261 Murid Diduga Keracunan MBG di Mojokerto, 121 Masih Dirawat

suarasurabaya.net
11 jam lalu
Cover Berita

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto mencatat, 261 murid dari jenjang PAUD hingga SMA yang mengalami keracunan, diduga karena Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Dyan Anggrahini Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto mengatakan, data itu merupakan jumlah korban yang tercatat dan tertangani melalui posko kesehatan hingga Minggu (11/1/2026) hari ini.

“Data terakhir yang masuk kepada kami di posko itu sampai hari ini 261,” kata saat dikonfirmasi suarasurabaya.net, Minggu.

Angka itu, kata Dyan, belum sepenuhnya mencerminkan jumlah korban sebenarnya, karena ada murid yang memilih melakukan penanganan secara mandiri tanpa melapor ke posko yang disediakan.

“Yang kami sampaikan ini adalah data yang masuk dan tertangani oleh kami. Bisa jadi jumlahnya lebih, karena ada korban yang langsung ke rumah sakit atau berobat mandiri ke dokter di luar fasilitas yang kami tunjuk,” ucapnya.

BACA JUGA: Ratusan Siswa di Mojokerto Diduga Keracunan MBG, Operasional SPPG Disetop Sementara

Dari total 261 korban, Dinkes belum memiliki data pasti terkait jumlah korban dari masing-masing sekolah. Namun, korban diduga berasal dari tujuh lembaga pendidikan yang bekerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Yang paling banyak berasal dari Pondok Pesantren Mahad Annur,” ujarnya.

Seluruh korban dilaporkan mengalami gejala yang relatif sama, seperti mual, muntah, diare, demam, hingga pusing, yang mengarah pada indikasi keracunan.

Terkait penanganan medis, dari sekitar 200 korban yang sempat tercatat, sebanyak 121 orang saat ini masih menjalani perawatan. Rinciannya, 112 orang dirawat di rumah sakit dan puskesmas, sementara 9 orang di posko kesehatan.

Adapun menu MBG yang terakhir dikonsumsi para korban diketahui berupa soto, telur, serta ayam berbumbu kuning. Hingga kini, Dinkes Kabupaten Mojokerto masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan tersebut.

“Masih kami cari penyebabnya. Bisa dari makanan tertentu, bisa juga dari proses penyajian, pengiriman, atau waktu konsumsi yang terlalu lama sehingga memungkinkan munculnya bakteri. Yang jelas, saat ini indikasinya mengarah pada keracunan,” pungkasnya. (ris/saf/ham)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ketinggian Air Capai 70 Sentimeter, Status Bendung Lekopancing Waspada
• 14 jam laluharianfajar
thumb
3 Pejabat Pajak Diberhentikan Sementara Usai Ditetapkan Tersangka Korupsi
• 10 jam laluokezone.com
thumb
DPRD Jabar Cermati Dampak Tren Elektrifikasi terhadap Pendapatan Daerah
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Nasabah di Jawa Barat mulai tinggalkan layanan konvensional Pegadaian
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Bursa Asia Menguat, Investor Waspada Putusan Soal Legalitas Tarif AS
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.