Diincar Trump, Greenland Dinilai Kaya Emas hingga Logam Tanah Jarang

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Greenland menjadi salah satu wilayah yang kini sedang diincar oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar menjadi bagian dari Negeri Paman Sam. Greenland dinilai memiliki cadangan unsur logam tanah jarang atau Rare Earth Element (REE) yang besar.

Berdasarkan laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) bertajuk ‘Greenland, Rare Earths, and Arctic Security’ yang dipublikasikan pada Kamis (8/1), Greenland menempati peringkat kedelapan dunia dalam cadangan logam tanah jarang, dengan total sekitar 1,5 juta ton.

“Greenland kaya akan sumber daya alam, termasuk bijih besi, grafit, tungsten, paladium, vanadium, seng, emas, uranium, tembaga, dan minyak. Namun, sumber daya yang paling menarik perhatian di kawasan ini adalah unsur tanah jarang,” tulis laporan itu dikutip Minggu (11/1).

Selain itu, Greenland juga memiliki dua endapan unsur tanah jarang yang termasuk terbesar di dunia yakni Kvanefjeld dan Tanbreez. Meski demikian, hingga saat ini belum ada aktivitas penambangan unsur tanah jarang yang berlangsung di pulau tersebut.

Kvanefjeld merupakan endapan unsur tanah daratan terbesar ketiga di dunia dengan lebih dari 11 juta metrik ton cadangan unsur tanah jarang termasuk sekitar 370.000 metrik ton unsur tanah jarang berat.

Pada 2007 lalu, Energy Transition Minerals atau sebelumnya adalah Greenland Minerals and Energy telah melakukan studi kelaikan di endapan Kvanefjeld. Hasilnya menunjukan kadar bijih unsur tanah jarang di sana mencapai 1,43 persen. Angka ini lebih tinggi dari beberapa proyek pengembangan unsur tanah jarang seperti Serra Verde di Brasil sebesar 0,15 persen dan Round Top di Texas, AS sebesar 0,033 persen.

Sementara pada endapan Tanbreez, tahapan pengembangan memang belum sejauh Kvanefjeld atau baru menyelesaikan preliminary economic assessment pada 2025. Meski demikian, kandungan cadangan unsur tanah jarang di sana juga diperkirakan menjadi salah satu yang terbesar di dunia dengan estimasi mencapai 28,2 juta metrik ton dengan 27 persen di antaranya berupa tanah jarang berat. Namun, kadar bijih di Tanbreez diperkiarkan relatif lebih rendah yakni sekitar 0,38 persen.

“Kadar bijih sangat menentukan kelayakan ekonomi tambang tanah jarang. Endapan dengan kadar tinggi membutuhkan volume material yang lebih sedikit untuk ditambang serta lebih mudah dipisahkan dan diolah, sehingga biaya produksinya lebih rendah. Meski kadar bijihnya lebih rendah, tingginya kandungan tanah jarang berat yang bernilai tinggi tetap menjadikan Tanbreez sebagai endapan yang menarik secara ekonomi,” tulis laporan tersebut.

AS Punya Masalah Rantai Pasok Unsur Tanah Jarang

Laporan tersebut menyebut AS dinilai tertarik dengan unsur tanah jarang di Greenland karena terdapat permasalahan dalam rantai pasok unsur tanah jarang di AS.

“Kerentanan rantai pasok REE Amerika Serikat, baik untuk kebutuhan pertahanan maupun komersial dalam beberapa waktu terakhir menjadi isu kebijakan utama di Washington,” tulis laporan tersebut.

Pada 2025, China memang sempat memberlakukan pembatasan ekspor logam tanah jarang. Hal ini membuat adanya kerentanan rantai pasok otomotif Barat, yang berujung pada kekurangan bahan, keterlambatan produksi, hingga penghentian sementara aktivitas manufaktur.

Untuk itu, Trump juga telah melakukan berbagai kesepakatan dengan berbagai perusahaan tanah jarang dan negara-negara seperti Arab Saudi, Jepang, dan Australia untuk mengembangkan kapasitas unsur tanah jarang di luar China.

