Penulis: Fityan
TVRINews - Washington
Raksasa Energi AS Masih Ragu dan Sebut Venezuela Belum Layak Investasi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi meminta komitmen investasi senilai sedikitnya 100 miliar dolar AS dari industri minyak global untuk memulihkan sektor energi Venezuela.
Namun, ajakan tersebut disambut dengan sikap skeptis dari para pemimpin perusahaan energi besar yang menilai stabilitas politik di negara Amerika Selatan itu masih belum terjamin.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Gedung Putih pada hari Sabtu 10 Januari 2025, Trump menekankan bahwa pembukaan kembali keran minyak Venezuela merupakan langkah strategis untuk menekan harga energi global.
Langkah ini menyusul operasi militer AS pada 3 Januari lalu yang berhasil menangkap pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro.
"Salah satu keuntungan yang didapat Amerika Serikat dari langkah ini adalah harga energi yang jauh lebih rendah," ujar Trump dalam pertemuan tersebut,yang dikutip oleh BBC News.
Keamanan Aset Menjadi Kendala Utama
Meskipun mengakui besarnya cadangan energi Venezuela, para eksekutif minyak papan atas menyatakan bahwa perubahan struktural dan hukum yang signifikan diperlukan sebelum mereka bersedia menanamkan modal dalam skala besar.
CEO ExxonMobil, Darren Woods, memberikan peringatan keras mengingat pengalaman pahit perusahaannya di masa lalu.
Ia menegaskan bahwa aset Exxon telah disita sebanyak dua kali oleh pemerintah Venezuela sebelumnya.
"Untuk masuk kembali untuk ketiga kalinya akan memerlukan perubahan yang sangat signifikan dari apa yang kita lihat secara historis dan kondisi saat ini," tegas Woods.
Ia secara eksplisit menyatakan bahwa saat ini Venezuela masih berstatus "tidak layak untuk investasi" (uninvestable).
Kendali Penuh Washington
Pemerintah AS saat ini tengah berupaya menghapus sanksi ekonomi secara selektif untuk memfasilitasi penjualan minyak.
Washington juga telah menjalin koordinasi dengan otoritas transisi di Venezuela yang saat ini dipimpin oleh Wakil Presiden Delcy Rodríguez.
Namun, Presiden Trump menegaskan bahwa kendali atas operasional sektor minyak akan berada di bawah otoritas Amerika Serikat.
"Anda berurusan langsung dengan kami, bukan dengan Venezuela. Kami tidak ingin Anda berurusan dengan pihak sana," tuturnya.
Untuk memperkuat posisi hukumnya, Trump menandatangani perintah eksekutif yang melarang pengadilan AS menyita pendapatan minyak Venezuela yang disimpan dalam rekening Departemen Keuangan AS.
Langkah ini bertujuan untuk melindungi dana tersebut agar dapat digunakan bagi stabilitas ekonomi dan politik Venezuela di bawah pengawasan AS.
Tantangan Teknis dan Geopolitik
Para analis energi menilai target investasi 100 miliar dolar yang dilontarkan Trump sebagai angka yang sangat ambisius.
David Goldwyn, Presiden dari Goldwyn Global Strategies,kepada BBC News mengatakan, bahwa perusahaan besar seperti Exxon atau Shell tidak akan berani mengambil risiko tanpa jaminan
keamanan fisik dan kerangka fiskal yang kompetitif.
"Industri belum sepenuhnya menyambut ini karena kondisinya belum tepat," jelas Goldwyn.
Ia menambahkan bahwa perusahaan kecil mungkin akan masuk dengan investasi terbatas, namun jauh dari angka fantastis yang diharapkan Gedung Putih.
Saat ini, produksi minyak Venezuela berada di kisaran satu juta barel per hari, atau kurang dari satu persen dari total pasokan dunia. Meskipun perusahaan seperti Chevron dan Repsol telah merencanakan peningkatan produksi secara bertahap, para pakar sepakat bahwa stabilitas politik penuh adalah syarat mutlak sebelum komitmen finansial besar benar-benar terwujud.
Editor: Redaktur TVRINews

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5469607/original/010109400_1768137869-d57847d8-40b8-4c0b-91f0-52be226ecac4.jpeg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5469626/original/082907000_1768140548-WhatsApp_Image_2026-01-11_at_20.18.34__1_.jpeg)
