Inflasi Tembus 70 Persen hingga Sulitnya Cari Kerja Picu Gelombang Demo di Iran

kumparan.com
14 jam lalu
Cover Berita

Gelombang demonstrasi di Iran terus terjadi akibat lonjakan biaya hidup, tingginya laju inflasi, hingga sulitnya mencari pekerjaan. Mengutip Bloomberg, Minggu (11/1), gelombang demo pecah di Teheran dimulai pada akhir bulan lalu, setelah nilai tukar rial anjlok ke level terendah sepanjang sejarah.

Pelemahan mata uang itu langsung mendongkrak harga kebutuhan pokok dan memperparah krisis ekonomi yang telah lama membelit Iran akibat isolasi global dan sanksi internasional. Protes kemudian menyebar ke berbagai wilayah, memicu respons keras dari kepemimpinan agama dan militer yang mengancam akan menjatuhkan hukuman berat kepada pihak yang mereka sebut sebagai “perusuh.”

Bagi Republik Islam Iran, unjuk rasa massal bukanlah hal baru. Selama bertahun-tahun, pemerintahan teokratis di negara itu berulang kali menghadapi gelombang perlawanan publik. Pada 2022, demonstrasi besar dipimpin oleh perempuan sebagai respons atas perlakuan represif yang disorot setelah kematian tragis seorang perempuan muda.

Sementara pada 2009, protes besar meletus menyusul terpilihnya kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad, yang menjadi kerusuhan terparah sejak kejatuhan Shah Mohammad Reza Pahlavi pada 1979.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bersama Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kerap berhasil meredam perbedaan pendapat, sering kali dengan cara-cara represif dan kekerasan.

Namun, situasi kali ini dinilai memiliki perbedaan penting. Dina Esfandiary, kepala geoekonomi Timur Tengah Bloomberg Economics, bahkan memprediksi Republik Islam kemungkinan besar tidak akan bertahan dalam bentuknya saat ini, hingga akhir 2026. Pernyataan itu mengisyaratkan bahwa perubahan hampir pasti terjadi, meski wujud akhirnya masih belum jelas.

Salah satu pembeda utama dibandingkan protes-protes sebelumnya adalah kondisi ekonomi Iran yang kian terpuruk setelah bertahun-tahun berada di bawah sanksi.

Mata Uang Iran Anjlok

Nilai rial telah merosot sekitar 40 persen, yang mendorong inflasi pangan melonjak hingga 70 persen secara tahunan, menurut perkiraan Gavekal Research. Tekanan tersebut diperparah oleh kekeringan berkepanjangan serta buruknya pengelolaan sumber daya air yang menekan produksi pangan domestik.

Masalah ekonomi tak berhenti di situ. Pemadaman listrik yang berkepanjangan dan pasar tenaga kerja yang rapuh, dengan estimasi tingkat partisipasi angkatan kerja hanya sekitar 41 persen menciptakan lingkungan yang sangat berat bagi usaha kecil dan menengah. Banyak bisnis gulung tikar, sementara perusahaan-perusahaan yang memiliki afiliasi dengan IRGC disebut berusaha mengambil alih ruang yang ditinggalkan, menurut Esfandiary.

Seiring semakin banyak warga Iran jatuh ke jurang kemiskinan, rasa frustrasi dan kebencian tumbuh terhadap kelompok yang memiliki koneksi politik sehingga tetap terlindungi. Dalam beberapa hari terakhir, terlihat bahwa sebagian besar penduduk mulai bersatu menyuarakan tuntutan perubahan politik, tulis Tom Holland, wakil direktur riset global Gavekal, dalam catatan terbarunya.

Bahkan Grand Bazaar Teheran, yang selama ini dikenal sebagai simbol basis konservatif pendukung pemerintah, dilaporkan melakukan mogok hampir dua pekan.

Perbedaan penting lainnya adalah melemahnya posisi geopolitik Iran. Tahun lalu, Presiden Suriah Bashar al Assad digulingkan, mengakhiri aliansi strategis yang selama ini menjadi pilar pengaruh Teheran di kawasan. Iran juga menyaksikan sekutu-sekutunya, Hizbullah dan Hamas, terus dilemahkan oleh serangan di Lebanon dan Gaza.

Ketegangan dengan Israel yang berlangsung secara berkala selama dua tahun terakhir mencapai puncaknya ketika Amerika Serikat melancarkan serangan mendadak terhadap fasilitas nuklir utama Iran pada Juni lalu. Presiden Donald Trump bahkan terus melontarkan ancaman tindakan lanjutan, termasuk dukungan terhadap demonstran. Terlepas dari apakah ancaman tersebut dianggap serius atau tidak, Esfandiary menilai pemerintah Iran kini menghadapi risiko konflik yang nyata.

Lalu, seperti apa kemungkinan transisi Iran jika perubahan benar-benar terjadi? Esfandiary mengemukakan empat skenario potensial: runtuhnya pemerintahan secara total, reformasi terbatas untuk meredam keresahan publik, pergantian pemimpin dengan sistem tetap bertahan, atau kudeta yang dipimpin IRGC.

Faktor lain yang tak kalah menentukan adalah usia Khamenei yang kini 86 tahun. Potensi wafatnya sang pemimpin tertinggi dapat membuka babak suksesi kedua sejak berakhirnya era Shah.

“Perbedaannya kali ini dibandingkan dengan sebelumnya adalah IRGC jauh lebih dominan,” kata Esfandiary.

“Tidak ada skenario di mana pemimpin tertinggi berikutnya tidak bekerja sama erat dengan IRGC,” imbuhnya.

Situasi ini mungkin belum memberi banyak harapan bagi pendukung demokrasi di Iran. Namun, perubahan yang terjadi, apa pun bentuknya berpotensi membuka ruang pendekatan baru dengan Washington, yang akan menandai bab penting dalam sejarah panjang dan kompleks hubungan Amerika Serikat dan Iran.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kembangkan Kualitas SDM, Karakter Para Remaja Panti Asuhan Diasah
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kemenag: Amali Perkuat Jejaring Ma’had Aly Secara Nasional
• 15 jam lalurctiplus.com
thumb
Diincar Trump, Greenland Dinilai Kaya Emas hingga Logam Tanah Jarang
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Pramono-Foke Ziarah ke Makam MH Thamrin, Serukan Persatuan Majelis Betawi
• 19 jam laludetik.com
thumb
Puan Maharani Sampaikan Arahan Strategis Ini ke Kader di Rakernas I PDIP
• 11 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.