JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri menegaskan bahwa generasi muda menjadi kelompok yang paling merasakan kecemasan akibat krisis iklim dan kerusakan lingkungan.
Hal itu disampaikan Megawati saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDI Perjuangan di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).
Megawati mengawali pidatonya dengan menggambarkan situasi krisis iklim global.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban, kata dia, bumi mengalami suhu terpanas dalam lebih dari 100.000 tahun terakhir.
“Yang paling merasakan kecemasan ini adalah generasi muda. Mereka hidup dalam ketidakpastian, memandang masa depan dengan kegelisahan,” kata Megawati.
Baca juga: Megawati Kalungkan Medali Kehormatan kepada 6 Kader PDI-P, Ada Fx Rudy dan Ribka
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=generasi muda, kerusakan lingkungan, krisis iklim, kebijakan pembangunan&post-url=aHR0cHM6Ly9uYXNpb25hbC5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8xMS8wOTEwMzI0MS9zYWF0LXJha2VybmFzLXBkaS1wLWphZGktcGFuZ2d1bmctbWVnYXdhdGktbWVuZ2luZ2F0a2FuLWJhaGF5YS1rcmlzaXM=&q=Saat Rakernas PDI-P Jadi Panggung Megawati Mengingatkan Bahaya Krisis Ekologis...§ion=Nasional' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Ia menjelaskan, perubahan iklim telah memicu rangkaian bencana hidrometeorologi, mulai dari badai, banjir, kekeringan, hingga kebakaran hutan.
Bencana-bencana tersebut terjadi beruntun di berbagai belahan dunia tanpa mengenal batas negara maupun kelas sosial.
Megawati menambahkan, berbagai temuan ilmiah menunjukkan umat manusia tengah mendekati titik-titik kritis yang sulit dipulihkan, seperti meningkatnya suhu laut, mencairnya es di kutub ke titik terendah, serta merosotnya keanekaragaman hayati secara tajam.
“Sebagian ilmuwan bahkan menyebut fase ini sebagai awal keteruraian besar peradaban manusia,” imbuh Presiden ke-5 RI itu.
Dalam konteks nasional, Megawati menyinggung bencana ekologis dan kemanusiaan akibat hujan ekstrem yang terjadi pada 23 November 2025.
Baca juga: Megawati: Krisis Iklim Paling Mencemaskan Generasi Muda
Bencana tersebut, menurut dia, melumpuhkan puluhan kabupaten dan kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menewaskan ribuan orang, serta memaksa ratusan ribu warga mengungsi.
Megawati menegaskan bahwa peristiwa itu tidak bisa semata-mata dianggap sebagai bencana alam.
Ia menilai, kerusakan lingkungan merupakan konsekuensi langsung dari kebijakan pembangunan yang mengabaikan daya dukung ekologi.
“Kita harus berani jujur. Kerusakan ini juga dilembagakan oleh kebijakan,” ujarnya.
“Atas nama pembangunan, kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan, sebagai spons alam penyerap air, telah berubah menjadi ladang eksploitasi. Hutan alam dan wilayah adat dirampas, dibuka secara masif, lalu digantikan oleh tanaman monokultur berakar dangkal dan miskin daya dukung ekologis,” tutur Megawati.




