Madu Fungsional dengan Masa Simpan Panjang

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Madu telah lama dikenal sebagai salah satu produk alami yang kaya manfaat bagi kesehatan. Saat ini masyarakat mulai banyak memilih untuk mengonsumsi madu sebagai alternatif pemanis alami di tengah meningkatnya kesadaran terhadap gaya hidup sehat.

Berbagai penelitian menunjukkan madu mengandung antioksidan, antibakteri, dan zat anti-inflamasi yang berperan penting menjaga daya tahan tubuh, mempercepat penyembuhan luka, hingga mendukung kesehatan pencernaan. Khasiat ini membuat madu jadi bahan pangan sekaligus bagian dari pengobatan tradisional.

Produk madu hadir dalam berbagai merek dan klaim khasiat, mulai dari peningkat stamina hingga penyembuh beragam penyakit. Produk madu juga mudah ditemui di toko kecil hingga swalayan besar. Namun, di tengah melimpahnya produk itu, jumlah madu yang teruji klinis melalui riset ilmiah yang ketat masih terbatas.

Salah satu produk madu berbasis riset ilmiah dikembangkan PT Imago Randau Harmoni yang telah mengikuti program Perusahaan Pemula Berbasis Riset (PPBR) dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Jadi, pengembangan produk madu ini melibatkan periset BRIN.

Pendiri PT Imago Randau Harmoni, Henry Hidayat, mengemukakan, selama ini madu Indonesia kerap dianggap berada di nomor dua karena warga memilih merek dari luar negeri, seperti Selandia Baru atau Australia. Karena itu, Imago memperkenalkan bahwa Indonesia juga memiliki madu bermutu tinggi dengan basis riset.

”Basis riset amat penting karena latar belakang kami bukan dari teknologi pangan atau industri makanan. Dengan kehadiran periset di BRIN, kepercayaan pelanggan naik karena produk kami berbasis riset dan didukung jurnal ilmiah,” ujarnya dalam acara Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Awards 2025 di Jakarta pada Desember 2025.

Kami menyebut produk ini sebagai ’functional honey’, yakni madu yang tak hanya memberi manfaat dasar dari madu, tetapi juga manfaat kesehatan lain dari bahan herbal yang dicampurkan. Kandungan antioksidannya terbukti tinggi berdasarkan riset yang kami publikasikan di jurnal ilmiah.

Produk buatan Imago Randau Harmoni bersama periset BRIN berasal dari madu yang dibudidayakan dari hutan konservasi. Madu itu dihasilkan dari lebah madu Eropa (Apis mellifera) dan lebah madu Asia (Apis cerana) di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ada juga madu dari lebah jenis Apis trigona berkolaborasi dengan komunitas petani di Kalimantan.

Madu tersebut kemudian dicampur dengan bahan-bahan alami, seperti lemon, jahe merah, dan kayu manis. Bahan alami tersebut menambah khasiat dari madu Imago ITOX.

Lemon membantu mendetoksifikasi tubuh dan meningkatkan kekebalan tubuh. Kemudian jahe merah diketahui memiliki manfaat anti-inflamasi, menambahkan kehangatan, dan mendukung sirkulasi. Sementara kayu manis merupakan rempah aromatik anti-peradangan alami yang membantu mengatur gula darah dan meningkatkan kesehatan jantung.

Baca JugaMadu, Baik atau Buruk untuk Kesehatan?

”Kami menyebut produk ini sebagai functional honey, yakni madu yang tak hanya memberi manfaat dasar dari madu, tetapi juga manfaat kesehatan lain dari bahan herbal yang dicampurkan. Kandungan antioksidannya terbukti tinggi berdasarkan riset yang kami publikasikan di jurnal ilmiah,” kata Henry.

Masa simpan panjang

Salah satu dukungan dari periset BRIN dalam pengembangan madu ini yaitu untuk meningkatkan masa simpan. Awalnya madu ini dibuat dengan cara tradisional sehingga umur simpan produk menjadi sangat pendek, yakni sekitar satu bulan pada suhu ruang.

Masa simpan madu yang pendek jadi kendala karena saat itu madu Imago ITOX masuk ke pasar modern dan pasar ekspor. Kendala ini berusaha diatasi periset BRIN melalui program FUMI (Fasilitasi Usaha Mikro Berbasis Iptek) dilanjutkan dengan program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM).

