Bagi sebagian anak, sekolah mungkin sekadar rutinitas harian. Namun bagi sebagian lainnya, sekolah adalah kesempatan langka yang menentukan masa depan.
Nayla, siswi kelas VII Sekolah Rakyat di Makassar, termasuk dalam kelompok kedua. Ia masih ingat jelas bayang-bayang putus sekolah yang pernah menghantuinya. Terlahir dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan dan ibunya asisten rumah tangga, biaya pendidikan menjadi beban yang berat.
“Dulu itu dikira aku enggak bisa sekolah, apalagi enggak bisa lanjut bersekolah. Tapi adanya Sekolah Rakyat saya bisa sekolah dan bisa membanggakan orang tua,” ujar Nayla saat ditemui di Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Minggu (11/1).
Ia mengenang, kendala biaya sempat membuat pendidikannya terancam berhenti. Kini, di Sekolah Rakyat yang menerapkan sistem asrama atau boarding school, seluruh kebutuhan pendidikan dipenuhi negara melalui Kementerian Sosial.
“Senangnya punya banyak teman baru, dapat fasilitas lengkap. Seperti baju, kalau di sekolah itu peralatannya dapat buku, pulpen, pensil warna, laptop,” tuturnya.
Tak hanya pendidikan formal, Nayla juga berkesempatan mengikuti les Bahasa Inggris dan piano, hal yang dulu nyaris mustahil ia bayangkan. Kepercayaan dirinya tumbuh. Ia pun berani menggantungkan cita-cita tinggi: menjadi polisi wanita.
“Supaya bisa menangkap orang jahat,” ucapnya sambil tersenyum.
Dari Buta Aksara hingga Bakal Baca Puisi di Hadapan PresidenKisah berbeda datang dari Muhammad Nazril Kurniawan, siswa Sekolah Rakyat 13 Kota Bekasi. Duduk di kelas I SMA, Nazril bukan hanya terkendala biaya, tetapi juga kemampuan dasar membaca dan menulis.
“Kalau di sekolah sebelumnya itu kayak susah, terus enggak ada lesnya, terus saya kayak kesulitan buat baca. Terus teman-teman saya juga masih belum tahu saya belum bisa baca. Terus pas sudah lulusnya baru tahu dia,” cerita Nazril.
Di Sekolah Rakyat, ia menemukan lingkungan yang lebih suportif. Sekolah ini memang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga desil 1 dan 2, kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah.
“Ada teman saya selalu membimbing saya untuk membaca. Terus malam-malam itu belajar membaca di kamar, selalu membantu saya di kamar,” ujarnya.
Berkat pendampingan tersebut, kemampuan membaca Nazril perlahan berkembang. Ia kini bercita-cita menjadi seorang pengusaha.
Program Sekolah Rakyat rencananya akan diresmikan pada Senin (12/1). Pada momen itu, Nazril dipercaya membacakan puisi dalam acara yang akan dihadiri Presiden Prabowo Subianto.
“Puisinya kan enggak terlalu banyak. Terus saya hafalin terus, udah beberapa bulan. Teksnya kan diubah-ubah terus, diganti-ganti. Nah, saya takut lupa teksnya dari mana. Jadi, saya hafalin lagi,” tutup Nazril.

:quality(80):format(jpeg)/posts/2026-01/11/featured-67bb3f6f0703d3f44f353eb3c4a6fae2_1768075581-b.jpg)


