Dari Tradisi ke Inovasi, Anyaman Bambu Desa Buniayu Tembus Pasar Modern

merahputih.com
19 jam lalu
Cover Berita

MerahPutih.com - Di tengah semakin langkanya kerajinan tangan di era modern, produk kerajinan bambu justru masih lestari di Desa Buniayu, Kecamatan Sukamulya, Kabupaten Tangerang. Di desa ini, masyarakat secara konsisten menjaga warisan budaya melalui sebuah sentra kerajinan bambu bernama Saung Bakul.

Saung Bakul tidak hanya berfungsi sebagai sentra UMKM kerajinan bambu, tetapi juga menjadi wadah edukasi dan pelestarian kearifan lokal bagi masyarakat setempat.

Salah satu penggerak Saung Bakul, Murdani, mengatakan sentra kerajinan ini dibangun sebagai upaya melestarikan keterampilan mengolah bambu yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para pendahulu.

“Ini adalah tempat kami memulai kerajinan bambu. Di sini juga kami berupaya mensejahterakan masyarakat sekitar melalui kearifan lokal,” ujar pria yang akrab disapa Kang Dhany saat konferensi pers kegiatan ‘Story of Buniayu’, yang diselenggarakan Kelas Internasional London School of Public Relations (LSPR) Angkatan 27 di Saung Bakul, Sabtu (10/1/2026).

Kang Dhany mengaku telah belajar membuat anyaman bambu sejak kecil. Namun, upaya pelestarian secara serius baru dimulai pada 2021, bertepatan dengan masa pandemi Covid-19. Saat itu, ia bersama warga setempat tergerak mendirikan sentra UMKM untuk menjaga keberlangsungan kerajinan bambu di Buniayu.

Sekitar setahun kemudian, pemerintah setempat menetapkan Saung Bakul sebagai sentra edukasi. Sejak saat itu, berbagai pelatihan dan pengembangan produk terus dilakukan, termasuk inovasi pada jenis kerajinan.

“Pada dasarnya, produk Saung Bakul adalah anyaman bambu seperti peralatan rumah tangga. Namun melalui berbagai kegiatan, kami mulai berinovasi, salah satunya dengan membuat produk fesyen berupa peci dari anyaman bambu,” paparnya.

Baca juga:

Menilik Kerajinan Tradisional Anyaman Tikar Daun Pandan

Seiring pengembangan tersebut, produk anyaman bambu dari Buniayu mulai dikenal di berbagai wilayah Indonesia. Meski demikian, Dhany mengakui masih terdapat tantangan, terutama dalam hal pemasaran dan digitalisasi.

Ia pun bersyukur Saung Bakul kini mendapatkan pendampingan dari LSPR, khususnya dalam pengembangan produk dan pelatihan digital.

“LSPR tertarik membantu pengembangan karena kami memang masih sangat kurang dalam digitalisasi. Sebagian besar pengrajin di Buniayu berusia 35 hingga 50 tahun,” ungkap Dhany. Ia menambahkan, peserta pelatihan yang hadir merupakan putra-putri para pengrajin bambu setempat.

Dhany berharap kolaborasi ini mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, sekaligus memperkenalkan produk anyaman bambu Buniayu hingga ke tingkat nasional bahkan internasional.

Ketua Penyelenggara Story Of Buniayu, Moza Febrianita. (Foto: Dok. Ist)

Sementara itu, Ketua Penyelenggara ‘The Story of Buniayu’, Moza Febrianita, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan mendorong penguatan UMKM serta keberlanjutan produk tradisional Indonesia melalui pelatihan digital dan pengembangan desain produk.

“Kegiatan ini bertujuan memperkuat promosi digital, meningkatkan mutu desain, serta mendorong daya saing pengrajin lokal agar produk anyaman bambu dari Desa Buniayu mampu bersaing di pasar internasional,” jelas Moza.

Baca juga:

Indonesia Ekspor Perdana Produk Kerajinan Serat Alam Enceng Gondok ke Amerika

Menilik Sentra Kerajinan Gamelan Kuningan Daliyo Legiyono Yogyakarta Sejak 1954

Ia menambahkan, pihaknya ingin menghadirkan inovasi agar produk anyaman bambu tetap relevan dengan perkembangan zaman, khususnya di sektor fesyen.

“Kami ingin mencoba memberikan inovasi agar Desa Buniayu lebih dikenal, terutama dari sisi fesyennya. Pengrajin terbiasa menggunakan bahan tradisional, sementara kami sebagai Gen Z ingin mengembangkan anyaman bambu dengan pendekatan yang lebih modern,” ujarnya.

Moza berharap kolaborasi antara LSPR dan masyarakat Buniayu dapat melahirkan produk anyaman bambu yang lebih beragam, sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga dan menjaga kelestarian tradisi.

“Kami berharap Desa Buniayu semakin dikenal, potensi lokalnya berkembang, kesejahteraan warga meningkat, dan generasi mudanya mau melanjutkan tradisi anyaman bambu,” tutupnya. (*)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
PDI Perjuangan Depok Tolak Wacana Pilkada Dipilih DPRD
• 21 jam lalurealita.co
thumb
Haul KH Hasyim Muzadi ke-9, Gus Yusron Ajak Alumni Satukan Keilmuan Ulama dan Umara
• 14 jam lalurepublika.co.id
thumb
PDIP Tetap Tolak Pilkada Via DPRD, Ganjar: Sikap Partai tak Berubah
• 13 jam lalujpnn.com
thumb
Layanan SIM Keliling di Jakarta Hanya Buka di Dua Lokasi pada Minggu
• 9 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kejagung Diminta Geledah KPK Terkait Penanganan Kasus Tambang Konawe
• 3 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.