Pada 2019 lalu saat Trump menjadi presiden untuk pertama kalinya,memang terdapat penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara AS dengan Greenland untuk melakukan survei bersama, serta pertukaran pengetahuan ilmiah dan teknis guna mengembangkan sumber daya unsur tanah jarang dan mineral kritis.

Meski demikian, MoU tersebut kini sudah hampir kedaluwarsa dan upaya pembaruan MoU pada masa pemerintahan Joe Biden tidak membuahkan hasil. Hal inilah yang menyebabkan Trump memikirkan cara untuk mengakses unsur tanah jarang di Greenland.

“Pemerintahan Trump tampaknya kini berfokus pada cara-cara baru untuk mengakses unsur tanah jarang Greenland. Pada Juni 2025, Bank Ekspor-Impor Amerika Serikat (EXIM) mengirimkan surat minat kepada Critical Metals Corp terkait pinjaman sebesar USD 120 juta dolar untuk mendanai tambang unsur tanah jarang Tanbreez di Greenland. Jika disetujui, pinjaman ini akan menjadi investasi pertambangan luar negeri pertama pemerintahan Trump,” tulis laporan CSIS tersebut.

Laporan CSIS itu juga menyebut kalau AS bukan satu-satunya negara yang tertarik memperluas pengaruhnya di Greenland dan kawasan Arktik. Hal ini karena ada 2018 lalu China meluncurkan kebijakan yang dikenal sebagai Polar Silk Road, di mana China menyebut dirinya sebagai ‘negara dekat Arktik’.

China dalam tujuh tahun terakhir memang berupaya memperluas kehadirannya di Greenland melalui ekspedisi riset ilmiah, investasi infrastruktur, dan akuisisi sumber daya alam.

“Namun, jika dilihat dari berbagai indikator, strategi ini belum berjalan mulus karena banyak proyek besar terhambat oleh kekhawatiran keamanan. Meski demikian, ketertarikan China yang terus berlanjut terhadap Greenland menunjukkan pentingnya posisi strategis pulau tersebut,” tulis CSIS.

Selain itu, keunggulan China dalam keahlian penambangan dan pengolahan tanah jarang membuat negara itu tetap diperhitungkan sebagai calon mitra tambang Greenland di masa depan.

Adapun Menteri urusan bisnis dan sumber daya mineral Greenland sempat menyatakan bahwa meskipun kerja sama dengan negara-negara barat lebih diutamakan, tanpa masuknya investasi baru, Greenland terpaksa mencari mitra lain termasuk China.

Sebelumnya, Trump sudah membuka opsi memberikan uang kepada warga Greenland untuk mendorong wilayah itu lepas dari Denmark dan bergabung dengan AS.

Sejumlah pejabat AS mendiskusikan kemungkinan pemberian uang tunai itu kepada penduduk Greenland. Informasi ini disampaikan oleh empat sumber yang mengetahui pembahasan internal tersebut.

Meski nilai pasti dan mekanisme pembayarannya belum ditetapkan, angka yang dibahas berkisar antara USD 10 ribu hingga USD 100 ribu per orang, atau sekitar Rp 160 juta hingga Rp 1,6 miliar.

Diskusi itu menjadi jauh lebih serius, termasuk kemungkinan pembayaran maksimal USD 100 ribu per orang, yang jika diterapkan akan menelan biaya hampir USD 6 miliar. Dengan populasi sekitar 57 ribu jiwa, rencana itu dipandang sebagai salah satu cara AS untuk ‘membeli’ Greenland. Meski Pemerintah Denmark berkali-kali menegaskan Greenland tidak untuk dijual.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sekolah Rakyat akan Diluncurkan di Banjarbaru, Jadi Model Pengentasan Kemiskinan Terpadu
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Guru Besar UIN Jakarta: Modernisasi Kampung Nelayan Kunci Kemandirian Pangan RI
• 2 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Kodam Iskandar Muda Beri Layanan Pengobatan bagi Korban Banjir Aceh Tengah
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KPK tetapkan 5 Tersangka OTT Pegawai Pajak, Salah Satunya Kepala KPP Madya Jakut
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Pecinta Sepakbola Indonesia Dimanjakan Dua Laga Bertajuk El Classico Tersaji Hari Ini
• 7 jam lalufajar.co.id
Berhasil disimpan.