Jakarta, VIVA – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin cepat dan menjadi sorotan dunia, bukan hanya karena inovasinya, tetapi juga dampaknya terhadap pasar kerja. Banyak perusahaan, pemerintah, dan organisasi internasional mulai memperkirakan bagaimana AI akan mengubah dunia kerja dalam satu dekade ke depan.
Bagi pekerja dan pemimpin bisnis, memahami skenario ini penting agar bisa menyiapkan strategi adaptasi yang tepat.
World Economic Forum (WEF) baru-baru ini merilis laporan berjudul 'Masa Depan Pekerjaan di Era Baru: AI dan Ketenagakerjaan 2030', yang memetakan empat kemungkinan masa depan pekerjaan akibat AI.
Laporan ini menekankan bahwa sebagian besar skenario dapat menimbulkan gangguan besar bagi tenaga kerja, sementara hanya satu skenario yang benar-benar mengutamakan keterlibatan manusia dan penguatan keterampilan.
“Empat skenario ini bukan prediksi, tetapi kerangka kerja untuk membantu pemimpin menyiapkan ekonomi global yang terus berkembang,” ujar Saadia Zahidi, Managing Director WEF, sebagaimana dikutip dari Business Insider, Senin, 12 Januari 2026.
4 Skenario Masa Depan Pekerjaan 2030- Freepik
1. Ekonomi Co-Pilot
Dalam skenario ini, penggunaan AI meluas tetapi terukur. Pekerja memiliki keterampilan untuk menggunakan AI sebagai pendukung, bukan pengganti. Alih-alih menghapus pekerjaan sepenuhnya, AI merombak tugas sehingga manusia tetap terlibat dan peran tetap relevan.
2. Era Penggantian Massal
AI berkembang lebih cepat daripada kemampuan sistem pendidikan dan pelatihan ulang pekerja. Otomatisasi dijalankan secara agresif, sehingga banyak pekerja kesulitan mengikuti perubahan dan berisiko kehilangan pekerjaan.
3. Kemajuan Terhenti dan Produktivitas Tidak Merata
AI terus berkembang, tetapi manfaatnya hanya dirasakan sebagian perusahaan dan wilayah tertentu. Hal ini menurunkan kualitas pekerjaan di sektor lain dan memperlebar kesenjangan ekonomi.
4. Kemajuan Supercharged
Terobosan AI yang pesat mendorong pertumbuhan ekonomi dan inovasi, namun banyak pekerjaan lama menjadi usang lebih cepat daripada terciptanya pekerjaan baru. Alhasil, risiko disrupsi tetap tinggi meski ada peluang inovasi.
Para pakar dan pemimpin AI terbagi dalam prediksi mereka. Beberapa memperingatkan AI dapat menggantikan banyak pekerjaan kantor dalam beberapa tahun. Sebaliknya, ada yang optimis AI akan meningkatkan produktivitas, meski beberapa pekerjaan lama hilang.


