Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mewaspadai adanya potensi pelambatan ekonomi pada pertengahan 2026 karena minimnya momentum pendorong pertumbuhan.
Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani memandang bahwa prospek perekonomian nasional tahun ini patut disikapi dengan optimisme yang tetap berhati-hati.
Pasalnya, terdapat potensi lonjakan ekonomi pada awal tahun seiring menumpuknya berbagai faktor musiman seperti tahun baru, hari raya Imlek, bulan Ramadhan, dan lebaran. Namun, risiko perlambatan dapat muncul selepas periode tersebut.
“Karena 2026 tidak memiliki one-off booster, pendorong struktural seperti konsumsi domestik, investasi, dan ekspor berbasis hilirisasi harus menjadi engine utama,” kata Shinta kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (11/1/2026).
Menurutnya, konsumsi domestik harus dijaga sebagai jangkar pertumbuhan, khususnya melalui pemulihan dan penguatan kelas menengah agar efek pengganda konsumsi kembali terasa.
Apabila daya beli kelas menengah dan kelas menengah ke bawah tak terjaga, dia menilai bahwa kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB akan sulit diperluas.
Baca Juga
- Punya Potensi Ekonomi Global, Presiden Prabowo Minta Hilirisasi Gambir Dipercepat
- Surplus Dagang Semu, Ekonom: Kontraksi Ekspor-Impor Sinyal Ekonomi Tak Sehat
- Bencana Sumatra Picu Gagal Panen, Kerugian Ekonomi Bisa Tembus Rp6,5 Triliun!
Shinta lantas menyinggung investasi sebagai pengungkit utama pertumbuhan ekonomi melalui kualitas dan dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja formal.
“Dunia usaha menilai bahwa keberlanjutan deregulasi, kepastian hukum, penurunan biaya berusaha, serta efektivitas transmisi kebijakan fiskal dan moneter ke sektor produktif dengan multiplier tinggi akan sangat menentukan,” lanjutnya.
Selain itu, dia menggarisbawahi bahwa ekspor harus diperkuat sebagai mesin pertumbuhan bernilai tambah melalui hilirisasi yang lebih terarah dan diversifikasi pasar.
Dunia usaha, menurutnya, melihat peluang ekspor hanya bisa dimanfaatkan jika daya saing domestik terus dibenahi, terutama terkait logistik, energi, pembiayaan, dan kepastian regulasi.
“Penguatan sektor padat karya juga menjadi penting agar pertumbuhan tidak hanya tercermin dalam angka PDB, tetapi juga dalam penciptaan lapangan kerja dan penguatan daya beli,” ujarnya.
Terakhir, Shinta menekankan pentingnya pembenahan struktural yang konsisten, alih-alih hanya dengan mengandalkan stimulus jangka pendek. Dengan demikian, pihaknya optimistis target pertumbuhan ekonomi dapat dikejar secara sehat dan berkelanjutan.
Berdasarkan catatan Bisnis, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut akan melakukan berbagai cara untuk bisa mendorong pertumbuhan ekonomi 2026 ke arah 6%, kendati target yang tercantum di APBN hanya 5,4%. Namun, tantangan di depan tidak semudah yang diperkirakan olehnya.
Purbaya mengatakan bahwa setidaknya ada tiga hal yang bakal fokus dilakukan oleh pemerintah untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Tiga hal tersebut adalah memacu belanja pemerintah, koordinasi fiskal dan moneter yang lebih erat dengan Bank Indonesia (BI), serta mengurai satu per satu hambatan usaha.
“Yang penting adalah ke depan dengan kebijakan yang semakin sinkron antara kami dengan bank sentral, ekonomi kita akan tumbuh lebih baik dari sekarang. Tahun 2026 harusnya pertumbuhan 6%, seperti yang saya bilang sebelum-sebelumnya tidak terlalu sulit untuk dicapai," terangnya kepada wartawan di kantor Kemenkeu, Jakarta, dikutip pada Kamis (1/1/2026).




