Lamongan, tvOnenews.com - Banjir akibat luapan Sungai Bengawan Njero di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur membuat sejumlah fasilitas umum seperti tempat pendidikan dan ibadah serta jalan antar desa masih terendam air.
Banjir yang terjadi hampir selama dua bulan itu semakin meningkat. Ketinggiannya dari 30 sentimeter hingga satu meter di lima kecamatan. Kelima kecamatan tersebut adalah Kecamatan Kalitengah, Kecamatan Turi, Kecamatan Karangbinangun, Kecamatan Glagah, dan Kecamatan Deket.
Seorang warga Desa Ketapang Telu, Kecamatan Karangbinangun Rubai Hamid mengatakan banjir yang melanda hampir dua bulan namun pemerintah kurang serius dalam penangan banjir dari hulu ke hilir.
"Tadi ada gubernur dan bupati datang ke lokasi banjir, mereka bagikan sembako dan mie instan terus balik," ujar Hamid.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan bahwa berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda, curah hujan pada Januari menjadi yang tertinggi dibandingkan bulan lainnya.
Diperkirakan intensitas hujan pada Desember hanya sekitar 20 persen, sementara Januari ini mencapai 58 persen atau hampir tiga kali lipat. Pada Februari diprediksi turun menjadi 22 persen.
“Hal ini berpotensi meningkatkan risiko banjir di sejumlah wilayah Jawa Timur, khususnya daerah aliran sungai Bengawan Jero yang bermuara hingga wilayah Kabupaten Gresik. Karena itu, selain melakukan modifikasi cuaca Pemprov Jatim juga menyiapkan langkah struktural berupa normalisasi kanal sungai hingga ke laut,” jelasnya Khofifah.
Normalisasi kanal tersebut direncanakan sepanjang sembilan kilometer dan akan melibatkan kerja sama lintas daerah dengan Pemerintah Kabupaten Gresik. Pasalnya, jalur kanal akan melintasi kawasan pinggiran Jipeng yang menjadi perhatian masyarakat setempat terkait potensi luapan air.
“Kami perlu komunikasi dan koordinasi intensif dengan Pemkab Gresik karena ada kekhawatiran limpasan air ke wilayah mereka. Semua langkah ini dilakukan agar aliran air bisa terkendali,” tutur Khofifah.
Sebagai langkah darurat, Gubernur menyebutkan penutupan pintu air Kuro yang dilakukan oleh Bupati setempat. Di lokasi tersebut terdapat enam pintu air dengan kapasitas total mencapai 840 liter per detik. Namun, tidak seluruh pintu dapat dioperasikan secara bersamaan mengingat banyaknya anak sungai yang bermuara ke jalur tersebut.
“Kalau semua dibuka, air dari anak-anak sungai akan mengalir ke satu titik. Jadi pengoperasiannya harus bertahap, menyesuaikan dengan kondisi hujan. Jika intensitas hujan mulai mereda, suplai air ke sungai berkurang dan genangan bisa berangsur surut,” jelasnya.
Khofifah menegaskan, upaya mitigasi bencana memerlukan keterlibatan semua pihak, termasuk pemerintah daerah, instansi teknis, hingga media massa. Ia mengajak seluruh elemen untuk bersama-sama membangun kewaspadaan publik menghadapi puncak musim hujan. (mmr/ias)




