Serangan jantung koroner masih menjadi momok kesehatan utama, baik di negara maju maupun negara berkembang. Kondisi ini terjadi ketika arteri koroner—yaitu pembuluh darah yang memasok oksigen dan nutrisi ke otot jantung—mengalami penyumbatan, sehingga aliran darah berkurang drastis atau bahkan terhenti total.
Tanpa penanganan cepat dan tepat, sel-sel otot jantung akan mengalami kerusakan permanen yang berujung pada kematian mendadak.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mencatat penyakit kardiovaskular sebagai penyebab kematian nomor satu di dunia. Di Indonesia, masalah ini juga sangat serius.
Berdasarkan Laporan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, kematian akibat penyakit kardiovaskular mencapai 651.481 jiwa per tahun.
Angka tersebut terdiri dari kematian akibat stroke sebanyak 331.349 jiwa, penyakit jantung koroner 245.343 jiwa, dan penyakit jantung hipertensi sebanyak 50.620 jiwa, serta selebihnya penyakit katup jantung, penyakit jantung bawaan, dan aritmia.
Besarnya angka ini menunjukkan bahwa serangan jantung bukan lagi masalah individual, melainkan persoalan kesehatan publik yang mendesak.
Serangan jantung koroner terjadi akibat terganggunya aliran darah ke otot jantung (iskemia). Bila kondisi ini tidak segera diperbaiki, sel otot jantung akan mati. Dampaknya sangat luas, mulai dari kegagalan fungsi pompa jantung, gangguan irama jantung yang mematikan, hingga henti jantung mendadak. Inilah sebabnya mengapa waktu menjadi faktor yang sangat menentukan dalam penanganan serangan jantung.
Dalam dunia kardiologi, dikenal ungkapan time is muscle. Setiap menit keterlambatan berarti semakin banyak otot jantung yang rusak. Sebuah laporan klinis menyebutkan bahwa setiap keterlambatan tindakan selama 30 menit dapat meningkatkan risiko kematian hingga 7 persen.
Kerusakan otot jantung yang luas tidak hanya meningkatkan risiko kematian, tetapi juga memicu komplikasi berat, seperti aritmia fatal, gagal jantung akut, edema paru akut, hingga syok kardiogenik.
Di sinilah peran teknologi Intervensi Koroner Perkutan (IKP) atau Percutaneous Coronary Intervention (PCI) menjadi sangat krusial. IKP—yang dikenal luas sebagai pemasangan ring atau stent jantung—merupakan tindakan membuka kembali pembuluh darah koroner yang tersumbat secara langsung. Pada kasus serangan jantung akut, tindakan ini disebut Intervensi Koroner Perkutan Primer (IKP Primer).
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa IKP Primer memberikan hasil klinis yang lebih baik dibandingkan terapi trombolitik atau obat penghancur bekuan darah. IKP Primer mampu membuka pembuluh darah secara lebih optimal, menurunkan risiko perdarahan, dan mengurangi komplikasi jangka pendek maupun jangka panjang.
Oleh karena itu, pada rumah sakit yang memiliki fasilitas dan tim medis terlatih, IKP Primer menjadi pilihan utama dalam penanganan serangan jantung koroner akut.
Namun, tantangan di Indonesia adalah belum meratanya fasilitas layanan jantung. Tidak semua rumah sakit memiliki layanan PCI yang siaga 24 jam. Pada kondisi seperti ini, terapi trombolitik masih menjadi alternatif penyelamat nyawa, meskipun hasil klinisnya tidak seoptimal IKP Primer. Ketimpangan fasilitas dan layanan inilah yang turut memengaruhi variasi angka kematian akibat penyakit jantung di berbagai daerah.
Ke depan, penguatan sistem layanan jantung terpadu menjadi kebutuhan mendesak. Peningkatan jumlah rumah sakit dengan fasilitas PCI, penguatan jejaring rujukan, pelatihan tenaga medis, dan edukasi masyarakat untuk mengenali gejala serangan jantung sejak dini merupakan kunci menurunkan angka kematian. Nyeri dada hebat yang menjalar ke lengan kiri, disertai keringat dingin dan sesak napas, bukan keluhan yang bisa ditunda.
Pada akhirnya, teknologi intervensi koroner perkutan bukan sekadar kemajuan medis, melainkan juga harapan hidup bagi jutaan orang. Ketepatan waktu, kesiapan fasilitas, dan kesadaran masyarakat akan menentukan apakah teknologi ini benar-benar mampu menyelamatkan lebih banyak nyawa di Indonesia.



