jpnn.com - JAKARTA - Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam menilai sudah saatnya Nahdlatul Ulama (NU) memiliki Majelis Permusywaratan Syuriah.
"Saat ini NU butuh kelembagaan kolektif supaya menjadi lembaga yang tangguh dari berbagai intervensi yang memungkinkan NU ditarik dalam pusaran kepentingan tertentu. Butuh semacam Majelis Permusyawaratan Syuriah," ujarnya, Sabtu (10/1).
BACA JUGA: Begini Kata Kiai Maruf Amin soal Muktamar NU Bersama
Menurut Gus Salam, Majelis Permusyawaratan Syuriah bisa terdiri dari sejumlah ulama yang memimpin NU dalam satu periode secara kolektif, dan kepemimpinannya ditunjuk bergiliran setiap tahun hingga selesai dalam satu periode lima tahun.
"Majelis Syuriah dapat merumuskan kepemimpinan tanfidziyah dalam satu periode yang diputuskan dalam Muktamar NU," katanya.
BACA JUGA: Wasekjen PBNU Nilai Gus Yahya Ulur Waktu, Islah Tak Ditindaklanjuti
Gus Salam menganggap ada beberapa keutamaan dengan format Majelis Permusyawaratan Syuriah, seperti institusi yang independen, mempunyai struktur yang mengembalikan fungsi syuriah sebagai supremasi institusi yang lebih independen, yang bisa memilah antara sikap individu dan sikap kelembagaan.
Kelembagaan NU pun terkontrol karena Majelis Permusywaratan Syuriah akan lebih objektif dalam kontrol kelembagaan NU yang dijalankan oleh tanfidziyah.
BACA JUGA: Rasyid Mayang: Gus Salam Cocok Memimpin PBNU
"Tidak ada lagi persoalan individu, tidak ada lagi persoalan suka dan tidak suka kepada pribadi, tidak ada lagi individu yang dominan, tidak ada pihak pihak yang mengataskan pribadi tertentu untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu," ujar Gus Salam.
Menurutnya, dengan Majelis Permusyawaratan Syuriah pun ada konsistensi keberlanjutan.
Lalu, dengan Majelis Permusyawaratan Syuriah, ada penjaga otorita institusi.
Majelis Permusyawaratan Syuriah pun bisa menjadi penjaga martabat keilmuan. "Semoga ini bisa menjadi arah baru bagi NU," kata Gus Salam. (*/jpnn)
Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan


