Henri Subiakto Paparkan Dampak Besar jika Negara Punya Pemimpin Sudah Tua dan Anak Muda yang Dikarbit

fajar.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

FAJAR.CO.ID,JAKARTA — Guru Besar Ilmu Komunikasi di Universitas Airlangga (Unair), Henri Subiakto bicara soal bahaya negara yang dipimpin oleh orang yang sudah tua.

Lewat cuitan di akun media sosial X pribadinya, Henri bicara soal beberapa dampaknya.

Menurutnya orang yang memiliki usia tua disebutnya cenderung lebih suka berbicara dan tentunya didengarkan pembicaraannya yang arahnya ke menasehati.

“Kecenderungan orang yg sudah tua itu inginnya bicara dan didengarkan pengalaman dan pengetahuannya. Walau lawan bicara mungkin tidak tertarik atau bosan, tetap saja si orang tua ingin lebih banyak bercerita atau bahkan menasehati,” tulisnya dikutip Minggu (11/1/2026).

Apalagi yang dibicarakan itu sudah jauh dan ketinggalan jaman. Henri menyebut ini sebagai sesuatu yang wajar.

Alasannya, karena sudah dari orang tua biasamya sudah tertinggal. Tapi keinginan mereka untuk tetap mendapatkan pengakuan dan berguna sangat besar.

“Orang tua walau dunianya sudah tertinggal, mereka tetap ingin diakui dan merasa berguna, hingga ingin dihargai pengetahuannya. Akhirnya sering jadi kurang seimbang, kesediaan orang tua mendengarkan itu lebih sedikit dibanding keinginannya menumpahkan pengalaman yang sebenarnya acapkali tidak relevan lagi bagi yg muda,” ungkapnya.

Alasan-alasan inilah yang disebutnya untuk jadi patokan menghindari pemimpin yang memilih usia yang sangat tua.

Bisa saja, pemimpin yang memiliki usia tua sesuai dengan apa yang dimaksud sebelumnya.

“Makanya kalau pilih pemimpin itu jangan yang sudah terlalu tua, pasti modelan begitu akan susah untuk diminta mau mendengarkan dan menerima masukan,” jelasnya.

Tegas ia menyebut sangat sulit untuk membuat orang yang sudah berumur untuk bisa menerima masukan.

Ini tentunya juga bisa sulit jika anak muda yang memberikan masukan juga terlihat asal-asalan.

Salah satu ciri pemimpin yang baik menurutnya yaitu masih berjiwa muda, tapi terbukti maju karena pengalaman mandiri, dan maju karena teruji dalam studi.

“Orang terlalu tua jangan diharap banyak mau terbuka terhadap masukan. Tapi bukan pula berarti harus milih yang asal muda. Apalagi yang muda hanya asal kelihatan maju. Karena anak muda pun bisa gak berguna jika majunya karena didorong dan dikarbit oleh kekuatan besar orang tuanya. Harus cari yang masih berjiwa muda, tapi terbukti maju karena pengalaman mandiri, dan maju karena teruji dalam studi,” paparnya.

“Orang tuapun juga ada yang maju karena teruji dan terbukti sukses dalam berbagai jabatan dan studi. Hingga terasah untuk mengikuti perkembangan dan mau mendengarkan masukan,” sambungnya.

Salah satu contoh menurut Henri memiliki Presiden yang sudah berumur terlihat dari Amerika Serikat.

Bagaimana sistem Pemerintahan yang disebut demokrasi, namun nyatanya substansinya cenderung otoriter.

“Punya presiden terlalu tua, jadi seperti Amerika Serikat sekarang, pemerintahannya bersistem demokrasi tapi substansinya cenderung otoriter. Banyak kebijakan yang mengabaikan masukan karena tak hirau dan tak mau mendengarkan dunia yang sudah berubah cepat,” terangnya. (Erfyansyah/fajar)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bawang Bombay Ilegal 133 Ton di Semarang Disidak Mentan, Polisi Periksa 6 Sopir
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Pakai KUHAP Baru, KPK Tak Lagi Pajang Para Tersangka Saat Konferensi Pers
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Bagaimana Penyebaran Kasus Superflu di Indonesia?
• 11 jam lalukompas.id
thumb
Mahfud MD Akui Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat KUHP
• 7 jam lalurealita.co
thumb
Besok Ratusan Eks Karyawan Sritex Demo di PN Niaga Semarang, Ini Tuntutannya
• 18 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.