Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Kuliner dan fesyen jadi primadona, sumbang triliunan rupiah ke kas negara
Momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 terbukti menjadi angin segar bagi sektor ekonomi kreatif di Indonesia.
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mencatat, kontribusi langsung sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) selama periode Nataru mencapai Rp24,46 triliun, hampir setengah dari tambahan PDB nasional sebesar Rp48,56 triliun.
Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa dampak libur panjang tidak bersifat sementara, melainkan mencerminkan potensi strategis ekonomi kreatif yang bisa dikelola secara berkelanjutan.
"Data ini menunjukkan ekonomi kreatif bukan hanya ikut terdorong oleh momentum libur panjang, tetapi mampu menjadi tulang punggung perputaran ekonomi jika dirancang sebagai strategi tahunan yang terintegrasi," ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 10 Januari 2026.
Kuliner, Fesyen, dan Kriya Jadi Primadona
Kajian Kementerian Ekraf menunjukkan perubahan perilaku konsumen yang semakin mengarah ke produk kreatif, seperti kuliner lokal, fesyen, kriya, hingga hiburan dan seni.
Berdasarkan data jejak digital melalui Google Trends, minat terhadap kuliner meningkat tajam pada 28 Desember 2025, pencarian hotel melonjak pada 31 Desember 2025, sementara hiburan keluarga termasuk bioskop berada di titik tertinggi pada 25–26 Desember 2025.
Dari sisi pelaku usaha, survei menunjukkan 76,93 persen responden mengalami peningkatan penjualan, dan 73,08 persen mencatat kenaikan keuntungan selama Nataru. Mayoritas pelaku berada di skala mikro, dengan subsektor kuliner, fesyen, dan kriya menjadi penyumbang terbesar.
Kontribusi terbesar terhadap PDB ekraf selama Nataru datang dari kuliner sebesar Rp19,9 triliun, diikuti fesyen Rp3,9 triliun, dan kriya Rp0,24 triliun.
Produk Ekraf Jadi Prioritas Belanja Wisatawan
Pengeluaran wisatawan selama Nataru mayoritas untuk transportasi dan akomodasi, namun belanja untuk produk kreatif, mulai dari makanan, cinderamata, hingga ritel mencapai rata-rata Rp858 ribu per orang. Angka ini menegaskan potensi besar produk ekraf untuk terus diperkuat dalam rantai konsumsi wisata.
Menteri Ekraf menambahkan, pengelolaan momentum Nataru secara sistematis melalui Pasar Ekraf dan integrasi ekosistem dapat mendorong pertumbuhan PDB sekaligus meningkatkan daya saing jenama lokal secara berkelanjutan.
"Jika momentum seperti Nataru dikelola dengan strategi yang terencana, dampaknya tidak hanya mendorong PDB, tetapi juga memperkuat posisi produk lokal di pasar nasional maupun internasional," ucapnya.
Editor: Redaktur TVRINews




