Jakarta, VIVA – Dalam beberapa tahun terakhir, cara generasi muda memandang uang dan masa depan mengalami pergeseran signifikan. Jika generasi sebelumnya identik dengan menabung agresif, membeli rumah sedini mungkin, dan mempersiapkan uang pensiun sejak dini, Gen Z justru berbeda.
Di tengah tekanan ekonomi global, biaya hidup yang melonjak, serta ketidakpastian karier, Gen Z justru berpegang pada "soft saving". Apa itu?
Ya, alih-alih mengejar kebebasan finansial ekstrem seperti tren FIRE (financial independence, retire early), banyak Gen Z memilih fokus pada kesejahteraan mental, pengalaman hidup, dan kenyamanan saat ini. Itulah yang membuat mereka pada akhirnya memilih soft saving.
- freepik.com/freepik
Soft saving adalah pendekatan keuangan yang menempatkan kualitas hidup dan kesejahteraan saat ini di atas kebiasaan menabung agresif untuk jangka panjang. Bagi pelakunya, menabung tetap penting, tetapi hanya dilakukan dari sisa penghasilan setelah kebutuhan hidup, kesehatan mental, dan kebahagiaan terpenuhi.
Konsep ini sangat kontras dengan FIRE yang menuntut pengorbanan besar di masa muda demi pensiun lebih awal.
Tren ini tidak muncul tanpa alasan. Kenaikan harga rumah, beban utang pendidikan, serta pasar kerja yang tidak stabil memaksa banyak anak muda mendefinisikan ulang arti “sukses secara finansial”. Dalam kondisi tersebut, menikmati hidup hari ini terasa lebih masuk akal dibanding menabung ketat untuk masa depan yang belum tentu terjangkau.
Melansir dari Investopedia, Minggu, 11 Januari 2026, survei Intuit 2023 menunjukkan hampir tiga perempat Gen Z lebih memilih kualitas hidup yang lebih baik dibanding tambahan uang di tabungan. Jumlah yang sama menyebut kondisi ekonomi saat ini membuat mereka ragu menetapkan tujuan jangka panjang, bahkan 66 persen mengaku tidak yakin akan pernah memiliki cukup uang untuk pensiun.
Ketidakpastian global juga berperan besar. Survei TIAA tahun 2024 mencatat 48 persen Gen Z terdorong untuk menikmati hidup saat ini akibat tantangan global, lebih tinggi dibanding mereka yang justru termotivasi merencanakan masa depan.
Meski kerap dicap boros, data menunjukkan Gen Z tidak sepenuhnya abai pada keuangan. Sebanyak 84 persen mengaku tetap menyisihkan sebagian gaji setiap bulan, dan 57 persen berusaha mematuhi anggaran.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5466793/original/042230000_1767855278-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__5_.jpg)