Adapun tim peneliti BRIN yang terlibat dalam riset dan pendampingan tersebut meliputi peneliti di Pusat Riset Tepat Guna Hari Hariadi, serta peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan Ema Damayanti dan Teguh Wahyono. Peneliti lainnya dari Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi Indra Mustika Pratama dan Ashri Mukti Benita.

Tim periset tersebut melakukan pendampingan langsung ke workshop perusahaan selama setahun dengan mengamati proses produksi yang saat itu masih tradisional. Hasil pengamatan menunjukkan ada potensi masuknya bakteri dalam proses produksi yang jadi salah satu penyebab utama umur simpan produk madu menjadi lebih pendek.

Dari temuan itu, tim periset kemudian melanjutkan penelitian dengan merancang sebuah mesin evaporasi yang dilengkapi dengan sistem vakum. Mesin tersebut dirancang untuk menurunkan kadar air dalam madu sehingga kualitas dan daya tahannya dapat ditingkatkan.

Melalui teknologi tersebut, kadar air yang sebelumnya berada di kisaran 24 hingga 25 persen berhasil diturunkan menjadi sekitar 17 hingga 18 persen. Penurunan kadar air ini efektif untuk meminimalkan pertumbuhan bakteri dan jamur yang berpotensi merusak produk.

Menurut Henry, meski mengalami perubahan dari sisi tekstur, komposisi produk madu yang dihasilkan tetap sama. Produk madu hanya menjadi lebih kental dengan karakter cairan yang mendekati seperti selai, tanpa mengubah kandungan bahan dasarnya.

“Awalnya produksi kami masih dilakukan di Pusat Riset Teknologi Tepat Guna di Subang. Setiap kali produksi, kami membawa bahan baku ke sana dan menggunakan mesin di sana. Setelah proses selesai, barulah kami melakukan tahap filling (pengisian) di workshop kami. Prototipenya lalu kami modifikasi sesuai kebutuhan,” ucapnya.

Penerapan metode evaporasi dan iradiasi menggunakan teknologi mesin yang dikembangkan periset BRIN ini membuat umur simpan produk meningkat dari satu bulan jadi 18 bulan pada suhu ruang. Peningkatan daya tahan itu pun membuka jalan bagi produk untuk dapat diterima dan dipasarkan di jaringan pasar modern.

Rencana uji klinis

Ke depan, Henry berencana menguji klinis produk madu ITOX sebagai langkah pembuktian ilmiah atas klaim manfaat kesehatannya. Sampai sekarang uji klinis tersebut belum dilakukan karena membutuhkan biaya cukup besar.

Meski demikian, sejumlah testimoni telah disampaikan dari beberapa pakar yang merekam langsung pengalamannya saat mencoba produk ITOX dengan menggunakan alat pengukur kadar gula darah. Berdasarkan pengukuran itu, kadar gula darahnya tercatat menurun sekitar 15 menit setelah mengonsumsi produk tersebut.

Baca JugaLebah Madu Trigona, Primadona dari Sumatera

Kepala BRIN Arif Satria menyatakan, banyak perusahaan besar bisa berkembang karena memiliki kekuatan riset dan pengembangan kuat. Sebaliknya banyak usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM sulit tumbuh besar karena tak punya kapasitas melakukan riset dan pengembangan.

“Di sinilah peran BRIN dan perguruan tinggi menjadi sangat penting sebagai pihak yang dapat menjalankan fungsi riset dan pengembangan bagi UMKM,” tuturnya menambahkan.

” Dengan memahami situasi di lapangan, kebutuhan UMKM bisa terbaca lebih jelas sehingga mereka dapat naik kelas, baik dari sisi kualitas produk, manajemen usaha, maupun kemampuan menembus pasar yang lebih luas,” ucapnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Berangnya Kendall Jenner Dituding Operasi Plastik Wajah
• 7 jam laluinsertlive.com
thumb
Dua Pria Ditangkap Usai Kepergok Curi Router WiFi di Cilebut Bogor
• 5 jam laludetik.com
thumb
Operasi Patah Tulang Fermin Aldeguer Selesai, Gresini Racing Bisa Bernapas Lega Jelang Hadapi MotoGP 2026
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
5 Ciri Utama Golongan Warga Kelas Bawah, Anda Termasuk?
• 5 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pemerintah Sudan Resmi Kembali Berkantor di Ibu Kota usai Dua Tahun Perang
• 5 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.