Dokter Jerman Jadi Terkenal usai Riset Praktek Dukun di RI

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita
Foto: AP/Martin Mejia

Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat zaman dahulu kerap menemui dukun untuk berobat. Saat itu, ilmu kedokteran belum berkembang sehingga praktik klenik menjadi solusi.

Dalam praktiknya, dukun bakal mengucapkan berbagai mantra dan memberi pasien obat-obatan herbal. Praktik seperti ini rupanya berhasil menarik perhatian dokter asal Jerman, Friedrich August Carl, yang pada 1823 ditugaskan Departemen Kesehatan Hindia Belanda untuk menjadi dokter di Semarang.

Baca: Ikan Favorit Warga RI yang Ternyata Menyerap Racun dalam Air

Saat bertugas pertama kali, ternyata dia heran kalau orang, baik itu warga lokal atau orang Eropa sekalipun, lebih mempercayai dukun untuk mengatasi masalah kesehatan. Dan, menariknya mereka justru banyak yang sehat kembali usai datang ke dukun.

Tentu saja, Carl bertanya-tanya: kenapa bisa berhasil, padahal pengobatannya tak sesuai ilmu kedokteran yang dia pelajari. Toh, di Hindia Belanda minim obat-obatan modern, tak seperti di Eropa.

Pertanyaan seperti ini sebenarnya dipikirkan juga oleh banyak dokter Eropa lainnya. Bahkan, sudah sejak lama dokter Eropa merasa tersaingi oleh dukun. Menurut Hans Pols dalam Merawat Bangsa (2018) ketersaingan ini muncul karena persoalan akses pengobatan.

Baca: Sudah Jadi Mumi, Mayat Firaun Ini Punya Paspor untuk ke Luar Negeri

Biasanya dokter hanya ada di perkotaan, jauh dari tempat tinggal mayoritas warga yang berada di perdesaan. Selain itu, biaya dokter pun lebih mahal. Belum lagi, warga juga masih diselimuti ketakutan ihwal rangkaian pengobatan modern yang masih sangat asing. Dengan pertimbangan tersebut, praktis mayoritas orang lebih memilih berobat ke dukun.

Namun, Carl yang didasari oleh rasa penasaran teramat besar, berhasil mengamati praktik dukun secara seksama.

Sebagaimana dipaparkan Hans Pols dalam "European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation" (2008), Carl melihat dukun dalam praktiknya berupaya menebak penyakit berdasarkan gejala, lalu akan memberikan mantra dan obat herbal.


Baca: Ditemukan Makam Kuno Berusia 3.000 Tahun, Isinya Dukun Sakti

Bagi Carl, rangkaian pengobatan tersebut bertumpu pada obat herbal. Jadi, mantra-mantra hanya penyerta dan yang menjadi kunci adalah penggunaan obat herbal yang diperoleh dari tanaman lokal.

Akan tetapi, obat-obatan herbal tersebut hanya didasarkan pada kebiasaan dan pengalaman, bukan berdasarkan wawasan dan pengetahuan, sehingga perlu divalidasi oleh riset ilmiah.

Atas dasar inilah, Carl juga meneliti obat herbal yang dipakai oleh dukun atau masyarakat umum dengan output riset ilmiah.

Dokter Jerman tersebut lantas mencari informasi soal obat herbal. Dia banyak bertanya ke masyarakat biasa, pedagang, pasien-pasien, dan istrinya sendiri. Tak cuma itu, dia juga menjadikan diri sendiri dan pasien sebagai objek eksperimen hingga terbukti berhasil.

Baca: Peneliti Jerman Sukses Bongkar Misteri Kuntilanak, Begini Katanya

Singkat cerita, perjalanan panjang membongkar praktik dukun dan penggunaan obat herbal tersebut membuahkan hasil positif. Dia membukukan semuanya ke dalam karya berjudul Pratische Waarnemingen Over Eenige Javaansche Geneesmiddelen (Pengamatan Praktis Beberapa Obat Jawa).

Masih mengutip Hans Pols, karya tersebut mencatat seluruh obat-obatan herbal yang ada dan disandingkan dengan obat-obatan modern. Selain itu, dia juga mengkategorisasikan obat-obatan berdasarkan penyakit sesuai ilmu medis modern.

Keberhasilan Carl lantas membuat banyak dokter di Hindia Belanda menjadikan obat herbal sebagai salah satu pengobatan. Mereka jadi lebih mudah mencarikan solusi pengobatan penyakit modern dengan memakai obat herbal.

Beranjak dari sini, nama Friedrich August Carl naik daun di akhir abad ke-19. Dia pun tercatat sebagai dokter pertama yang membuat dan mempraktikkan pedoman pengobatan herbal ala Indonesia.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:
Video: AI Bantu Inklusi Keuangan, Bisa Telisik Profil Risiko Nasabah

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dari Kuburan Jakarta hingga Hutan Amazon, Penulis Ini Bagikan Makna Keberagaman
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Contoh Kata Sandi 8 Karakter yang Kuat dan Sulit Diretas
• 15 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Diduga Korsleting Mesin, Bus Terbakar di Tambun Selatan Bekasi | SAPA PAGI
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Ditantang Culik Putin, Begini Jawaban Trump
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Menari Melawan Zaman: Gek Ade dan Perjuangan Melestarikan Tari Bali
• 14 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.