Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan, kesiapan pihaknya mengekspor beras dan jagung pada tahun ini seiring terwujudnya swasembada dua komoditas pangan strategis tersebut.
Rizal menyatakan Bulog secara operasional siap melakukan ekspor, dengan langkah awal menunggu informasi peluang dan kebutuhan negara tujuan melalui koordinasi resmi antar pemerintah.
"Kami siap dalam arti tinggal kami melihat potensi negara mana yang akan kita ekspor tersebut," kata Rizal dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.
Rizal menegaskan, hal itu ketika dikonfirmasi mengenai Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto yang mendorong adanya ekspor beras dan jagung setelah Indonesia mencapai swasembada komoditas tersebut.
Baca juga: Titiek Soeharto dorong ekspor beras dan jagung usai swasembada
Hal itu disampaikan Titiek dalam dalam Panen Raya Jagung Kuartal I Tahun 2026 Swasembada Jagung oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang dipusatkan di Tembong Gunung, Desa Sukamahi, Kecamatan Cikarang Pusat, Bekasi, Kamis (8/1).
Dorongan kesiapan Bulog menghadapi ekspor juga disampaikan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman di sela Pengumuman Swasembada Pangan oleh Presiden RI Prabowo Subianto yang dihadiri 5.000 petani/penyuluh secara luring dan dua juta petani secara daring di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1).
Yang mana, setelah Indonesia mampu memproduksi dua komoditas itu, Amran mendorong agar Bulog segera bersiap melakukan ekspor baras.
Menanggapi hal itu, Rizal mengaku jika pihaknya terus melakukan koordinasi mengenai rencana ekspor. Koordinasi dilakukan secara ketat bersama Kementerian Perdagangan sebagai institusi yang memiliki kewenangan komunikasi dagang antarnegara.
Baca juga: Mentan bidik ekspor beras tahun ini setelah swasembada tercapai
Bulog memprioritaskan peluang ekspor ke negara-negara tetangga serta negara yang benar-benar membutuhkan pasokan pangan, termasuk wilayah yang terdampak konflik dan krisis kemanusiaan.
Seiring rencana ekspor, Bulog tetap memfokuskan penguatan penyerapan dalam negeri dengan target pengadaan cadangan beras pemerintah sebesar 4 juta ton sepanjang tahun 2026.
Pada semester pertama, Bulog menargetkan penyerapan beras minimal 3 juta ton, memanfaatkan momentum puncak panen nasional yang secara historis terjadi pada periode tersebut.
Rizal optimistis target penyerapan semester pertama dapat tercapai di atas 3 juta ton, sepanjang panen berjalan lancar tanpa gangguan cuaca ekstrem atau faktor penghambat lainnya.
Baca juga: Strategi menghindari jebakan impor beras pada 2026
Sisa target penyerapan sekitar 1 juta ton direncanakan pada semester kedua, sehingga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan rencana ekspor tetap terjaga.
Sesuai arahan Menteri Pertanian, Bulog menyiapkan alokasi ekspor sekitar 1 juta ton, sementara mayoritas produksi tetap difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.
Adapun saat ini Bulog mengelola 3,25 juta ton stok cadangan beras pemerintah hingga awal Januari 2026. Beras itu merupakan peralihan dari sisa stok pada tahun 2025.
Baca juga: Ancaman krisis pangan di depan mata, Prabowo: Kami siap ekspor beras
Rizal menyatakan Bulog secara operasional siap melakukan ekspor, dengan langkah awal menunggu informasi peluang dan kebutuhan negara tujuan melalui koordinasi resmi antar pemerintah.
"Kami siap dalam arti tinggal kami melihat potensi negara mana yang akan kita ekspor tersebut," kata Rizal dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.
Rizal menegaskan, hal itu ketika dikonfirmasi mengenai Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto yang mendorong adanya ekspor beras dan jagung setelah Indonesia mencapai swasembada komoditas tersebut.
Baca juga: Titiek Soeharto dorong ekspor beras dan jagung usai swasembada
Hal itu disampaikan Titiek dalam dalam Panen Raya Jagung Kuartal I Tahun 2026 Swasembada Jagung oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang dipusatkan di Tembong Gunung, Desa Sukamahi, Kecamatan Cikarang Pusat, Bekasi, Kamis (8/1).
Dorongan kesiapan Bulog menghadapi ekspor juga disampaikan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman di sela Pengumuman Swasembada Pangan oleh Presiden RI Prabowo Subianto yang dihadiri 5.000 petani/penyuluh secara luring dan dua juta petani secara daring di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1).
Yang mana, setelah Indonesia mampu memproduksi dua komoditas itu, Amran mendorong agar Bulog segera bersiap melakukan ekspor baras.
Menanggapi hal itu, Rizal mengaku jika pihaknya terus melakukan koordinasi mengenai rencana ekspor. Koordinasi dilakukan secara ketat bersama Kementerian Perdagangan sebagai institusi yang memiliki kewenangan komunikasi dagang antarnegara.
Baca juga: Mentan bidik ekspor beras tahun ini setelah swasembada tercapai
Bulog memprioritaskan peluang ekspor ke negara-negara tetangga serta negara yang benar-benar membutuhkan pasokan pangan, termasuk wilayah yang terdampak konflik dan krisis kemanusiaan.
Seiring rencana ekspor, Bulog tetap memfokuskan penguatan penyerapan dalam negeri dengan target pengadaan cadangan beras pemerintah sebesar 4 juta ton sepanjang tahun 2026.
Pada semester pertama, Bulog menargetkan penyerapan beras minimal 3 juta ton, memanfaatkan momentum puncak panen nasional yang secara historis terjadi pada periode tersebut.
Rizal optimistis target penyerapan semester pertama dapat tercapai di atas 3 juta ton, sepanjang panen berjalan lancar tanpa gangguan cuaca ekstrem atau faktor penghambat lainnya.
Baca juga: Strategi menghindari jebakan impor beras pada 2026
Sisa target penyerapan sekitar 1 juta ton direncanakan pada semester kedua, sehingga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan rencana ekspor tetap terjaga.
Sesuai arahan Menteri Pertanian, Bulog menyiapkan alokasi ekspor sekitar 1 juta ton, sementara mayoritas produksi tetap difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.
Adapun saat ini Bulog mengelola 3,25 juta ton stok cadangan beras pemerintah hingga awal Januari 2026. Beras itu merupakan peralihan dari sisa stok pada tahun 2025.
Baca juga: Ancaman krisis pangan di depan mata, Prabowo: Kami siap ekspor beras




