Puluhan ribu orang turun ke jalan di Minneapolis, Amerika Serikat (AS), Sabtu (10/1/2026), memprotes penembakan Renee Good (37), seorang perempuan yang ditembak mati petugas Immigration and Customs Enforcement (ICE) atau petugas imigrasi AS.
Melansir Reuters, aksi besar-besaran itu menuntut keadilan atas kematian Good sekaligus mengecam kebijakan penegakan imigrasi Pemerintah Federal Amerika Serikat.
Demonstrasi di Minneapolis menjadi bagian dari lebih dari 1.000 aksi serentak yang digelar di berbagai kota di seluruh AS dengan tajuk “ICE Out For Good”.
Massa menuntut ICE dihentikan operasinya di komunitas-komunitas warga, serta meminta pertanggungjawaban hukum atas penembakan yang mereka anggap tidak dapat dibenarkan.
Kepolisian Minneapolis memperkirakan jumlah massa mencapai puluhan ribu orang. Mereka meneriakkan nama Renee Good serta slogan-slogan seperti “Abolish ICE” dan “No justice, no peace — get ICE off our streets.”
Meski diadang angin kencang dan suhu dingin, jumlah peserta yang sangat besar menunjukkan kuatnya kemarahan publik terhadap insiden yang terjadi pada Rabu (7/1/2026) tersebut.
Penembakan Renee Good dinilai telah menjadi simbol perlawanan terhadap kebijakan deportasi massal yang dijalankan pemerintahan Donald Trump Presiden .
Dipimpin sekelompok penari tradisional Meksiko dari komunitas adat, para demonstran di kota metropolitan berpenduduk sekitar 3,8 juta jiwa itu berjalan menuju kawasan permukiman tempat Renee Good ditembak saat berada di dalam mobilnya.
“Saya sangat marah, benar-benar hancur hati dan terpukul. Tapi juga berharap suatu saat keadaan bisa menjadi lebih baik,” kata Ellison Montgomery (30 tahun), salah satu peserta aksi, kepada Reuters.
Pemerintah Negara Bagian Minnesota yang dipimpin Partai Demokrat sendiri menilai penembakan itu tidak dapat dibenarkan. Mereka merujuk pada rekaman video warga yang menunjukkan mobil Renee Good justru berbelok menjauh dari agen ICE saat tembakan dilepaskan.
Sebaliknya, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS), yang membawahi ICE, bersikeras petugas bertindak untuk membela diri. DHS menyatakan Good, yang merupakan relawan jaringan masyarakat pemantau aktivitas ICE di Minneapolis, berusaha menabrakkan kendaraannya ke arah agen. Sehingga, petugas merasa terancam.
Insiden itu terjadi tak lama setelah sekitar 2.000 personel federal dikerahkan ke wilayah Minneapolis–St. Paul, yang oleh DHS disebut sebagai “operasi terbesar sepanjang sejarah” mereka. Langkah itu semakin memperuncing ketegangan antara pemerintah federal dan pemimpin Minnesota.
Ketegangan juga meningkat setelah insiden lainnya pada, Kamis (8/1/2026), memperlihatkan seorang agen Patroli Perbatasan AS yang menembak dan melukai seorang pria serta seorang perempuan di Portland, Oregon. DHS kembali menyebut pengemudi berusaha “menjadikan mobil sebagai senjata.”
Dua penembakan yang melibatkan aparat di bawah DHS dalam sepekan ini mendorong koalisi organisasi progresif dan kelompok hak sipil, termasuk Indivisible dan American Civil Liberties Union (ACLU), menggelar gelombang protes nasional.
Di Philadelphia, massa meneriakkan “ICE has got to go” dan “No fascist USA” saat berbaris menuju pusat tahanan federal. Sementara di Manhattan, ratusan orang membawa poster anti-ICE dan berjalan melewati pengadilan imigrasi.
“Kami menuntut keadilan untuk Renee, ICE keluar dari komunitas kami, dan tindakan nyata dari para pejabat terpilih. Sudah cukup,” kata Leah Greenberg, salah satu direktur Indivisible.
Terkait hal ini, Jacob Frey Wali Kota Minneapolis menyatakan, sebagian besar demonstrasi berlangsung damai.
“Kami tidak akan melawan kekacauan Donald Trump dengan kekacauan versi kami sendiri. Dia ingin kita terpancing,” ujar Frey.
Namun, pada Jumat malam, lebih dari 200 petugas keamanan dikerahkan setelah terjadi kerusakan dengan kerugian yang ditaksir sekitar 6.000 Dollar AS di Hotel Depot Renaissance, serta upaya masuk paksa ke Hotel Hilton Canopy, yang diyakini menjadi tempat menginap agen ICE. Kepolisian mencatat 29 orang ditangkap dalam insiden tersebut.
Sementara itu, pada Sabtu pagi, tiga Anggota DPR AS dari Minnesota yakni Angie Craig, Kelly Morrison, dan Ilhan Omar ditolak masuk saat hendak melakukan kunjungan ke kantor pusat regional ICE.
Mereka menilai penolakan itu melanggar hukum federal yang menjamin hak anggota Kongres untuk mengawasi fasilitas penahanan. “Kami menegaskan kepada ICE dan DHS bahwa mereka melanggar hukum federal,” kata Angie Craig.
DHS berdalih penolakan dilakukan demi keamanan tahanan dan staf, serta menyebut adanya aturan yang mewajibkan pemberitahuan tujuh hari sebelum kunjungan.(bil/rid)
/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F10%2F2c87f207e2d275d84abda09f7e010c47-FAK_3124.jpg)


