aceh
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Aceh Tamiang menjadi salah satu daerah yang terdampak cukup signifikan pada bencana banjir besar pada akhir November 2025.
Jumlah korban meninggal dunia di Aceh Tamiang mencapai 101 orang, menduduki posisi kedua setelah Aceh Utara yang berjumlah 230 orang.
Tamiang juga menjadi daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak dari 18 kabupaten/kota yang terdampak banjir besar, mencapai 74,7 ribu jiwa.
Polri Selidiki Penyebab Banjir Aceh TamiangKepolisian Republik Indonesia (Polri) turun langsung ke Kabupaten Aceh Tamiang untuk mengusut dugaan pembalakan liar yang disebut jadi pemicu banjir bandang di kawasan ini.
Direktur Tindak Pidana Tertentu (Dirtipidter) Bareskrim Polri Mohammad Irhamni mengatakan, penyelidikan difokuskan pada aliran sungai yang membawa gelondongan kayu hingga ke kawasan permukiman.
Tim penyelidik disebutnya akan melakukan identifikasi dan pencocokan kayu-kayu yang ditemukan di sekitar Pesantren Darul Mukhlisin guna memastikan sumber material kayu tersebut.
"Kami mencocokkan kayu-kayu yang ada di lokasi terdampak dengan kondisi di daerah hulu untuk mengetahui asal muasalnya," ujar Irhamni dikutip dari laman resmi Polri, Jumat (9/1/2026).
Dia mengungkapkan, penyelidikan juga menemukan sedimentasi yang sangat tinggi di kawasan terdampak yang memperparah dampak banjir, bahkan hingga merusak rumah warga dan fasilitas umum di Aceh Tamiang.
Lebih jauh, Tim Dittipidter juga menelusuri sejumlah wilayah terdampak di Kabupaten Aceh Timur, salah satunya Kecamatan Simpang Jernih.
Irhamni mengatakan, dugaan sementara pemicu banjir bandang bersumber dari kerusakan lingkungan dari kawasan hulu di Kampung Lesten Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues, serta Desa Lokop di Kabupaten Aceh Timur.
"Kemungkinan identifikasi kami mengarah pada kegiatan pembukaan lahan di kawasan hutan lindung, termasuk hutan lindung serba guna dan hutan lindung Simpang Jernih," ungkapnya.
Dia menegaskan Polri hingga saat ini masih berupaya mengumpulkan informasi untuk meningkatkan status penyelidikan penyebab bencana banjir Aceh ini ke tahap penyidikan.




