AS Luncurkan Serangan Besar Incar Basis Daesh

tvrinews.com
8 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRINews – Suriah

Operasi Hawkeye Strike Tahap Dua Targetkan Milisi di Suriah Usai Gugurnya Personel Amerika

Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command) bersama pasukan sekutu melancarkan serangan udara skala besar terhadap posisi kelompok militan Daesh di seluruh wilayah Suriah pada Sabtu 10 Januari 2026 waktu setempat. 

Operasi ini menandai eskalasi signifikan Washington dalam menanggapi serangan mematikan yang menewaskan tiga warga negara Amerika bulan lalu.

Langkah militer ini merupakan fase kedua dari Operasi Hawkeye Strike, sebuah kampanye militer terkoordinasi yang diinisiasi setelah serangan bersenjata tunggal oleh anggota Daesh di Palmyra pada 13 Desember lalu. 

Insiden tersebut merenggut nyawa dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil, sekaligus menjadi serangan fatal pertama sejak jatuhnya pemerintahan mantan Presiden Bashar al-Assad pada Desember 2024.

"Serangan hari ini menargetkan Daesh di seluruh penjuru Suriah," tulis pernyataan resmi Komando Pusat AS melalui saluran media sosial mereka, merujuk pada kelompok militan tersebut dengan akronim regionalnya.

Eskalasi Operasi Gabungan

Serangan terbaru ini merupakan perluasan dari gelombang serangan awal yang dilakukan oleh pasukan AS dan Yordania bulan lalu sebagai bagian dari operasi yang sama.

Meski demikian, pejabat militer belum merinci jumlah lokasi spesifik yang menjadi target maupun daftar lengkap negara sekutu yang terlibat dalam misi hari Sabtu tersebut.

Ketiga warga Amerika yang gugur di Palmyra diketahui tengah menjalankan misi dalam Operasi Inherent Resolve. 
Ini merupakan koalisi internasional yang dibentuk khusus untuk memerangi Daesh setelah kelompok tersebut menguasai sebagian besar wilayah Suriah dan Irak pada tahun 2014.

 Kota kuno Palmyra, yang terdaftar sebagai situs warisan dunia UNESCO, sebelumnya sempat jatuh ke tangan Daesh sebelum akhirnya direbut kembali oleh pasukan dukungan koalisi.

Ancaman di Tengah Transisi Politik

Meskipun Daesh telah kehilangan kekuasaan teritorialnya bertahun-tahun yang lalu, kelompok ini tetap mempertahankan keberadaannya di wilayah gurun Suriah yang luas. 

Mereka terus melancarkan serangan gerilya meskipun kemampuan tempurnya telah jauh melemah dibandingkan masa puncaknya satu dekade silam.

Operasi udara ini terjadi di tengah kebijakan administrasi Presiden Donald Trump yang berencana mengurangi jejak militer Amerika di Suriah. 

Presiden Trump, yang sejak lama mempertanyakan urgensi keterlibatan AS di wilayah tersebut, pada akhirnya tetap mempertahankan penempatan pasukan meskipun sempat memerintahkan penarikan pada masa jabatan pertamanya.

Sebagai bagian dari strategi konsolidasi, Pentagon telah mengumumkan rencana pada April lalu untuk memangkas setengah dari personel AS di Suriah dalam beberapa bulan mendatang. 

Tom Barrack, utusan AS untuk Suriah, mengisyaratkan pada Juni bahwa Washington pada akhirnya hanya akan memusatkan kekuatannya pada satu pangkalan militer tunggal di negara tersebut.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemerintah DKI Jakarta Anggarkan Rp 100 M Bongkar Tiang Monorel di Kuningan
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kemenag: Amali Perkuat Jejaring Ma’had Aly Secara Nasional
• 8 jam laluokezone.com
thumb
Dialog Virtual dengan Warga Aceh, Megawati Tanyakan Kebutuhan Pascabanjir
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Balas Rudal Hipersonik Moskow, Drone Ukraina Bakar Depot Minyak Rusia
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Kontroversi Kata "Kapitil" di KBBI: Antara Inovasi Bahasa dan Penolakan Publik
• 15 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.