Jakarta, IDN Times - Gelombang demonstrasi di Iran telah memasuki pekan kedua. Bukannya mereda, protes malah meluas dan memanas, akibatnya lebih dari 70 orang meninggal dunia.
Di tengah gelombang protes, nama Reza Pahlavi kembali mencuri perhatian. Putra mendiang Shah Iran itu muncul sebagai salah satu figur oposisi paling vokal, menyerukan rakyat turun ke jalan dan menantang langsung legitimasi pemerintahan Republik Islam.
Tokoh yang telah hidup di pengasingan hampir 50 tahun ini aktif menyampaikan pesan melalui media sosial, mendorong para demonstran untuk mempertahankan tekanan terhadap rezim. Seruannya bergema di tengah situasi yang makin memanas, ketika aparat keamanan Iran meningkatkan tindakan represif terhadap para pengunjuk rasa.
Pada saat bersamaan, pemerintah Iran mengakui keberadaan protes tetapi terus melakukan penindakan keras. Laporan kelompok HAM menyebut ratusan orang juga ditangkap akibat bentrokan dengan aparat keamanan di berbagai kota. Gelombang demonstrasi ini dipicu krisis ekonomi akut, terutama anjloknya nilai tukar rial, yang memperparah ketidakpuasan publik terhadap sanksi internasional, inflasi, dan tata kelola negara. Di tengah kekacauan tersebut, nama Reza Pahlavi kembali muncul sebagai simbol alternatif kepemimpinan Iran masa depan.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5469109/original/040554100_1768059599-InShot_20260110_145713718.jpg)
