MAKASSAR, KOMPAS - Gempa berkekuatan M 6,4 terjadi di wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Sabtu (10/1/2026) malam. Guncangan gempa yang dirasakan hingga skala lima di beberapa titik ini membuat belasan rumah rusak berat. Pergerakan lempeng Maluku membuat aktivitas gempa terus tinggi.
Pada Sabtu, pukul 22.58 Wita, gempa terjadi di wilayah pantai timur Kepulauan Talaud, Sulut. Gempa yang awalnya terdeteksi berkekuatan M 7,1 ini tepatnya berlokasi di laut pada jarak 40 kilometer (km) arah tenggara Melonguane, Sulut, pada kedalaman 31 km.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Talaud Leida Dachlan menuturkan, hingga Minggu (11/1/2026), situasi di masyarakat mulai berangsur normal kembali. Namun, pendataan dan pemantauan terus dilakukan di lokasi-lokasi terdampak.
“Berdasarkan laporan awal hingga Minggu pagi ini, ada belasan rumah rusak di enam desa. Rumah warga ada yang roboh dindingnya, ada yang lantainya rusak, atapnya jatuh, dan lainnya. Sejauh ini tidak ada laporan korban jiwa maupun korban luka,” tutur Leida, dihubungi dari Makassar.
Beberapa rumah warga yang rusak terjadi di Desa Taduwale, Desa Mangaran, Kecamatan Kabaruan, Desa Balang Kecamatan Salibabu, hingga Kelurahan Lirung. Sejumlah rumah di desa lain juga dilaporkan rusak dan masih didata.
Saat gempa terjadi, guncangan memang terasa keras dengan durasi cukup lama. Situasi bertambah panik saat listrik padam. Warga berlarian keluar rumah dan mencari tempat aman.
Meski begitu, setelah informasi diperbarui, gempa ini diketahui tidak berpotensi tsunami. Warga perlahan mulai tenang namun tetap waspada. Beberapa warga kembali ke dalam rumah, dan sebagian terpaksa menginap di luar rumah.
Saat ini, BPBD Kepulauan Talaud terus berkoordinasi dengan petugas dan instansi terkait. Hal itu untuk melakukan pendataan utuh dampak gempa. Selain itu, petugas bersiaga seiring masih terjadinya gempa susulan. “Kami terus bersiaga dan memantau dampak bencana yang terjadi,” katanya.
Menurut data BMKG, guncangan gempa dirasakan warga hingga skala V, khususnya di daerah Talaud. Selain di wilayah Sulut seperti Bitung, hingga Manado, gempa juga dirasakan warga di wilayah Maluku, mulai dari Tobelo, hingga Morotai.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam keterangannya menurutkan, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas deformasi batuan dalam Lempeng Maluku. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan mendatar turun ( oblique normal ).
Sebelumnya, pada Oktober 2025 lalu, warga Kabupaten Kepulauan Talaud dan sekitarnya diminta menjauhi kawasan pesisir. Hal itu imbas gempa berkekuatan M 7,4 di Laut Filipina. Sementara itu, di sekitar Jailolo pernah mengalami gempa swarm atau gempa beruntun sebanyak 659 kejadian dalam periode 16 November hingga 4 Desember 2015.
Kajian Hamzah Latief, Nanang T Puspito, dan Fumihiko Imamura di Journal of Natural Disaster Science (2000) menyebutkan, dari tahun 1600 hingga 1999 telah terjadi 105 tsunami di Nusantara. Dari jumlah ini, 35 kali (32,3 persen) terjadi di Busur Banda dengan korban tewas 5.570 orang. Sedangkan Laut Maluku telah dilanda tsunami 32 kali (30,8 persen) dengan jumlah korban 7.576 orang. Bisa disimpulkan, lebih dari 60 persen lebih kejadian tsunami di Indonesia terjadi di perairan Maluku dan Maluku Utara.
Kajian Jack Rynn dari Centre for Earthquake Research in Australia (2002) menyebutkan, tsunami di kawasan Maluku dan Maluku Utara tak hanya dipicu oleh gempa bumi. Tsunami di kawasan ini banyak disebabkan oleh letusan gunung api, di antaranya letusan Gunung Teon pada 11 November 1659, Gamkonora di Halmahera pada 20 Mei 1673, dan Gamalama di Ternate pada 1 September 1763.
Sedangkan dokumen tertua tentang kejadian tsunami tertua yang pernah tercatat di Nusantara juga terjadi di Maluku, yaitu oleh naturalis Jerman yang bekerja untuk Pemerintah Belanda, Georg Everhard Rumphius (1627-1702). Dalam bukunya Amboina (1675), Rumphius dengan rinci mendeskripsikan kehancuran kawasan Ambon dan Seram akibat gempa dan tsunami dahsyat yang melanda pada 1674 (Kompas, 9/7/2019).



