Tingkat Pengangguran AS Melambat ke 4,4% per Akhir 2025

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat (AS) nyaris tidak bergerak pada Desember. Sejumlah sektor utama justru mencatatkan pengurangan tenaga kerja. Meski begitu, tingkat pengangguran hanya melambat menjadi 4,4 persen, menandakan kondisi pasar tenaga kerja belum memburuk secara drastis.

Mengutip Reuters, Minggu (11/1), perlambatan ini dipicu oleh hilangnya pekerjaan di sektor konstruksi, ritel, dan manufaktur. Namun, penurunan pengangguran memberi sinyal bahwa pelemahan pasar tenaga kerja masih relatif terkendali. Laporan ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis Jumat juga menunjukkan pertumbuhan upah yang tetap solid, sehingga memperkuat keyakinan ekonom bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga pada rapat 27–28 Januari.

Para ekonom menilai lemahnya penyerapan tenaga kerja tidak lepas dari kebijakan perdagangan dan imigrasi agresif Presiden Donald Trump. Kebijakan tersebut dinilai menekan sisi permintaan dan penawaran tenaga kerja. Di sisi lain, banyak perusahaan memilih menahan rekrutmen karena ketidakpastian kebutuhan tenaga kerja, seiring meningkatnya investasi besar-besaran pada kecerdasan buatan (AI).

Ekonomi AS bahkan mencatat ekspansi tanpa diiringi peningkatan lapangan kerja. Pada kuartal ketiga, pertumbuhan ekonomi dan produktivitas pekerja melonjak, sebagian didorong oleh pemanfaatan AI.

"Semua jalan mengarah ke tingkat pengangguran, ini seharusnya meredam desakan The Fed baru-baru ini untuk menopang pasar tenaga kerja yang melemah," kata Olu Sonola, kepala riset ekonomi AS di Fitch Ratings.

"Meskipun demikian, cerita pertumbuhan lapangan kerja yang lemah tidak dapat diabaikan. Perekrutan masih stagnan, dan pertumbuhan lapangan kerja di sektor ekonomi siklikal tidak memberikan sinyal yang menggembirakan,” imbuhnya.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat, jumlah pekerjaan non-pertanian hanya bertambah 50.000 pada Desember. Angka ini lebih rendah dibanding revisi November yang turun 56.000. Sementara itu, survei Reuters sebelumnya memperkirakan penambahan sekitar 60.000 pekerjaan, setelah laporan awal November sebesar 64.000.

Data Oktober juga direvisi, dengan kehilangan pekerjaan meningkat menjadi 173.000, tertinggi hampir dalam lima tahun. Lonjakan ini terkait program pengunduran diri tertunda bagi pegawai federal. Rata-rata kehilangan pekerjaan selama tiga bulan terakhir mencapai 22.000, mencerminkan melemahnya momentum pasar tenaga kerja. Para ekonom menyebut kondisi ini sebagai fase “perekrutan rendah, pemecatan rendah”.

Sepanjang 2025, hanya 584.000 lapangan kerja baru yang tercipta, atau rata-rata sekitar 49.000 per bulan. Angka ini jauh di bawah capaian 2024 yang menembus 2 juta lapangan kerja, dengan rata-rata 168.000 per bulan.

"Sepanjang tahun, hambatan kebijakan yang terus-menerus membebani sentimen bisnis dan membatasi perekrutan, mendorong banyak perusahaan untuk tetap berhati-hati dan memprioritaskan pengendalian biaya dan fleksibilitas dalam menanggapi lingkungan operasional yang tidak dapat diprediksi," kata Lydia Boussour, ekonom senior di EY-Parthenon.

Secara sektoral, penambahan lapangan kerja terbilang tipis. Persentase industri yang mencatatkan pertumbuhan turun menjadi 50,8 persen dari 55,6 persen pada November. Restoran dan bar menjadi penyumbang terbesar dengan tambahan 27.000 pekerjaan, disusul sektor kesehatan yang menambah 21.000 posisi, terutama di rumah sakit. Namun, angka ini masih di bawah rata-rata bulanan 2025 dan 2024.

Sektor bantuan sosial menambah 17.000 pekerjaan. Pemerintah federal menambah 2.000 posisi pada Desember, tetapi secara tahunan justru menyusut 274.000 pekerjaan sejak pemerintahan Trump memangkas jumlah pegawai. Kenaikan moderat juga tercatat di sektor keuangan dan utilitas.

Sebaliknya, ritel kehilangan 25.000 pekerjaan akibat minimnya rekrutmen saat musim liburan. Manufaktur kembali tertekan dengan kehilangan 8.000 posisi pada Desember dan total 68.000 sepanjang tahun lalu. Para ekonom mengaitkan penurunan ini dengan kenaikan tarif impor, meski Trump menyebut kebijakan tersebut diperlukan untuk menghidupkan kembali industri manufaktur.

Sektor konstruksi juga memangkas 11.000 pekerja. Dampak cuaca dingin ekstrem dinilai terbatas, mengingat sektor restoran dan bar justru masih menambah tenaga kerja. Pengurangan pekerjaan juga terjadi di sektor pertambangan, grosir, transportasi dan pergudangan, serta jasa profesional dan bisnis.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Persija Takluk dari Persib, Mauricio Souza Kritik Kualitas Laga dan Kepemimpinan Wasit
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
Truk Tertabrak Kereta di Perlintasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat
• 3 jam lalurepublika.co.id
thumb
Eggi Sudjana Minta Maaf ke Jokowi, Kubu Roy Suryo dan Rismon Tetap Lanjut Berperkara
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gunung Semeru 30 Kali Gempa Erupsi dalam Enam Jam
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Sepekan, dakwaan Nadiem hingga Yaqut jadi tersangka
• 20 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.