JAKARTA, KOMPAS – Anak panah beracun berusia 60.000 tahun yang ditemukan di Afrika Selatan diidentifikasi sebagai yang tertua di dunia. Para peneliti menemukan jejak racun gulma pada ujung anak panah kuarsa tersebut. Temuan ini mengungkap kecanggihan berburu manusia purba dalam melumpuhkan mangsanya.
Para peneliti dari Stockholm University, Swedia, menganalisis secara kimia 10 anak panah yang ditemukan beberapa dekade lalu di situs goa batu Umhlatuzana, Afrika Selatan. Lima dari sepuluh anak panah itu masih mengandung racun yang berasal dari spesies gulma. Racun tersebut diyakini dapat melemahkan mangsa sehingga memudahkan manusia dalam berburu.
Profesor arkeologi di Stockholm University sekaligus penulis pertama penelitian itu, Sven Isaksson, mengatakan, temuan ini menunjukkan para pemburu-pengumpul prasejarah telah memahami efek farmakologis dari tumbuh-tumbuhan. Laporan hasil penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Science Advances, Januari 2026.
Bergantung pada tumbuhan
” Manusia telah lama bergantung pada tumbuhan untuk makanan dan pembuatan alat. Namun, temuan ini menunjukkan eksploitasi yang disengaja terhadap sifat biokimia tumbuhan,” ujarnya dilansir dari Livescience, Minggu (11/1/2026).
Situs goa batu Umhlatuzana digali pada 1985. Sebelumnya, para arkeolog telah menemukan 649 fragmen kuarsa yang dibuat dari periode Howiesons Poort, periode budaya dan teknologi Afrika Selatan yang berasal dari 65.000 hingga 60.000 tahun lalu.
Penemuan anak panah beracun ini menggeser kembali penggunaan senjata beracun oleh pemburu-pengumpul yang telah dikonfirmasi lebih dari 50.000 tahun.
“Ujung panah beracun mengungkapkan bahwa para pemburu prasejarah ini dapat berpikir dengan cara yang kompleks. Racun membutuhkan waktu untuk berefek. Jadi, para pemburu harus memahami sebab dan akibat serta merencanakan perburuan mereka sebelumnya,” katanya.
Isaksson dan timnya mengamati 10 dari 216 ujung panah yang tersedia. Kesepuluh mata panah itu dipilih karena masih memiliki residu mikroskopis yang dapat dianalisis.
Temuan ini menunjukkan para pemburu-pengumpul prasejarah telah memahami efek farmakologis dari tumbuh-tumbuhan.
Mereka menemukan jejak racun buphandrine yang berasal dari tumbuhan di lima mata panah. Sementara satu mata panah juga mengandung racun epibuphanisine.
Kelima mata panah kemungkinan awalnya mengandung kedua racun tersebut, tetapi tidak cukup sisa racunnya untuk dideteksi menggunakan teknologi saat ini.
Racun buphandrine dan epibuphanisine ditemukan pada berbagai tumbuhan di Afrika Selatan. Namun, hanya spesies Boophone disticha (secara lokal disebut umbi beracun) yang terkenal sebagai racun untuk panah.
Para peneliti juga mendeteksi dua bahan kimia beracun tersebut dalam empat anak panah di Afrika Selatan dari abad ke-18. Tumbuhan ini ditemukan kurang dari 12,5 kilometer dari situs goa batu Umhlatuzana.
Hasil penelitian tersebut memberikan pemahaman baru tentang penggunaan senjata beracun di masa lalu. Sebelumnya, bukti tertua tentang penggunaan senjata beracun adalah panah beracun berusia 7.000 tahun yang terselip di tulang paha mamalia berkuku yang ditemukan di Gua Kruger, Afrika Selatan.
Meskipun ada temuan lain dari semacam alat penyemprot racun berusia 24.000 tahun dari Gua Border yang juga terletak di Afrika Selatan. Namun, temuan ini masih diperdebatkan oleh berbagai kalangan peneliti.
Arkeolog dari University of Johannesburg, Afrika Selatan, Justin Bradfield, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan, penemuan panah beracun kuno itu sangat luar biasa.
“Para pemburu-pengumpul di Umhlatuzana tampaknya menggunakan racun satu komponen. Resep yang lebih kompleks berpotensi ditemukan di kemudian hari,” ucapnya.
Para peneliti berencana melihat endapan yang lebih muda di situs goa batu Umhlatuzana. Hal ini untuk mengetahui apakah penggunaan panah beracun merupakan praktik yang berkelanjutan atau praktik tersebut telah punah sebelum ditemukan kembali.
“Para arkeolog telah lama berasumsi bahwa para pemburu-pengumpul menyadari racun tumbuhan dan penggunaannya. Namun, temuan baru ini mengungkapkan bahwa racun ini dapat bertahan selama puluhan ribu tahun. Ini membuka pintu untuk penelitian lebih lanjut,” ujar Bradfield.




